A. Rozaqi ketua komisariat PK PMII Evoution periode 2015-2016

Kaderisasi PMII: Kenyamanan Atau Kemanfaatan?

A. Rozaqi 2 min read 86 views

PMII adalah salah satu lingkungan itu, sebuah lingkungan yang kecil. Lingkungan lebih besar yang melahirkannya adalah NU, dan lingkungan lebih besar lagi yang menjadi tempat hidup dan tidurnya adalah masyarakat dan bangsa Indonesia. Dari semesta pengetahuan yang direguk PMII mengenai situasi dunia, situasi bangsa dan situasi daerah, tidak berlebihan apabila PMII bertekad mengadabkan, memajukan dan memenangkan bangsanya. Dengan tekad itu, PMII membutuhkan individu-individu yang tergerak untuk melakukan sesuatu setelah melihat kenyataan bangsa.

Namun karena individu-individu semacam itu jarang didapat secara gratis, PMII harus mengadakannya melalui proses rekayasa. Rekayasa itu adalah pendidikan atau pengkaderan. Sebab itulah PMII dibentuk bukan untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya melainkan dibentuk untuk menciptakan kader. PMII mencita-citakan untuk membentuk seorang individu menjadi pribadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah Swt, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kaderisasi adalah hal terpenting dalam organisasi khususnya bagi organisasi yang mewadahi mahasiswa. Kaderisasi juga merupakam strategi gerakan organisasi untuk menciptakan sesosok manusia yang mempunyai daya intelekual yang bisa menjawab tantangan zaman. Mahasiswa sebagai kaum terdidik harus mempunyai kepekaan serta bisa menganalisis permasalahan-permasalahan sosial dan mampu member solusi terhadap segala problematika sosial. Lebih lanjut mahasiswa dengan antribut yang melekat pada dirinya sebagai agent of social change, social control.

Sering timbul pertanyaan, ketidakpuasan sekaligus kebingungan mengenai kaderisasi. Semuanya campur aduk dalam ruang fikir kita, antara pertanyaan mendasar dengan pertanyaan teknis. Pertanyaan Apa tujuan kaderisasi kita? Untuk apa kaderisasi? bagaimana metodenya? Apa isi materinya? Apa sajakah buku-buku referensinya? Bagaimana distribusi kader nanti? Siapa instruktur dan pematerinya?

Semua itu pertanyaan yang patut untuk diajukan. Soalnya adalah bahwa menata pertanyaan sesuai dengan proporsinya masing-masing, jarang terjadi. Lalu mengurutkan, memahami kembali dan mengakumulasikan jawaban-jawaban sebagaimana telah diberikan dari Kongres ke Kongres, juga jarang dilakukan.

Silahkan baca juga   Perangi Para Pembunuh Tuhan

Namun bukan masalah itu saja yang harus kita fikirkan, secara tidak langsung kaderisasi dikatakan berhasil ketika doktrinasi nilai-nilai ke-PMII-an kepada anggota atau kader bisa tersampikan secara maksimal sehingga kader-kader tersebut bisa melakukan hal-hal yang sekiranya sesuai dengan visi mis organisasi. Dalam melakukan doktrinasi tidaklah mudah banyak hal-hal yang kita lakukan agar apa yang kita berikan dapat terserap oleh anggota tersebut dengan baik, barulah akan mengerucut pada sebuah gagasan, kaderisasi yaitu apakah kenyamanan atau kemanfaatan yang harus kita berikan terlebih dahulu?

Sebelum kita membahas kenyamanan atau kemanfaatan saya akan memflasback kembali bagai system kaderisasi yang pernah dilakukan oleh PK PMII Evolution STTQ. Banyak hal sudah diterapkan dalam upaya untuk memajukan PK PMII Evolution STTQ, salah satunya adalah pola kaderisai pendekatan personal, hal ini bisa dikatan berhasil dalam merangkul anggota-anggota PMII namun setelah mereka berhasil dirangkul kita terlalu terhegemoni sehingga kita kadang lupa, lantas apa yang harus kita berikan setelah itu?.

Periode pertama komisariat Evolution STTQ berjalan sesuai tujuan yakni: bagaimana memana membawa komisariat Evolution STTQ bisa dipandang bahwa kita hadir bukan semata-mata hanya untuk kepentingan politik semata, namun benar-benar ingin ikut mewarnai keorganisaian yang ada di kampus STTQ, sehingga muncullah sebuah pola bahwa eksistensilah yang harus kita lakukan sebagai upaya untuk menepis hal-hal selama ini menyelimuti pendirian komisariat Evolution STTQ.

Semua itu dibuktikan dengan banyaknya agenda-agenda yang mendukung eksistensi gerakan komisariat Evolution STTQ Gresik. Namun pola seperti itu bukan tanpa konsekuensi, karena imbas dari pola seperti itu sangantlah terasa karena kader-kader komisariat Evolution STTQ belum mampu bersaing dengan komisariat lain dalam hal wacana dan keilmuan, sehingga pada periode kedua saya mencoba untuk mengubah sistem kaderisasi yang sudah ada. Bukan mengubah keseluruhan dari sistem tersebut, tetapi mencoba untuk menafsirkan ulang arti eksistensi sendiri agar apa yang dicita-citakan dalam pendirian komisariat Evolution STTQ tidaklah hilang.

Silahkan baca juga   Konsep Dasar Politik dalam Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah

Sehingga muncul sebuah jawaban bahwa eksistensi yang harus kita lakukan adalah eksis (terkenal) melalui kualitas kader-kader STTQ, bukan hanya eksis dalam kegiatan-kegiatan seremonial semata, tetapi bagaimana eksistensi yang dibangun haruslah memiliki asas pengembangan kualitas kader-kader STTQ. Hal itu dibuktikan dengan membuat kurikulum diskusi rutin mingguan yang selama ini belum pernah dibuat sebelumnya. Ini bertujuan untuk mengembangkan wacana kader-kader STTQ yang memang selama ini masih dirasa kurang, selain itu banyak membuat pelatihan atau mengirimkan delegasi pelatihan. Dengan begitu komisariat Evolution STTQ akan eksis tidak hanya secara kuantitas namun juga secara kualitas.

Lebih detail terkait kenyamanan atau kemanfaatan, pola yang harus dilakukan adalah tetap memberikan kenyamanan kepada setiap anggota, tetapi juga harus melakukan doktrinasi yang kuat kepada anggota-anggota tersebut. “Bahwa kenyamanan atau kemanfaatan bukanlah sebuah pilihan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, karena kenyamanan adalah tugas wajib yang harus dilakukan oleh setiap pengurus dan kemanfaatan adalah kewajiban PMII yang harus diberikan kepada setiap anggotanya”.

Maka yang harus dilakukan adalah doktrinasi atau penyadaran bahwa apa yang telah diberikan PMII kepada meraka tidaklah gratis. Mereka harus mampu memberikan apa yang telah mereka dapatkan selama ini di PMII harus mampu ditransformasikan kepada setiap anggota baru nantinya.

Hal tersulit adalah menyadarkan seseorang yang sebenarnya dia sudah sadar, tetapi dia belum sadar akan kesadarannya sendiri.

A. Rozaqi
A. Rozaqi ketua komisariat PK PMII Evoution periode 2015-2016

One Reply to “Kaderisasi PMII: Kenyamanan Atau Kemanfaatan?”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.