Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Jalan Pendidikan Anak Tergantung Ridha Orang Tua

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 0 views

ayah ibu kakak adik

     “Pak ustadz curhat boleh?” sekonyong-konyong gadis itu mengagetkan lamunanku. wkwkwk jelas anak ini tidak tahu bahwa saya adalah pendengar yang tidak baik. belum lagi saya bukanlah orang yang bisa menganalisis sebuah masalah dengan tajam, serta bukan juga orang yang bisa memberikan solusi yang kreatif, bahkan tidak bisa memberikan solusi dan cenderung memperkeruh masalah yang ada, malangnya nasibmu nak.

    “ya silahkan” jawabku pendek sambil terbahak-bahak dalam hati. saya tidak bisa membayangkan mimpi apa semalam anak ini, kok bisa-bisanya saya dijadiin tempat curhat. bagi saya mendengarkan curhat adalah hiburan, ternyata yang sumpek dalam hidup ini bukan cuma saya seorang. yah, tapi bagaimana pun, mendengarkan keluh kesah orang lain kadang menjadi hal yang penting. saya yakin selain karena kebanggaan, orang yang melakukan bunuh diri di hutan Aokigahara Jepang itu adalah orang-orang yang tak punya tempat untuk curhat. jadi bisa diambil kesimpulan, dengan mendengarkan curhat seseorang ada kemungkinan kita bisa membantu mengurangi angka bunuh diri di dunia ini.

    “Saya itu pengen belajar di pesantren pak tapi ga boleh” ucap dia pendek, dan saya pun cekikikan menahan tawa. pertama, kirain sesuatu yang disebut dengan belajar di pesantren itu adalah keinginan orang tua yang dipaksakan pada si anak, ternyata pikiran pendek tersebut terbantahkan oleh anak ini. kedua, saya kagum pada anak ini, bukan asmara yang bikin dia galau seperti umumnya anak seusianya, akan tetapi keinginan untuk belajar di pesantren yang belum bisa dia raih.

     “Gatau pak, mosok yo pak mondok iku kan apik ya. Tapi ga oleh. Aku malah dilokne wong manja unu kok njaluk mondok (nggak tahu pak, belajar di pesantren kan bagus, tapi malah orang tuaku meledeku, anak manja gitu kok mau mondok) ? Justru iku pak aku pengen mondok ben mandiri. Kok tambah dilokne ngunu. (justru saya ingin mondok itu agar bisa mandiri, kok malah diledek begitu) “ jawabnya setelah saya tanya apa alasan kenapa tidak diperbolehkan. yah, di sini lah letak kenyataan hidup yang sesungguhnya. sebaik dan seidealis apa rencana hidup kita, pada ahirnya akan goyah bahkan runtuh kala menemui realita. anak ini mempunyai rencana yang baik untuk menggembleng kematangan jiwanya, tapi tetap saja dia sebagai anak akan kalah telak ketika berseberangan kehendak orang tua. begitu juga ketika berencana dalam hidup ini, semua itu akan pupus ketika berhadapan dengan pahitnya kenyataan.

Wocoen   Bengis

    sebagai orang tua, tentu kedua orang tuanya mempunyai pertimbangan yang matang ketika akan memberikan idzin anaknya. akan tetapi jangan sampai kita terkesan terlalu memaksa kehendak kita kepada anak. baiknya, biarkan anak berkeinginan menjadi apa yang dia inginkan. tugas kita sebagai orang tua adalah membimbingnya dan memoles agar apa yang dia cita-citakan terwujud dan memperoleh final yang baik.

    “emang kenapa kamu kok pengen belajar di pesantren ? apa enaknya belajar di pesantren, di rumah saja bisa belajar ?” “belajar di pesantren itu enak pak. Saya pengen memperdalam ilmu agama, Tpi saya serius pak, temen-temenku banyak yg belajar di pesantren dan saya ingin merasakan apa yang mereka rasakan” dari sini kita dapat mengetahui betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap anak, terlebih dengan siapa dia berteman. dalam konteks yang lebih luas, kalau pengen anak kita gandrung membaca dan menulis ya carikan lingkungan dan teman yang gandrung membaca dan menulis. bukan hanya baca tulis saja, kiranya ini juga bisa diterapkan pada banyak hal lainya.

    “sampai sekarang saya masih pengen banget pak. Terkadang saya kalau lewat tambak beras itu saya merasa iri dengan mereka-mereka yang beruntung bisa belajar di pesantren” yah, begitulah sekilas gambaran betapa besarnya keinginan anak ini. saya tidak bisa menjamin dia akan merasa beruntung dan bisa menikmati hidupnya jika seandainya keinginan dia belajar di pesantren bisa tercapai. tapi yah begitu lah hidup, banyak rencana Tuhan justru kelak berbuah lebih indah dari pada apa yang kita angankan. kadang menerima apa yang telah terjadi dan bisa mensyukurinya itu lebih indah.

Wocoen   Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

    dapat kita ambil kesimpulan, kecewa itu lahir dari keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. manusia memang dari awal adalah mahluk yang lemah dia tak mampu menentukan hasil akhir dari segala sesuatu secara 100%. tapi gitu-gitu yang bikin kerusakan, yang bikin ketidak adilan, korupsi, nepotisme, kolusi, dan lain-lain juga manusia, jadi sebenarnya manusia itu lemah apa enggak sih? Ah jadi ambigu kan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.