Iman Tipis, Mental Tak Seberapa, Badan Kaku? Jangan Coba-coba Jadi Jamet, Deh

Berbicara masalah jamet mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Ya, jamet ini adalah seseorang (mayoritas pria) yang memiliki goyangan ‘ngebor akuser, aledduk, dan akincak,’ (red: Madura). Perlu diketahui bahwa menjadi jamet ini harus memiliki jiwa sedikit stres (bukan gila) artinya, harus pura-pura begok dan tak dengar atas bullyan orang. Kuat mental dan iman tebal bisa dikatakan syarat utama dunia perjametan. Dan yang lebih penting lagi kata orang Madura itu “lemmes tak gherre, matak enga’ lajhengan tak nemmoh angin”. Mau sekeren dan semantap apapun lagunya, jika kaki, bahu, tangan dan badan lainnya masih kaku bergoyang, yah…. nggak enak dilihat lah, Bosss!!! Yang melihat bikin pendek umur dan ginjal menipis.

Jamet adalah singkatan kata dari “Jajal metal” yang ingin berlagak keren dan wah. Walaupun kenyataan sebenarnya memang keren. Bukan ‘kering maupun kerrEEng’ (kering adalah sakit) kata orang Madura atau nyelloh chedak. Jadi, bagi orang yang melihat jamet goyang, tak sedikit orang-orang khususnya orang Madura menganggap orang itu lagi sake’ chedhak ben kasetanan (sakit kepala tingkat dewa dan kesurupan) “lebureh tibik ben, Cong”.

Ada juga yang bilang “Jamet Kuproy” yang mana kata kuproy ini adalah singkatan dari “Kuli Proyek”. Sebenarnya jamet ini bukan hanya pengangguran ataupun tukang kuli saja yang bergoyang ngebor disaat waktu cuti. Goyangan kaki lenggak-lenggok dan seret-seret maju mundur serta tangan melambai-lambai. Pokonya adem deh liatnya. Oppa Korea nggak bakalan bisa menirunya. Banyak juga dari kalangan pemuda SMA hingga Mahasiswa yang pintar joget Ding-Ding Badinding ini. Yang membuli pun bukan hanya kalangan pengangguran, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak sampai yang tua renta. Ya, apapun bentuk bullyannya, jamet tetaplah exis, tak mau dengar apa kata mereka dan tak kenal patah semangat memperlihatkan goyangan ciri khasnya. Jamet itu keren, tapi kenapa terus dibully,? berikut jawabannya.

Baju Kebesaran
Salah satu kesukaan jamet adalah ‘kalampih aber-keleber’ (baju kebesaran). Dan inilah mengapa orang-orang tak sedikit yang membulinya. Ya, ukuran bajunya hampir sampai kakinya. Orang Madura tak segan-segan bilang “Arapah matak angkuy ruku sakaleh” (kenapa nggak pakek mukena sekalian). Bajunya besar, badannya kecil dan kurus “Persis tan kotan” (kayak baju yang sudah tak layak pakai yang dipakek di sawah diikat dengan benang dan bambu sebagai pengusir atau penakut burung). Omongan ini-itu, cacian datang silih berganti, pokoknya menjadi jamet itu kudu kuat ati, mental plus iman, Bosss.

Jamet itu Asli Orang Madura, Yang Mencaci Pun Mayoritas Orang Madura
Banyak yang bilang jamet ini adalah dari Jawa, tepatnya dari Jawa Timur Madura, Bukan Korea. Dan orang-orang yang tak sungkan dan suka blak-blakan membulinya adalah orang Madura sendiri bukan orang Belanda. Banyak sekali jamet-jamet di Madura. Maaf, tidak bisa menyebutkan satu persatu, tapi tidak mengurangi rasa hormat kami kepada kalian para jameters Madura (lagi pula penulis nggak tau siapa namanya, hehehe). Salah satunya Udin Bara Bere asal Sumenep yang viral beberapa bulan yang lalu. Saya tau betul komentar pedas dari nitizen di instagram @madurakocak @madurareceh dan media lainnya pada masa itu.

Udin sebelum viral diundang ke Trans TV karena gojetannya mampu menghipnotis umat, ia dibully secara terang-terangan. “Engak Olak Lentheng, lebureh tibik, cemper reng toanah ben, Cong ka jogetnah, tarian tak madeteng racekkeh, goyang lencak”, dan semacamnya. (kayak ulat, keren menurut dia sendiri, orangtuamu bangga mempunyai anak seperti kamu, tarian penghambat rezeki, goyangan ranjang) dan buliyan pedas lainnya. Ya, orang madura kalau urusan buli-membuli memang sedikit barbar, wabil khusus masyarakat Indonesia.

Celana Sobek di Bagian Lututnya
Jamet ini kalau lagi membuat konten di Tik-Tok, WA, dan media lainnya, mayoritas celananya salpi atau peddhe (sobek dibagian lututnya). “Tak kellar melleh calanah se pekus yeh, ceik kelluh cong calananah, calananah ekakan tekos” (Nggak mampu beli celana yang bagus ya (kok sobek), jait dulu, Cong celananya, celananya dimakan tikus tuh).

Rambut Bagian Belakang Panjang dan Dilancipkan, Rambut Bagian Depan Berdiri Dilipat ke Atas
Jamet memiliki gaya potongan rambut yang khas, yakni dibonding panjang mirip rambut wanita, rambut depan dilipat ke atas lalu dilancipkan di bagian belakang rambutnya. kata orang Madura, “Diadhek Obu’en Manceng Meltas Mancelin”. Ditambah lagi rambutnya diwarnai atau disemir. Orang Madura tak segan-segan mengucapkan kata njelenih ples emote ketawa, kata wkwkwkw, ckckckck dan xixixixi.
“Engak buntoen ceren, obuk mera engak rengkerengan, engak cengkereh ajem, engak olar chendong ngik ke’ah” (kayak ekor kuda, rambut merah kayak bulu garangan, kayak jengger ayam , kayak ular cobra yang mau meyambar tangan manusia).

Apapun komentar dan bullyannya, Jamet tetap bergoyang dengan baju kebesaran dan warna rambut kemirah-mirahan dan tentu penuh penghayatan. Sebab prinsip jamet “Kiepaah make oreng acaca’ah apa’ah peih, cek engkok tak lanyala, tak marogi, mak lajuh oreng se rowet” (Biarlah orang berkata apa, yang penting kita (jamet) tidak mengganggu dan tidak merugikan orang lain.

Betul, Hidup bukan untuk membuat orang lain iri dan terkesan wah. Apapun bentuk kegiatannya, jika membuatnya bahagia? Kenapa enggak?

Hasil pun berbuah manis, sebut saja Udin Jamet Sumenep. Dibully habis-habisan, tapi bisa mengangkat nama keren dan terkenal lebih luas perjametan, mengharumkan nama baik Sumenep dan secara umum Pulau Madura. Cacian menjadi tepuk tangan. Yang membuli bisa apa, jika ada keberuntungan seperti itu, ya bisa merokok dan menyeruput kopi saja dan sam sambil berkata “Bile kok yeh semaso’ah TV keah” (Kapan ya, aku masuk TV juga). Lebih jelasnya masuk syutingan layar telivisi (bukan masuk ke layar TVnya hahahaha).

About Zubairi 1 Article
Pemuda asli Sumenep Madura | Orang yang sering makan nasi jagung.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.