Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Islam Adalah Agama Cinta Kasih

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

cangkrukan karo guyon

Memang benar apa yang ditulis oleh KH. Abdurrahman Wahid dalam bukunya, Islamku Islam anda Islam kita, bahwa kekerasan dan ekstrimis dalam beragama bersumber atau disebabkan oleh pendangkalan. Entah itu dangkalnya pemahaman ketika mempelajari islam atau dangkalnya pengetahuan tentang Islam. Saya sering penasaran yang lalu berujung kepo menulusuri Facebook para “ciber army” yang melakukan jihat bullying di kolong komentar Facebook orang yang kebetulan bersebrangan pemikiran dengan mereka. Hampir semua yang saya lihat memang lah orang-orang yang baru mengenal Islam kemarin sore, dan rata-rata tidak memiliki keilmuan tentang islam yang memadai. Yah, dari pada ia merampok dan  memperkosa, menebar kebencian (melakukan jihat bullying) tapi dengan niat “yang baik” mungkin menurut sebagian orang itu lebih baik.

Bapak Jonru yang dulu ahli bully di Facebook pun, yang pengikutnya syudah ribuan, dan dia sendiri syudah di-guru-guru-kan oleh para pengikutnya, pemahaman tentang islamnya pun sangat menyedihkan sekali, begitu dangkal. Orang seperti ini rata-rata berpandangan bahwa memahami Islam itu hanya bisa kalau belajar langsung dari sumbernya, Al-Qur’an dan hadist. Memahami Islam dari tafsir, fiqih, syarah hadist, dan beragam ilmu pendukung itu mereka pandang tidak tepat, bahkan sejenis bid’ah menurut mereka. Akan tetapi orang-orang seperti ini membolehkan pengikutnya membeli dan mempelajari Islam dari buku (bukan Al-Qur’an dan hadist) dari golongannya mereka sendiri, begitu berkelamin ganda pemikiran mereka.

Yang ahli dari orang-orang ekstrimis ini akan memahami Al-Qur’an kadang begitu polos kandang pula seenaknya sendiri, sebagai contoh pemahaman mereka terhadap surat Al-Fath ayat 29, yang mereka pahami secara gebyah uyah semua kafir di dunia ini harus dibenci, tanpa mau mencari tahu kafir yang seperti apa? Kafir di sini itu kafir di zaman mana? Atau kafir di daerah mana? Mereka beranggapan sema itu non-muslim maka harus disikapi dengan keras. Maka tidak heran mereka akan mengecam, membuly, memperolok orang-orang yang bersikap lembut terhadap non-muslim.

Wocoen   Pendidikan Islam: Sebuah Upaya untuk Memperbaiki Moral Bangsa

Mereka lebih mementingkan tampilan luar dari pada ahlak, mereka lebih tertarik dengan berpenampilan islami dari pada berahlak yang islami. Boleh lah jidat hitam, berkopyah dimana-mana, berapakaian yang islami, tapi kalau hatinya masih sejahat dan sekasar preman saya kira kok sama menakutkannya.

Yang saya heran lagi, ahir-ahir ini kok banyak orang dengan pedenya memakai gamis dan bersurban serta berimamah, dan semakin terkikisnya gaya sederhana yang sok bilang “Yang penting hatinya”. Sepertinya gaya-gaya sufi keblinger ini sudah banyak tidak diminati, orang lebih memilih berpenampilan yang “nyunnah”. Yah aneh sih, kulit kacang dianggap lebih penting dari pada isinya.

Sudahkah mereka pahami membuli dan menebar hoax serta meg-hoax-hoax-kan berita yang benar adalah suatu hal yang tidak islami? Sudahkan mereka pahami bahwa bersikap preman dengan atas nama islam itu masih tidak islami??? Sudahkah mereka pahami memamerkan kebaikan diri sendiri dan menghina orang lain yang tidak bisa sebaik dia, itu tidak islami??

Agama Islam datang bukan perkara untuk mengurusi tampilan fesyen dan berjualan gamis serta kerudung. Lebih dari itu, Islam datang untuk membenahi ETIKA, entah itu etika hamba dengan Tuhan, atau pun etika antar sesama hamba. Nabi pun pernah menegaskan bahwa beliau diutus dimuka bumi ini untuk utammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan dan membenahi nilai-nilai etika yang ada di buka bumi ini.

Oleh karenanya, saya rasa mereka yang dangkal pemahamannya kala mempelajari Islam atau mereka yang dangkal pengetahuannya tentang Islam, memang harus benar-benar mempelajari kembali ajaran Islam secara mendalam, sebaiknya di pondok-pondok pesantren, saya sarankan di pondok-pondok tarekat. Agar mereka bisa melek dan tahu bahwa Islam adalah agama cinta kasih.

Wocoen   Bahasa: jembatan intelektualitas dan sosial masyarakat
Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.