Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Ikhtiar Menjaga Santri

Neyla Hamadah 2 min read 118 views

Tahun sudah berganti, namun pandemi masih membayangi. Harapan kembali ke kehidupan semula terasa semakin menipis dan rasa putus asa bak angin yang menyusup masuk melalui jendela kamar dan menyergap dalam kesendirian, merayu hati untuk mengabaikan pandemi sebagai hal yang tidak lagi penting dipikirkan.

Kenyataannya banyak santri dan wali santri yang merasa pandemi sudah berlalu, pandemi dianggap sudah tidak ada, hanya karena di sekitar mereka tidak ada yang terkonfirmasi positif. Padahal, bisa saja karena di daerah mereka tidak ada satupun yang melakukan tes PCR. Bisa saja ada orang yang positif Covid-19 tanpa gejala, atau sakit dengan gejala yang mirip, tapi kemudian tidak dianggap itu Covid-19 sebab tidak melakukan tes.

Begitulah fakta kondisi di desa yang sarana kesehatannya terbatas. Kondisi ini memengaruhi lingkungan pesantren saya di desa. Saya acap kali bingung menghadapi kasus santri dan wali santri yang menganggap korona (mereka menyebut demikian) hanyalah sesuatu yang tidak ada dan hanya diada-adakan saja. Mereka memandang, kalau pun korona ada, jika sudah takdirnya mau bagaimana pun juga tetap akan mengenai kita.

Di sisi lain, saya diamanahi untuk menjaga ibu saya dan menjaga banyak orang. Saya harus mengetahui pergerakan orang-orang ke mana dan dari mana di lingkungan pesantren saya. Juga, apakah orang-orang tersebut disiplin menerapkan protokol kesehatan (3M) dengan tertib atau tidak. Ini saya lakukan sebagai bagian ikhtiar wajib seorang hamba Tuhan.

Perjuangan saya tak semata menghadapi korona, tapi juga menghadapi orang-orang yang meremehkan korona. Bagaimana saya harus bersabar dan tetap semangat dalam tugas ini, meski mendapati banyak yang tidak manut, mereka; orang-orang yang ada di sekitar saya sendiri, yang harus saya jaga.

Silahkan baca juga   Nabi Ibrahim dan Sikap Terhadap Informasi Irfani

Dalam pengajian Kiai Mustofa Bisri, beliau dawuh mengenai takdir: “Takdir adalah sesuatu yang sudah terjadi. Jika belum terjadi tentu saja kita belum bisa menyebutnya takdir. Lantas dari mana kita tahu bahwa itu takdir sementara sesuatu itu belum terjadi? Bahkan ada orang yang mengatakan di dalam rumah mati, di luar rumah juga mati, lebih baik mati di luar rumah. Bukan itu persoalannya. Kalau mau mati, mati sendiri tidak apa-apa. Persoalannya adalah orang itu egois hanya memikirkan diri sendiri, tanpa peduli terhadap orang lain. Mereka yang tidak mau memakai masker, tidak menaati protokol kesehatan adalah orang-orang yang merasa hebat, merasa kuat, merasa paling bertakwa dan mereka tidak berpikir apa yang dilakukannya justru ihtimam kepada orang lain.”

Man la yahtam bi amril mu’minin falaysa minhum. Bagaimana sebagai muslim, orang-orang yang selamat, menyelamatkan orang lain dengan mengasah kepedulian kita kepada orang lain. Jangan hanya memikirkan diri kita sendiri, kemudian mengabaikan orang lain. Kita musti peduli pada mereka yang sudah senja, dari orang tua kita, kakek-nenek kita, kiai, ibu nyai, guru-guru sepuh kita, tetangga kita. Apakah kalian tidak ingin menjaga mereka?
Jangan sekali-kali kita mengatakan bahwa kematian adalah takdir ketika kematian itu belum terjadi. Hal demikian termasuk kesombongan. Kita semua tidak lah tahu-menahu tentang takdir. Oleh karena itulah kita wajib memegang ajaran, dan ajaran itu adalah ikhtiar.
Adapun ketetapan yang terjadi setelah kita ikhtiar adalah kuasa Tuhan, bukan lagi kuasa kita. Ikhtiar adalah kuasa yang masih bisa kita lakukan.

Saya berkali-kali menyampaikan hal itu kepada para santri: apa yang bisa kita ikhtiarkan saat ini, lakukanlah dengan kesadaran, bahwa itu semua bagian dari ibadah. Memakai masker, mencuci tangan dan menghindari kerumunan di luar, adalah ibadah kita saat ini. Sebagai santri yang paham akan nilai-nilai agama, tentu saja apa yang saya sampaikan seharusnya tidak lagi perlu dipertimbangkan, melainkan dilakukan dengan penuh keyakinan, seperti keyakinan santri akan pertolongan Allah.

Silahkan baca juga   Positif Galau dan Galau Positif

Kalau pada akhirnya apa yang ditetapkan Allah ternyata berbeda dengan apa yang sudah kita usahakan, itulah takdir. Paling tidak, kita bisa mempertanggungjawabkannya kelak dengan sudah melaksanakan perintah Allah, yaitu kewajiban ikhtiar. Allah sudah memerintahkan, kiai sudah menyampaikan, tugas santri adalah manut kanthi iklas tanpa keraguan.

Jangan menunggu penyesalan datang di belakang setelah semua telanjur terjadi atau menunggu sesuatu terjadi terlebih dahulu untuk mengetuk kesadaran kita. Repotnya, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat kita harus bertanggung jawab. Kaum santri memiliki dua kali lipat tanggung jawab, karena santri adalah kaum yang mengerti hukum agama. Jika santri sudah tahu ilmunya tetapi tidak mengamalkannya, bahayanya akan mengenai seluruh umat manusia.

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.