Implementasi Filsafat Stoa untuk kaum Muda

Pendahuluan

Kata Filsafat sering kali kita dengar dari media-media Sosial kita, atau dari kawan kita dan sebagainya, filsafat selalu identic dengan kerumitan teorinya, semakin suatu teori rumit dan sulit maka akan semakin wah, atau menunjukan bahwa iniloh Filsafat, sering kali orang-orang menganggap belajar filsafat tidaklah terlalu penting selain buang-buang waktu untuk sesuatu yang rumit, pembahasan filsafat terlalu penting dalam kehidupan, dari pada kita memikirkan sesuatu yang rumit lebih baik kita fokus untuk mengejar cita-cita kita, atau membahagiakan orangtua, dari pada mempelajari yang rumit dan bikin kepala puyeng untuk memahami filsafat, yah itulah yang sebagian generasi muda katakan, mereka ingin fokus pada cita-cita yang mereka ingin raih.

anak muda dikenal orang yang sangat antusias untuk meraih apa yang diinginkannya termasuk untuk membahagiaan orangtuanya, namun apa jadinya jika cita-cita dan keinginan untuk membahagiakan orangtua justru berbanding terbalik, pasti kita merasa kecewa, gagal menjadi anak yang berbakti dan lainnya. Kita yang mengalami kegagalan sering kali iri kepada teman sebaya kita yang melangkah lebih jauh dari pada kita atau bahkan dibanding-bandingkan oleh orangtua kita, sehingga kita tidak menikmati hidup saat ini, dan salah satu yang menyenangkan adalah mimpi-mimpi yang dibayangkan namun ditampar oleh kenyataan bahwa cita-cita itu hanya angan-angan saja, dan kita mulai cemas akan masa depan kita, bagaimana nasib saya kedepan, apakah saya akan gini-gini saja kedepan. Itulah kira-kira yang menghantui generasi muda, mereka sudah menyerah terlebih dahulu dan merasa gagal. Namun seandainya generasi muda belajar filsafat tentulah hal-hal, atau kecemasan anak muda akan teratasi, maka dari itu penulis Mencoba interpretasi filsafat Yang ringan dan tidak rumit dan sangat penting untuk generasi muda saat ini yaitu filsafat Stoa, filsafat aliran ini bukan seperti filsafat Hegel, atau mungkin Heidegger, dan lain-lainnya, filsafat ini berangkat dari zaman Yunani kuno, Filsafat stoa pertama kali diperkenalkan oleh seseorang yang bernama Zeno,

Singkat Sejarah Stois

Stoic berasal dari bahasa Yunani Stoikos yang berati Beranda, hal ini mengacu pada Stoa Poikile atau beranda berlukis, dalam istilah orang awam stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian” Zeno Citium pada masa awal abad ke 3 SM, ada pula yang mencatat Stoikisme baru resmi pada tahun 108 sm.

Zeno adalah pedagang kaya dari siprus pada medio 300 tahun SM yang melintasi laut mediterania untuk menjual semacam pewarna tekstil berwarna ungu yang sangat mahal, biasanya digunakan untuk pewaran jubah-jubah raja. Malang tidak dapat ditolak, kapalnya karam dan semua dagangannya karam serta Zeno harus terdampar di Athena.

Implementasi Filsafat Stoa dalam kehidupan kaum muda

generasi muda akan tangguh menghadapi tekanan-demi tekanan, cobaan demi cobaan, jika menerapkan ajaran filsafat Stoa, dalam ajaran Stoa salah satu ajarannya adalah hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang diluar kendali kita, adapun hal-hal yang berada didalam kendali kita adalah [ tujuan hidup, Opini Pribadi, tindakan dan pikiran kita]. Misalnya orang lain menghina kita, kita tidak memiliki kuasa membungkam orang lain, tapi kita bisa berusaha tidak terpancing atau tersingung, sebab tersingung tidaknya kita itu ada dikenali kita, dan kita tidak bisa menghentikan orang lain menghina kita karena diluar kendali kita.

dalam ajaran agama Islam terdapat konsep bahwa kita harus berserah dan berharap kepada Allah SWt, hal ini dinamakan Konsep Tawakal, namun demikian bukan dalam artian kita pasrah terhadap nasib kita atau berdoa kepada Allah SWt saja tanpa melakukan apapun, sebelum kita tawakal kepada Allah SWt haruslah kita melakukan Usaha atau Ikhtiar untuk meraih apa yang kita inginkan barulah setelah ikhtiar dan usaha kita serahkan semua pada Allah SWT, penulis ingat perkataan Aagym yang merupakan salah satu ulama Indonesia yang mengatakan “ketika kita inginkan sesuatu haruslah usaha, dimana kita badan melakukan Usaha atau IKhtiar sedangkan hati berharap penuh Kepada Allah SWT”. Hal ini pula sesuai dengan Firman Allah SWT yang artinya “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum tersebut merubah keadaan mereka sendiri” { QS. Ar- Ra’d Ayat 11]. Maka dari itu kita sebagai generasi muda haruslah mencoba dan terus mencoba karena itu merupakan bentuk dari memaksimalkan apa yang berada dalam kendali kita, jangan pernah melihat kisah orang lain, tapi mulailah bangun kisah sendiri dan cintailah hidup kita, adapun cibiran tetangga atau sebagainya itu diluar kendali kita sehingga semestinya kita fokus dengan apa yang berada dalam kendali kita, Filsuf Epitectus mengatakan “ Tugas Utama dalam hidup adalah mengenali dan memilah mana hal-hal Eksternal yang berada diluar kendali kita dan mana hal-hal yang masih berada dalam kendali kita yang bisa kita pilih” kita sebagai generasi muda perlulah terus berusaha jangan takut akan masa depan kita jalani hari ini dengan sungguh-sungguh karena kita masih muda, muda ibarat sedang bercocok tanam sedangkan hasilnya akan kita rasakan dimasa depan, tak peduli jadi apapun atau bagaimana takdirku kedepan tugasku sebagai anak muda adalah berusaha dan terus mencoba dan berdoa.

Kesimpulan

Kiranya jika kita generasi muda belajar filsafat dan memperaktekan filsafat dalam kehidupan maka kita akan mampu mneghadapi segala masalah-masalah dalam hidup dan dengan kita belajar filsafat bisa membuat kita berfikir luas serta dan mulai mencintai hidup ini, penulis teringat salah satu ucapan Epitectus yang mengatakan “Jangan jelaskan Filsafat hidupmu, tapi peraktekanlah’’ arti kata ini adalah jangan hanya kita belajar saja tapi belajarlah dan peraktekanlah apa yang kita pelajari sehingga kita menjadi manusia tangguh dan penuh tanggung jawab terkhusus kita generasi muda, kaum muda akan menjadi pemimpin-pemimpin negeri dan menganti generasi sebelumnya, anak muda menanggung atau memikul takdir kedepan suatu negara.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.