Ahmad Hasanuddin (Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Islam dan Semangat Pembebasan

Ahmad Hasanuddin 2 min read 0 views

petani-demo

Relasi antara kelas yang berkuasa dan dikuasai, antara yang ditindas dan menindas, antara mereka yang menghisap dan terhisap sudah ada sejak dahuku kala. Bahkan jika ditarik lebih jauh persoalan tersebut sudah ada sejak permulaan manusia ada. Penghisapan dan penindasan adalah bentuk dari ketidak adilan yang terjadi, baik oleh kelompok satu terhadap yang lain, maupun oleh manusia yang satu terhadap manusia yang lain.

Hal ini terjadi karena sikap rakus manusia yang selalu ingin memiliki lebih atas sesuatu dengan menyingkirkan orang lain. Bahkan cara cara kotor akan dilalui untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

`           Sejarah manusia bagi Marx adalah sejarah tentang perjuangan kelas. Perjuangan antara yang terhisap melawan lintah penghisap (manusia serakah). Meskipun sebenarnya masih banyak tafsir dalam memahami apa itu kelas dalam makna yang dijelaskan oleh Marx sendiri. Saya lebih menafsirkan kelas dalam ungkapan Marx sebagai bentuk perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan untuk mencapai keadilan.

Karena sepehaman saya, Marx menawarkan formulasi pemikirannya berangkat dari proses ketidak adilan yang terjadi di Eropa saat itu dengan menganalisis proses penghisapan yang dilakukan oleh kaum pemodal terhadap proletar. Dengan kondisi sosial itulah Marx mencitakan suatu tatananan masyarakat yang berkeadilan sosial. Sejarah perjuangan kelas untuk mencapai masyarakat tanpa kelas dalam interpretasi saya adalah suatu cita cita menuju masyarakat yang adil. Bukan masyarakat yang saling menghisap antar sesama.

Banyak sejarah yang menunjukkan tentang praktek penindasan manusia yang satu atas manusia yang lain. Salah satunya dengan penggambaran yang cukup apik, dalam cerita Ali Syariati. Suatu saat Ali Syariati dalam salah satu bukunya menceritakan tentang pengalamannnya ketika ia berkunjung ke Mesir.

Wocoen   Nabi Ibrahim dan Sikap Terhadap Informasi Irfani

Di sana ia melihat kemegahan piramida- dan spinx yang dibangun ribuan tahun yang lalu. Dengan sikap kritisnya Ali Syariati tidak berhenti dengan menikmati kemegahan dan keindahan bangunan yang menjulang tinggi tersebut. Justru dari kemegahan itulah ia  berefleksi dengan begitu dalam dan meratap dengan begitu sedihnya. Ia menangis, dan merenung, banyak manusia tidak sadar bahwa sebenarnya kemegahan itu di bangun diatas penderitaan kaum kaum budak.

Ia menjelaskan ada ribuan bahkan puluhan ribu budak yang melayang nyawanya untuk proyek ambisius Rezim Firaun yang yang dholim saat itu. Berapa banyak budak yang terhimpit batu batu spinx dan piramid untuk kepuasan Firaun semata. Ada relasi penindasan dan penghisapan yang terjadi antara Fir’aun dan kaum budak tersebut. Itulah refleksi Syariati ketika ia mendoakan saudaranya yang mati untuk kemegahan piramyd. Bagi Syariati budak adalah saudara sesamanya yang selalu ditindas dan dihisap yang harus segera ditolong.

Jauh setelah masa kebiadaban Firaun, kita akan melihat kembali bagaimana relasi penghisapan dan penindasan itu terjadi kembali. Masyarakat Arabia pra Islam adalah masyarakat yang begitu jahiliah dalam penggambaran sejarah yang sampai kepada kita saat ini. Masyarakat arab pra Islam digambarkan oleh Ir. Asghar Ali sebagai masyarakat yang begitu tidak adil. Terjadi ketidak adilan pada masyarakat arab saat itu. Dengan adanya kelas kelas sosial yang lahir dari kondisi ekonomi saat itu.

Kelas kelas sosial itu berupa kaum bangsawan, pedagang besar, pedagang kecil, kaum buruh hingga kaum budak belian. Kelas kelas tersebut lahir dari kondisi ekonomi yang begitu curang dan sangat cacat. Terjadi monopoli ekonomi yang begitu parah. Praktek riba dalam jual beli menjadi sangat biasa saat itu. Kondisi penghisapan secara ekonomi inilah yang memperlebar jurang antara mereka yang kaya dan yang miskin. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Bahkan menjadi budak yang tak tak lagi mereka. Relasi relasi kelas yang lahir yang karena praktek ekonomi yang tidak adil itulah menimbulkan penghisapan penghisapan dan ketidakadilan dalam tatanan masyarakat.

Wocoen   Perangi Para Pembunuh Tuhan

Kaum Quraiys adalah suku yang begitu berkuasa saat itu. Mereka menjadi tuan dan menjadi bos bos besar yang memiliki banyak budak dan gundik. Dengan sistem ekonomi yang curang mereka memperkaya diri dan memiskinkan yang lain. Ketidak adilan terjadi dimana mana, bahkan dampaknya adalah moral masyarakat arab yang begitu bobrok. Dalam tradisi Arab sebelum datangnya Islam, bayi perempuan yang baru lahir bahkan dikubur hidup-hidup, karena dianggap lemah dan tak mendatangkan keuntungan.

Bagaimana konstruk ini lahir? Cara berpikir yang memarjinalkan kaum perempuan dalam masyarakat Arab saat itu lahir dari kondisi ekonomi dan praktek sukuisme yang begitu kuat. Untuk mempertahankan keadaan ekonomi atau kapital yang mereka miliki tak jarang terjadi peperangan. Perempuan dianggap lemah tak memiliki kemampuan untuk berperang dan mempertahankan kehormatan sukunya. Makanya perempuan dikubur hidup-hidup, karena dianggap tak berguna apa-apa.

Ahmad Hasanuddin
Ahmad Hasanuddin (Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.