Budaya

Ini Budi: Perkara Hilangnya “Budi” di Tengah Masyarakat

Membicarakan moral tentu erat kaitannya dengan pendidikan, walaupun pendidikan sendiri tidak melulu soal moralitas. Perkembangan zaman tentu sedikit banyak akan memberikan dampak pada moralitas masyarakat. Maka tidak heran lalu dunia pendidikan mesrespon (walaupun bisa dikata respon yang terlambat) dengan perubahan dan gonta-ganti kurikulum pendidikan nasional.

Perkara merosotnya nilai-nilai moral pun menjadi keprihatinan sendiri bagi dunia pendidikan, namun kadang respon yang terlalu responsif cenderung menjadi respon yang kurang bijak. Maka jangan kaget ketika dunia pendidikan kini menjadikan moral hanya sebatas wawasan. Jadilah moral hanya berujung pada nilai ujian yang bagus, namun penerapannya dalam masyarakat nihil.

Jika sudah melihat realita moralitas yang seperti ini, maka sudah barang tentu romantisme-romantisme muncul, sembari meraba-raba apa yang luput oleh instansi pendidikan masa kini. Seperti halnya ketika ketidakpuasan dialami beberapa kalangan terhadap pemerintahan hari ini, sebab itulah muncul slogan-slogan romantisme yang jamak ditemui di bokong-bokong truk, “jek penak jamanku to”. Dalam dunia pendidikan pun juga mengalami serangan romantisme yang seperti demikian. Terlebih ketika melihat sekolah gagal menyadarkan bahwa etika baik tidak hanya dilaksanakan kala sedang ada di hadapan dengan guru semata.

Pembaca yang budiman, dulu saat sekolah dasar barangkali kita mempunyai pengalaman yang seragam tentang belajar membaca. “Ini Budi”, “ini ibu Budi”, atau “ini ayah Budi” guru sambil menunjuk papan tulis, dengan rotan atau penggaris panjang. Ketukan ritmis pada tiap huruf, dan sim salabim semua murid serentak mengikuti gerakan rotan dengan mengucapkan “ini Budi” dan seterusnya.

Menjadi ihwal penting manakala “ini Budi” tidak lagi ditunjuk pada papan tulis. Saat murid telah dewasa, Budi tidak lagi ditunjuk di papan kapur. Budi adalah hati, hati mengendalikan laku. Maka budi adalah laku.

Wocoen   Membahas Pluto memang lebih Mudah daripada Cuci Piring di Rumah

Di sinilah pintarnya orang dulu menanamkan moralitas tanpa terasa. Seolah memang nampaknya anak hanya diajari baca dan menulis, namun tanpa disadari benih-benih moral telah ditanamkan, dengan harapan kelak dia akan tumbuh subur dan menyatu dengan pribadi si anak yang dididik tadi. Namun harapan tidak selalu berbuah manis, banyak nilai-nilai yang dulu ditanam, lalu pasca pendidikan sekolah usai nilai-nilai tadi mati dan tidak berbuah dalam kehidupan hari ini.

Barangkali budi menjadi hal yang seconder, dunia pendidikan akademis telah meninggalkan budi. Budi kemudian menjadi value mahal yang dibebankan penuh pada budaya. Kini budaya dan pendidikan terlihat terpisah atau sengaja dipisah. Budi tidak lagi menjadi bagian dari pendidikan meskipun segala konsep dan formula diciptakan baru-baru ini.

Banyak komponen katanya yang menyebabkan istilah budi luhur telah hilang luhurnya. Orang tua dan lingkungan, pendidikan serta pergaulan, dan sialnya pergeseran nilai ini banyak yang tidak peka. Muluk-muluk berbincang politik, padahal jalan perkampungan dilewati kebut-kebutan. Padahal rambu-rambu telah dipasang, rambu-rambu kebendaan dan kebudayaan misal polisi tidur, buk-buk, dan pos kamling lengkap dengan orang “jagongan”.

Menyikapi lapu rambu-rambu lalulintas pun begitu, sudah menjadi kesepakatan budaya bahwa ketika lampu kuning menyala itu berarti tanda bagi pengendara untuk pelan-pelan dan mempersiapkan berhenti demi menyambut datangnya lampu merah. Namun dalam kenyataannya kala lampu kuning menyala maka kendaraan pun lebih dikebut dan lebih cepat daripada ketika lampu hijau menyala. Bahkan belakangan ada yang lebih parah lagi, kala lampu merah sudah menyala masih diterobos saja, mungkin dalam benaknya mumpung lampu merah masih baru menyala.

Tentu contoh-contoh yang terpapar di atas erat kaitanya dengan Budi pekerti yang telah kehilangan komponen keluhurannya di banyak individu. Ini adalah PR besar bagi setiap orang tua, tokoh masyarakat, para pemerhati budaya, para pemerhati dunia pendidikan, para pemerhati sosial, para guru dan seluruh elemen masyarakat, yang entah kapan PR itu akan rampung secara paripurna. Tapi bagi masing-masing dari kita semua sebagai manusia, berbudi adalah kewajiban, bukan lagi PR yang bisa dikerjakan nanti, maka garapannya adalah saat ini, dan dimulai dari diri ini sendiri.

Wocoen   EGO

Yah, bagaimanapun budi adalah budi. Budi bergaya sesuai dengan zamannya.

Tags

Nila Iliyyatuz Zulfa

Gadis kelahiran pasuruan, lulusan MMA Bahrul Ulum dan sekaligus lulusan jurusan sejarah Universitas Negeri Malang, dan pernah aktif di komunitas diskusi warung kopi "rumah darurat".

Related Articles

2 Comments

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close