M. Irkham Thamrin Alumni Universitas KH Hasyim Asy'ari (Unhasy) Tebuireng Jombang. Ketua Umum PC PMII Jombang masa khidmat 2018-2020

Kader Cluster Agama Kini dan Nanti; Sebuah Refleksi Pasca Harlah PMII

M. Irkham Thamrin 5 min read 0 views

Tidak terasa bulan April sudah berakhir, bulan yang organisasi PMII merayakan harlahnya dan kini genap berusia 60 tahun. Suasana harlah pun sudah mulai tidak tampak lagi. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu, semarak harlah online menghiasi laman media kita. Mulai dari story WhatsApp, status Facebook hingga beranda di Instagram dan media-media lainnya. Bahkan saking semaraknya banyak kader yang aktif memberikan doa dan harapan secara online untuk kebaikan masa depan organisasi. Bahkan di waktu yang sama ada semacam ungkapan kalau ingin lihat banyaknya kader PMII hari ini salah satunya lihatlah media sosial sekarang, akan tetapi kalau ingin melihat kader PMII yang loyal lihatlah berapa kader yang datang saat kegiatan rayon, komisariat dan cabang.

60 tahun bukan usia yang muda lagi, diukur dari masa berdirinya PMII yang masih aktif dan eksis sampai sekarang. Dalam perjalanannya PMII selalu terlibat aktif dalam pergerakan nasional dari masa ke masa. Mulai dari Orde Lama, Orde Baru dan masa reformasi sampai sekarang PMII tidak pernah absen sedikitpun dalam urusan khidmah terhadap NKRI. Menjadi hal yang relevan bilamana PB PMII dalam Harlah ke 60 kemarin mengusung tema Khidmat PMII untuk Negeri. Sebuah refleksi untuk kita semua sebagai kader PMII, apakah mampu meneruskan perjuangan para senior yang lebih dulu berproses dan membawa marwah organisasi pada tahun-tahun berikutnya.

Mafhum, tentunya di dalam usia yang 60 ini, PMII masih perlu banyak yang menevaluasi diri. Tantangan pun semakim banyak dan beragam, mulai tantangan global, lokal sampai internal atau di dalam tubuh organisasi PMII sendiri.

Sebagaimana yang diungkapakan oleh Dwi Winarno dalam buku kaderisasi nasional, bahwasanya perubahan dunia internasional dipandang dengan geopolitik global menjadikan tantangan tersendiri bagi kader PMII. Setidaknya ada empat hal fenomena dari globaliasi yang terjadi. Pertama etno scape, adalah orang modern yang terus menerus memperbarui kemodernannya dengan cara mendatangi etnis yang menurutnya terbelakang.

Kedua capital scape, adalah perputaran uang pada ranah global sehingga uang itu sendiri tidak memiliki kewarganegaraan. Ketiga ideo scape, artinya ide yang dapat melewati batas transnasional, contohnya gejala terorisme yang ada di timur tengah yang merambat sampai Indonesia. Yang keempat media scape, yang mendorong dan mengontruksi pemikiran kita.

Menjadi Agamawan yang Berbudaya

Dwi Winarno dalam buku kaderisasi membuat rilis data terkaiat garis besar tantangan dan potensi dari kader PMII. Dari buku itu disebutkan bahwasanya kader yang berlatar belakang kampus umum sebanyak 41 % dan kader dan anggota PMII yang berasal dari kampus agama 59 %. Dari 59% kader dan anggota PMII yang berasal dari kampus agama, 64 % berasal dari kampus agama negeri sisanya dari kampus agama swasta. Lebih rinci lagi kalau dilihat dari jurusannya dan prodinya 53 % kader dari jurusan tarbiyah atau pendidikan agama islam, 15 % dari jurusan hukum atau syariah, jurusan Fisip, ekonomi dan TIK masing masing dapat 6%, teknik, Mipa, filsafat atau Usuluddin, kesehatan dan pertanian masing masing 3%.

Melihat data yang dihimpun pada 2012 ini saya kira tidak jauh beda dengan kondisi sekarang. Kalaupun ada penambahan saya kira belum terlalu signifikan.

Sebenarnya tanpa data tersebut kita sadar dan tahu bahwa sebagian besar kader PMII berasal dari kampus agama. Bukan berarti data terkait latar belakang pendidikan dan potensi ini tidak penting. Akan tetapi dengan data ini kita dapat membuat skema-skema kaderisasi yang konkret sesuai dengan kapasitas keilmuan fakultatifnya. Selain itu kita bisa membuat rekayasa-rekayasa untuk menyiapkan masa depan kader PMII yang lebih baik.

Dengan data itu kita juga bisa menyiapkan kader-kader agama yang nantinya tidak hanya paham dan tahu tentang agama. Di tengah krisis toleransi dan merebaknya kaum fundamentalis, kader PMII dari cluster agama bisa memberikan warna yang berbeda. Kader PMII dari cluster agama ketika saatnya nanti menjadi tokoh agama setidaknya menjadi agamawan yang berbudaya. Maksudnya adalah tokoh agama yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan mampu memelopori sebuah peradaban. Tidak mudah untuk menyalahkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Ahlusunnah wal Jamaah.

Membumikan Aswaja di Kampus Umum

Melihat tantangan kader dari salah satu pandangan kacamata geopolitik global di atas adalah ideo scape. Hal ini tentunya sangat berpengaruh kepada generasi milenial bangsa Indonesia. Lebih-lebih Indonesia sedang mengalami bonus demografi yang terus memuncak. Jangan sampai bonus demografi ini menjadi bencana demografi yang salah satu penyebabnya adalah paham radikal dan ektremisme.

Adanya globalisasi ideologi menyebabkan munculnya fenomena baru di kampus-kampus umum negeri. Seperti halnya banyak menjamur komunitas-komunitas yang menonjolkan keislamaan yang terjadi, yang bermuara dari Masjid Salman ITB.

Tidak hanya itu, kemasan Islam fundamentalis ini semakin hari semakin berkembang biak saja, layaknya sebuah perusahaan yang selalu memproduksi dan mengiklankan produk baru yang sesuai kebutuhan pasar. Mereka masuk berbagai lini organisasi intra kampus dan ekstra kampus. Mereka juga mampu menciptakan komunitas baru yang lebih menarik dan lebih islami. Padahal secara esensi ataupun isi tidak begitu sedalam daripada keilmuan-keilmuan yang kita dapatkan saat di pesantren ataupun majelis-majelis lainnya. Akan tetapi mengapa kita belum mampu mengimplementasikan pengetahuan kita, harusnya kita lebih berani daripada mereka karena kita mampu.

Mafhum, sebagai kader PMII yang telah melewati jenjang kaderisasi baik formal, non formal dan informal tentunya harus lebih berani. Kita sudah dibekali banyak keilmuan baik yang sifatnya teori maupun praktik. Seperti materi keislamaan ahlusunnah wal jamaah, secara teori dan keilmuan mungkin kita sudah banyak dapatkan. Selanjutnya kita refleksikan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkup kecil ataupun lingkup luas seperti di kampus tempat kita belajar.

Sudah saatnya kita membumikan nilai-nilai Aswaja di kampus tempat kita belajar khususnya kampus umum negeri. Kita buat forum-forum kecil yang sifatnya terbuka untuk umum. Jangan sampai forum tersebut hanya untuk berkumpul dengan anggota kader PMII saja. Jadikan kader PMII sebagai agen-agen untuk menyebarkan virus ahlussunnah wal jamaah di setiap lini kehidupan kampus. Materi kajiannya pun dikemas lebih menarik dan tentunya ada standar khusus terkait materi materi yang akan disampaikan. Tidak usah terlalu ndakik-ndakik karena pasar kita adalah mahasiswa umum yang latar belakangnya bukan dari cluster Nahdliyyin dan sejenisnya.

Potret dan Tantangan Kader Agama

Dari sekian banyak prosentase kader PMII dari cluster agama yang fokus dari keilmuan fakultatifnya hanya sebagian saja. Masih banyak yang mengembangkan kariernya masuk ke ranah politik praktis, dengan menjadikan dirinya sebagai tenaga tenaga ahli partai politik ataupun staf dari para staf khusus. Padahal masih banyak tempat tempat lain yang bisa memosisikan dirinya untuk mengamalkan keilmuannya. Seperti halnya banyak alumni dari kader cluster agama yang antre menunggu nomor antrean untuk menjadi tenaga ahli DPR RI ataupun staf di kementerian. Bahkan ada yang bangga hanya sebagai staf para staf dari stafnya staf.

Memang betul kita tidak bisa memaksakan kader cluster agama hanya bergerak dan mengamalkan keilmuannya di ranah agama saja. Begitupun sebaliknya, melarang mereka untuk anti terhadap politik praktis juga tidak bisa dibenarkan. Semua itu pilihan masing-masing kader.

Akan tetapi sebagai kader PMII kita bisa menggunakan jalur-jalur politik untuk sebuah narasi besar terkait pandangan kita terkait narasi besar keislamaan ahlussunah wal jamaah. Atau yang familiar disebut dengan politik kebangsaan. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk mengamalkan keilmuan tersebut.

Mafhum, tantangan kita semakin hari semakin menarik bagi yang mau ambil tantangan tersebut. Sangat disayangkan kalau kader dari cluster agama khusususnya, hanya menunggu antrean menjadi tenaga ahli atau staf khusus. Sedangkan Islam fundamentalis atau garis kanan semakin hari semakin keras provokasinya untuk mengibarkan bendera perang. Jangan sampai kader dari cluster agama tidak melakukan apa-apa, bahkan kalah sebelum berperang.

Saatnya kita fokus kembali dengan kajian kelimuan dan tidak perlu takut nanti akan jadi apa. Kita harus ubah pola pikir kita bahwasanya kader yang keren bukan lagi yang menjadi tenaga ahli atau staf dipartai politik. Akan tetapi mereka yang mampu menelurkan sebuah karya dalam bentuk tulisan atau yang lainnya.

Kalau ini terjadi sangat mungkin nantinya akan muncul banyak intelektual muda dari PMII. Karena pada dasarnya kita organisasi mahasiswa yang berisi kumpulan ilmuan dan intelektual muda.

Itulah beberapa potret dari kader dari cluster agama dan sekaligus tantanganya. Tidak cuma itu, masih banyak yang lainnya, tinggal kita mau memulai atau tetap lama-lama di depan layar andoroid untuk menghabiskan waktu bermain game online. Kelihatanya memang sulit, akan tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. MariMari kita bersama-sama semarakkan lagi gerakan-gerakan literasi untuk menghasilkan sebuah karya tulis ataupun lainnya.

Dan saya pribadi merasa berutang rasa dan terima kasih betul karena masih ada sosok Dwi winarno yang masih mau menyapa kader PMII dan mengajak untuk berkaya bersama. Sekelas purnawirawan ketua kaderasasi nasional sebetulnya sangat mudah untuk menduduki posisi strategis di jajaran partai politik atau elite lainnya. Atau bisa jadi menjadi direktur atau komisaris perusahaan ternama.

Tapi sahabat Dwi Winarno tetap konsisten dalam mengawal kaderisasi di PMII walaupun tidak di struktural lagi. Apa mungkin belum waktunya atau mungkin belum ada kesempatan dan masih antre juga untuk terjun di politik praktis, saya kira penilaian saya keliru. Hehehe.

Semoga tetap istikamah dan selalu bisa dibanggakan bagi kader-kader seluruh nusantara. Salam hangat dari Jombang, Bang Dwi Winarno.

M. Irkham Thamrin
M. Irkham Thamrin Alumni Universitas KH Hasyim Asy'ari (Unhasy) Tebuireng Jombang. Ketua Umum PC PMII Jombang masa khidmat 2018-2020

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.