Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, dan ibtimes.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, dan media-media lain

Jeruji Tirani

Ardhi Ridwansyah 29 sec read 70 views

Suatu hari debu ringkuk,
Di wajah pemulung yang menung di depan ruko.
Seteguk air hapuskan dahaga tandus,
Namun bilas pula segala mimpi,
Yang ia cita-citakan dulu.

Sederhana kaus yang dipakai,
Senada dengan sesuap nasi yang jatuh,
Di perut berirama keroncong.

Mengikuti angin berjalan,
Gontai langkah datang pada setiap tong sampah,
Harta karun yang ia temui; plastik, kulit pisang, kondom,
Dan lalat hijau beterbangan sergap hidung,
Lantas mengetuk dengan aroma galak.

Klakson saling bernyanyi,
Tiada peduli, tetap saja baginya sunyi,
“Hidupku sudah begini, apa artinya mimpi?”
Yang ia tahu, damai dan sejahtera ada pada,
Orang-orang berdasi, berambut klimis.

Kosakata tersusun rapi,
Serta parfum mencolok hidung,
Merayu jiwa untuk bersimpuh di kaki,
Mohon janji segera dilunasi.

Nyatanya, hanya kumpulan pendusta,
Gemar korupsi dan layaknya babi,
Segalanya bakal dikonsumsi,
Tanpa mengerti hati yang lain,
Kita terpasung jeruji tirani.

Jakarta, 2020

Silahkan baca juga   Puisi Kisah Perjalanan Hendri Krisdiyanto
Ardhi Ridwansyah
Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, dan ibtimes.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, dan media-media lain

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.