Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Jalan Panjang Perdamaian

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

Jalan-Perdamaian

Konsep menebar perdamaian dan kasih sayang pada seluruh mahluk Tuhan, rupanya selama ini terkesan masih hanya ada dalam hayalan dan angan belaka. Jangankan kasih sayang kepada seluruh mahluk, kepada sesama manusia saja masih saling bercekcok. Hampir-hampir setiap saat dan setiap waktu ada saja pertengkaran, baik pertengkaran kecil ataupun pertengkaran besar, seolah-olah tiada alasan untuk tidak bercekcok dan bertengkar.

Sama-sama manusia tapi yang satu punya Tuhan yang satu tidak bertuhan, lantas membuatnya saling berselisih dan melakukan pertengkaran. Sama-sama punya punya Tuhan, namun beda agama, bertengkar lagi. Beragama sama, tapi yang satu berkeyakinan boleh bermadzhab, yang satu bilang tidak boleh bermadzhab, lalu jadi alasannya untuk mulai saling memaki dan bertengkar. Sama-sama membolehkan bermadzhab-nya, tapi beda imam madzhab yang diikutinya, lalu dijadikannya alasan untuk saling menyalahkan dan mulailah pertengkaran atas nama perbedaan madzhab.

Madzhabnyasudah sama, cuma beda pilihan calon gubernurnya atau pilihan president-nya, saling olok lagi. Maka sepertinya bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk pertengkaran, hidup ini  belum bisa dinamakan hidup jika belum ada pertengkaran serta terkesan kurang asik, kurang berkesan, dan kurang rame. Seolah hidup tanpa bertengkar seperti sambal tanpa cabai.

Sudah lah, bagi manusia berbeda itu adalah sebuah  kepastian, jangan lantas beda dibuat alasan pertengkaran. Orang yang kembar aja punya perbedaan, apa lagi yang tidak kembar. Jadi kalau perbedaan dijadikan alasan pertengkaran, maka di dunia yang penuh akan keberagaman ini, dengan siapa anda akan berdamai. Sudah lah, hidup lebih indah dan tentram jika kita sesama manusia saling sapa, saling senyum, saling beramah-tamah. Bukan lah pemandangan yang elok dan menentramkan hati jikalau tidak henti-hentinya antar sesama saling perang dingin, tidak saling sapa ketika berhadapan, saling ejek dan menghina ketika berjauhan, di medsos pun saling olok dan adu hinaan.

Sudah lah, bukankah saling memaafkan dan bekerja sama demi kebaikan bersama itu lebih bermanfaat? Mencari siapa yang salah dan siapa yang benar bukanlah sebuah solusi dalam pertengkaran. Karena dengan dalih yang dikemas apik siapa saja bisa mengaku dan dianggap benar, dan siapa saja bisa jadi seolah salah. Maka mengesampingkan ego dan menimbang kemaslahatan bersama adalah solusi terbaik.

“Tapi bagaimana lagi, saya tidak terimaa, saya tidak dihargai, dia tidak merasa bersalah, saya dizalimi”. Syudah lah engko lak kuwalat-kuwalat dewe, gusti Allah gk sare (kelak dia pasti dapat pembalasanya sendiri, Tuhan maha tau kok). “Tapi bagaimana kalau nanti negeri ini dipimpin ini” “Tapi bagaimana kalau dipimpin oleh anu” “Tapi bagaimana kalau dia keterusan jika dibiar-biarkan” “Tapi bagaimana jika nanti jadi bla bla bla”, sudah lah opo jare seng ngecet lombok ae (biarlah Tuhan yang ngatur, serahkan saja padaNya).

Rasa-rasanya hidup tetap asyik walaupun tanpa adanya pertengkaran, hubungan tetep bisa romantis walaupun tanpa dibumbui pertengkaan. Sudah lah, hidup dengan banyak teman terasa lebih baik dan lebih indah dari pada hidup dengan banyak musuh. Bertengkar seperlunya saja & sebutuhnya saja, saya kira tidak ada yang merasa perlu dan butuh bertengkar kan?

Maka, belajar menjadi dewasa dan mengesampingkan ego adalah awal menapak pada jalan panjang perdamaian. Pertengkaran dan peperangan pada setiap kasus memiliki berbagai alasan dan latar belakang yang kompleks. Menguraikannya sendiri tentu akan membutuhkan waktu yang tidak kunjung usai. Oleh karenanya belajar menjadi dewasa dan mengesampingkan ego yang ter-ejahwantahkan dalam kesadaran untuk saling mengalah adalah langkah sederhana menuju jalan panjang perdamaian.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.