Kala Cudus Terkejut

“Cuuuud, oii Cuudd” terdengar suara samar memanggil Cudus yang tengah beristirahat di bawah batang kayu. “ Eh apa hal Dar?” Tanya Cudus heran ke diri Badar. “Aku mau sampaikan pesan Bang Muncak ke engkau Cud, tadi Bang Muncak cakap kau disuruh ke rumah petang ini”.
“Aku kira apa pula, baiklah nanti aku singgah ke rumah Bang Muncak” jawab Cudus. “Iya lah Cud, yang mau aku cakap ke engkau cuma itu, iya lah aku jalan dulu Cud” tandas Badar. Memang siang ini amat terik ditambah Cudus baru menolong emaknya menyabit padi.

Kampung tempat Cudus tinggal terletak di gugusan Bukit Barisan, tempat yang terkenal akan hasil berasnya, di daerah yang katanya kurang Pancasilais. Tidak lupa akan pesan yang disampaikan Badar tadi, selepas mandi Cudus pun pergi ke tempat Bang Muncak. “Assalamualaikum bang” Cudus memberi salam diambang pintu. “Waalaikumsalam, kau rupanya Cud, marilah masuk”.

“Aku dengar Bang Muncak suruh aku datang kemari, apa hal kira-kira bang?” tanya Cudus lantang. “Macam ini Cud, aku mau ajak engkau temani aku pergi ke ibu kota” kata Bang Muncak sembari menghembuskan asap rokok. “Bang Paridi mana bang? Biasa kan dia yang temani abang ke Jakarta” jawab Cudus. “Paridi bininya mau melahirkan jadi tak bisa jadi stokar (kernet) aku satu trip ini, makanya aku ajak engkau Cud” Bang Muncak meminum kopinya.

“Aku bukannya menolak permintaan Bang Muncak, abang kan tau aku tak pernah keluar dari kampung ini kecuali menjual beras ke pasar raba’a” tutur Cudus. “Jangan kau pikirkan itu cud, itu kaji menurun” kata Bang Muncak. “Baiklah bang kalau macam itu, kapan Bang Muncak berangkat?” tanya Cudus. “Lusa Cud” jawab Bang Muncak.
Seperti kata Bang Muncak dua hari yang lalu, Cudus pun menunggu di tempat yang ditunjukkan oleh Bang Muncak. Selang setengah jam sebuah Fuso berwarna hijau berhenti di dekat Cudus berdiri. “Naiklah Cud” Bang Muncak mengayunkan tangannya. “Iya bang, berangkat” perintah Cudus sambil menutup pintu.

Sejam di perjalanan Cudus tak banyak bicara, dia sibuk memperhatikan Bang Muncak memainkan stir otonya. “Tak susah Bang Muncak memutar stir oto sebesar ini?” tiba-tiba Cudus bertanya. “Tidaklah Cud, stir ini ringan, dia kan pakai angin” jawab Bang Muncak. Lalu, Cudus hanya merespon dengan anggukan kepala entah mengerti entah tidak.

Tujuan perjalanan awal Bang Muncak dan Cudus ke Jambi untuk mengantarkan semen yang diangkut dengan Fuso Bang Muncak. Selagi menunggu muatan tersebut dibongkar di gudang penyimpanan Bang Muncak mengajak Cudus untuk melihat-lihat sungai Batanghari. “Inilah rupanya sungai Batanghari yang terpanjang di Sumatera ini Cud” ucap Bang Muncak.

Cudus tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat seraya berkata ”Aku kira airnya jernih bang”, Bang Muncak tertawa melihat raut wajah Cudus lalu berkata ”Jangan kau sama kan dengan sungai yang ada di kampung Cud, sungai di sini resepnya ditambah dengan limbah pabrik”. Cudus hanya diam tak bergeming sambil menatap kosong ke arah sungai.
Setelah menunggu kurang lebih satu hari. Muatan oto Fuso Bang Muncak pun selesai dibongkar dan segera melanjutkan perjalanan menuju Palembang melewati jalan Lintas Timur Sumatera dengan membawa besi di belakangnya. Cudus masih memikirkan apa yang ia lihat di Jambi sambil mendengarkan lagu Melayu yang dinyanyikan artis lokal.

Bang muncak dengan tenang di belakang stir, Bang Muncak adalah supir truk yang telah cukup pengalaman di bidangnya. “Kita akan melewati jembatan Ampera dan sungai Musi Cud” celetuk Bang Muncak. Cudus tersadar dari tidur-tidur ayamnya ”Paling sungai Musi juga sama keadaannya dengan sungai Batanghari itu bang, jadi aku tak kan terkejut lagi” tebak Cudus.

“Ya tak jauh bedalah rupanya” jawab Bang Muncak. “Aku dengar waktu sekolah dulu bekas kerajaan Sriwijaya didekat sungai Musi ini bang” ucap Cudus. “Memang Sriwijaya ada di Palembang Cud?” tanya Bang Muncak. “Entahlah bang, aku dengar dibangku sekolah dulu begitu” pikir Cudus. “Kurang tau aku tentang itu Cud” sembari melihat kaca spion. Cudus hanya melamun mendengar kata Bang Muncak.

Bang muncak dan Cudus beristirahat di sebuah rumah makan Padang di daerah Lampung. “Tambuah ciek uni” pinta Cudus menggunakan bahasa daerahnya. “Maaf mas, bisa pakai bahasa Indonesia aja” jawab sang pelayan. “Hah? Tambah nasinya satu lagi” jawab Cudus dengan terheran-heran sekaligus terkejut. Pelayan pun pergi mengambilkan nasi tambah untuk Cudus.

Melihat apa yang baru saja terjadi Bang Muncak hanya tertawa dan berkata ”Tidak semua pelayan rumah makan di sini orang awak Cud” sambil mengambil sebatang rokok. “Aku sangka orang awak dia tadi bang” jawab Cudus sambil menyuap nasi. “Sudahlah Cud, cepat kau habiskan saja nasi itu, kita mengejar waktu” titah Bang Muncak. Cudus bergegas menghabiskan nasinya agar segera dapat melanjutkan perjalanan.

Sampailah Bang Muncak dan Cudus di Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang ke Pelabuhan Merak di pulau Jawa. “Mana gunung Krakatau yang terkenal itu bang” tanya Cudus yang sedari tadi memutar kepalanya mencari-cari. “Kadang ia terlihat Cud, kalau hari sedang panas dan tak berkabut” jawab Bang Muncak. “Aku mau melihat secara langsung gunung yang dahulu meletus dahsyat itu” gumam Cudus.
“Kau sedang tak beruntung kali ini Cud” lirih Bang Muncak. “Ya sudahlah bang, mungkin besok waktu kita pulang bisa aku lihat gunung yang beranak itu” harap Cudus. Bang muncak pun mengajak Cudus untuk melihat organ tunggal yang disuguhkan di atas kapal. “Hebat di atas kapal pun bisa melihat organ tunggal” Cudus berkata sembari senyum. Namun tak dihiraukan oleh Bang Muncak karena keasyikan berjoget dengan artis organ sambil bernyanyi lagu alamat palsu.

Setibanya di pulau Jawa Bang Muncak dan Cudus beristirahat sebentar di dekat Pelabuhan Merak sambil minum kopi agar tidak mengantuk. “Ini pertama kali dalam hidupku yang sudah dua puluh satu tahun, aku menginjak pulau ini bang” ungkap Cudus. Bang Muncak mendengar Cudus tertawa dan berucap ”Aku juga sudah sama dengan umur kau hidup dari atas roda Cud, sudah banyak yang aku temui pengalaman dijalan”.

“Apa tak pernah terbersit diakal untuk mulai mencari pekerjaan yang lain bang? “ tanya Cudus penasaran. “Tentulah pernah Cud, tapi apa daya keahlian yang aku miliki cuma ini, setidaknya aku tak korupsi seperti wakil-wakil rakyat kita itu” jawab Bang Muncak seraya tersenyum. “Benar juga apa yang kau cakap bang, setidaknya kau tak merampok uang rakyat” Cudus setuju dengan apa yang dikatakan Bang Muncak. Setelah itu tak ada pembicaraan, baik Bang Muncak maupun Cudus hanyut dalam lamunan masing-masing.

Setelah puas beristirahat perjalanan Bang Muncak dan Cudus pun berlanjut. Oto Fuso Bang Muncak menari di atas jalan tol menuju Jakarta, yang kala itu kebetulan tengah malam sehingga jalan tol tidak terlalu padat kendaraan. Cudus tertidur dengan mulut menganga di kursi samping Bang Muncak, dan tak tega untuk membangunkan. “Sayang kau tak lihat keindahan ibukota di malam hari Cud” kata Bang Muncak dalam hati. Menjelang pagi Bang Muncak sampai di tujuan terakhir dari perjalanan menuju Jakarta. Tak pikir panjang Bang Muncak pun langsung merebahkan badan di kursi yang ada di gudang tersebut.

Ibukota yang terkenal akan panas dan keramaiannya disiang hari mengejutkan Cudus dari tidurnya. Cudus terheran melihat ketika oto Fuso Bang Muncak telah berbaris dengan rapi bersama oto Fuso lainnya sambil menunggu waktu bongkar. Cudus berjalan-jalan mencari keberadaan Bang Muncak di sekeliling gudang tersebut.

Cudus menemukan Bang Muncak yang tengah tidur dengan kain sarungnya. Badan Cudus yang telah lama tidak tersentuh air selama perjalanan pun memutuskan untuk mencari WC umum. “Dimana WC umum untuk tempat mandi di sekita sini bang?” tanya Cudus ke supir yang tengah berbaring. “Di belakang gudang ini ada WC khusus para supir, kau mandi saja di sana” jawab supir itu dengan logat Bataknya yang kental. Cudus pun mengikuti saran dari orang tersebut dan mandi disana.

Sore harinya Bang Muncak yang telah bangun dan telah gagah dengan setelan supir khas Sumateranya mengajak Cudus berkeliling Jakarta. Mereka pergi dengan segala jenis transportasi yang ada di ibukota, mulai dari Kopaja, busway, hingga kereta. “Ini kedua kalinya aku naik kereta bang, yang pertama aku naik kereta dari kampung kita ke Sawahlunto” beritahu Cudus sambil berdiri didalam kereta. “Oo kereta yang dari Singkarak itu ya Cud?” tanya Bang Muncak.

“Iya bang, tapi sekarang hanya tinggal relnya saja lagi, semenjak batubara di Sawahlunto telah habis kereta pun tamat riwayatnya” kenang Cudus. “Iya Cud, akhir-akhir ini pun ada kereta yang sistem nya rental untuk pariwisata namun mati juga karena sepi peminat” jawab Bang Muncak. Percakapan yang terjadi di atas kereta menuju Kota Tua itu pun terhenti sampai di situ. Bang Muncak dengan keadaan kakinya yang seperti itu terpaksa berdiri sepanjang perjalanan.

Setelah melihat-lihat Kota Tua yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional tersebut. Cudus dan Bang Muncak pergi ke Monas, yang kata orang belum ke Jakarta kalau belum ke Monas. “Aku selama ini hanya melihat tugu ini dari televisi bang, sekarang ada di depan pelupuk mata aku” ucap Cudus yang sedang takjub.
“Itu emas yang disumbangkan oleh tentara itu kiranya” sambung Cudus. “Banyak yang kau tau yang aku tak tau Cud, senang membaca kau kiranya?” tanya Bang Muncak. “Tidak juga bang, aku hanya mendengar dari orang-orang tua kita dikampung” jawab Cudus sambil tersenyum. “Masih kental juga tradisi lisan kita rupanya” sahut Bang Muncak.

Cudus menyempatkan diri membeli kerak telur yang di jual oleh pedagang di sekitar Monas. “Mahal juga rupanya kerak telor ini bang” ucap Cudus sembari mencubit kerak telornya. “Aku selama ke Jakarta baru kali ini aku makan kerak telur ini Cud” celetuk Bang Muncak sambil tertawa. Cudus pun asyik memakan kerak telur sembari melihat puncak Monas yang berkilauan terkena terangnya lampu ibukota.

Perjalanan Bang Muncak dan Cudus pun berlanjut dengan menumpang busway. “Tinggi juga patung Dirgantara itu bang” Cudus memberitahu Bang Muncak. “Patung Pancoran yang kau maksud gerangan Cud?” tanya Bang Muncak heran. “Iya bang, yang ada di lagu Iwan fals itu” jawab Cudus. “Kalau patung itu aku tau sedikit tentang rumor yang beredar waktu pembangunannya di zaman Soekarno” Bang Muncak berkata sambil mengingat-ingat.

“Tentang apa itu bang?” tanya Cudus yang terkenal selalu penasaran dengan informasi baru. “Katanya Soekarno sampai menjual mobil pribadinya untuk biaya membangun patung itu yang sempat terbengkalai” cerita Bang Muncak. “ Memang sangat nasionalis sekali proklamator kita itu”. Cudus berkata sambil tertawa. Bang muncak pun tertawa mendengar Cudus berkata demikian. Hari telah berangsur malam, Bang Muncak dan Cudus pun kembali tiba di tempat bongkar muatan.

“Istirahatlah kau duluan Cud, aku mau cek oto dulu” saran Bang Muncak. “Baiklah bang, kalau ada yang perlu aku bantu panggil saja aku bang” jawab Cudus. “Tak perlu kau ragu hal itu” Bang Muncak tertawa.

Hari-hari Bang Muncak dan Cudus di Jakarta telah berakhir. Selama seminggu mereka di jalan menuju ibukota, nasib baik tak ada satupun ban yang bocor maupun meledak karena beratnya muatan. Jika tak ada halangan maka seminggu kemudian mereka juga sudah sampai di kampung. Selama perjalanan pulang Cudus tak banyak bicara, ia hanya menung-menung entah apa yang dipikirkan. Mungkin saja kenyataan yang ia lihat selama perjalanan dan di ibu kota membuatnya terkejut akan realita.

“Kau tau mengapa kaki kananku pincang seperti ini Cud?” buka Bang Muncak tiba-tiba. “Aku tak tau bang, padahal kita sudah lama berbaur di meja koa di kampung” jawab Cudus. “Ini terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu Cud, ketika aku masih seumuran engkau ”Cerita Bang Muncak. “Lalu apa yang terjadi bang?” tanya Cudus yang mulai penasaran. “Waktu itu aku juga baru menjadi stokar dan nasib buruk harus aku terima, Fuso yang aku tumpangi mengalami kecelakaan, sehingga beginilah jadinya kakiku” lanjut Bang Muncak.

“Bagaimana dengan supir Bang Muncak?” tanya Cudus bertubi-tubi karena ingin tahu. Bang muncak tertawa melihat ketidaktahuan Cudus lalu berkata ”Almarhum bapak kau lah supir itu, Bang Usman lah orangnya”. Cudus ternganga mendengar cerita Bang Muncak, ia seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Maklum, selama ini Cudus hanya tahu tentang bapaknya hanya dari cerita emaknya.

Cudus tak mengetahui bahwa stokar bapaknya yang selamat itu adalah Bang Muncak, yang sekarang tengah bersamanya. “Bang Usman lah orang yang mengajarkan aku cara mengendarai Fuso dan semua tentang supir kepadaku, Bang Usman tak pernah bosan mengajari aku banyak hal, namun sayang beliau meninggal karena kecelakaan sewaktu kau kecil” sambung Bang Muncak. Cudus hanya terdiam mendengarkan cerita Bang Muncak dengan baik. Cudus selama ini hanya tahu rupa bapaknya dari sebuah foto lama yang disimpan oleh emaknya.

About Amidia Amanza 1 Article
mahasiswa aktif Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Memiliki hobi membaca dan baru aktif di organisasi UKM PHP (Pengenalan Hukum dan Politik) Universitas Andalas.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.