Jomblo Harus Menulis

Anda jomblo? Tidak punya pasangan? Sama. Saya juga. Tapi bedanya saya menulis, tapi Anda mungkin tidak. Kenapa saya bilang jomblo harus menulis? Jawabannya sederhana; biar waktu tidak habis tanpa bernilai produktif. Tapi mungkin itu adalah jawaban yang terlalu muluk. Itu bisa saja menjadi alasan ketika kita sudah menemukan manfaat menulis. Namun tidak untuk pemula. Ibarat membuka lahan baru kita harus berani “ngawur” dulu.

Seperti saya sendiri, tampang pas-pasan, prestasi juga pas-pasan. Alhasil saya jomblo. Saya minder. Akhirnya saya iseng-iseng. Apa yang saya lihat saya tulis. Apa yang saya alami saya tulis.

“Oh, Handphone, kenapa kau tidak kunjung berbunyi? Tidakkah kau tahu tuanmu menanti? Sekadar SMS dari operator pun tak apa”. Demikianlah kiranya saya awal menulis.

“Sepiku tak apa, tanpa hasrat, tanpa kerinduan. Aku benci riuh, karena ia meninggalkan perenungan. Wahai jagat raya, saksikanlah! Aku bersamamu menikmati indahnya pelukan Tuhan.”

Sudah. Tak bisa saya teruskan lagi. Karena memang saya pemula. Belum mahir otak-atik kata. Tapi ini saya lakukan ajeg. Setiap hari tangan saya gatal untuk menulis. Dan untungnya saya turuti sekehendak hati. Akhirnya saya yang sebelumnya kerasan di tongkrongan mulai tidak betah. Saya ingin bercengkrama lagi dengan diri saya sendiri.

Saya mulai tidak begitu menyesali perihal kejombloan ini. Salah satu alasannya ya karena saya sudah tidak lagi sering hadir di tongkrongan teman-teman. Sebagaimana kita tahu sendiri, tongkrongan bisa sangat mengasyikkan, tapi bisa juga sangat kejam. Olok-olok, bercandaan yang menyinggung perasaan kerap kali terlepas tanpa sadar. Meskipun mereka berdalih kadang hidup juga harus ditertawakan. Tapi saya selaku korban entah kenapa selalu merasa baper.

Waktu terus berlalu. Saya mulai bisa merangkai lebih banyak kata lagi. Meskipun ya hanya masalah sepele sih. Kursi, meja, ayah, ibu, sekolah, teman, sepeda motor, dan masih banyak lagi. Semua saya tulis di laptop. Banyak file yang berhasil saya kumpulkan. Hampir semua benda di dunia kecuali alat kontrasepsi, karena saya tidak punya pengalaman.

Nah, di suatu titik saya mulai bosan. Naluri saya menuntut untuk menghasilkan tulisan yang lebih dalam. Dari kata sekolah ke kata pendidikan, dari kata ayah dan ibu ke kata keluarga, dari kata teman ke hubungan sosial, dari kata Handphone ke informatika, dan seterusnya. Tapi saya buntu. Waktu sekolah saya cuma anak bandel, tak berprestasi.

Akhirnya saya mulai membaca buku. buku pendidikan, buku agama, buku ilmu sosial, dan banyak buku lain saya baca demi menuruti rasa penasaran saya yang tak sengaja. Demi menghasilkan tulisan saya nekat bongkar-bongkar lagi, diskusi lagi, yang tentunya dulu hanya sekedar formalitas bangku kuliah. Tapi sekarang saya serius. Saya kembali ke tongkrongan teman-teman, bukan untuk sekadar bercanda, tapi berdialektika.

Ah, ibu saya senang bukan kepalang karena melihat anaknya mau belajar. Dan sampai sekarang saat usia sudah mengharuskan saya bekerja, saya masih rajin baca buku. Bukan lagi demi tulisan, bukan demi ketenaran, bukan demi apa-apa. Tapi demi diri saya sendiri. Entah, saya mulai teringat kata-kata guru ngaji saya dulu ketika di pesantren.

Banyak hal di dunia bernilai karena menjadi menjadi jembatan pada keindahan, tapi ada satu hal yang yang dirinya sendiri sudah indah tapi juga menjadi jembatan pada keindahan. Satu hal itu adalah ilmu”.

Jadi saya memperoleh manfaat menulis pertama sebagai terapi. Kedua, sebagai komunikasi pada diri sendiri. Ketiga, sebagai dorongan pada ilmu. Maka pesan saya jika kalian jomblo menulislah! Jika sudah punya pacar sempatkanlah!

About M. Mashfa Azza Husniy Al Mahmud 1 Article
Lahir di Lamongan 20 Januari 1995. Tinggal di Putatbangah Karangbinangun Lamongan

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.