Kalau Tuhan Ada, Kenapa Ada Orang Susah?

Tuhan memiliki banyak nama, di antaranya adalah Maha Mendengar, Maha Menolong, Maha Penyayang. Lalu kenapa ada orang-orang kelaparan dan miskin di mana-mana? Apakah Tuhan benar-benar ada?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu ketahui terlebih dahulu bahwa ada yang namanya Asmaul Husna, ada yang namanya sifat wajib. Keduanya berbeda, yang satunya adalah hanya nama, yang satunya adalah sifat yang harus dimiliki oleh Tuhan, kalau sebuah eksistensi tidak memiliki 20 sifat wajib ini, maka ia bukanlah Tuhan.

Yang membedakan antara sifat wajib dan Asmaul Husna adalah eksistensi keduanya. Sifat wajib, harus selalu dimiliki oleh Tuhan. Sedangkan, nama atau Asmaul Husna, tidak selalu dimiliki oleh Tuhan dalam waktu-waktu tertentu. Seperti sifat wujud (sifat wajib Allah), selalu dimiliki oleh Tuhan, baik sekarang, masa lampau, ataupun masa depan. Berbeda dengan Asmaul Husna, ketika Tuhan mengadili seorang hamba, maka itu adalah sebuah representasi dari nama Al Adlu (Asmaul Husna), sedangkan ketika Tuhan membiarkan hambanya lolos tanpa dihisab atau diadili, maka itu adalah representasi dari sifat Rahim (Asmaul Husna). Dalam hal ini, ketika muncul sikap adil maka rahimNya Tuhan seolah tidak tampak, dan ketika muncul sikap belas kasihNya, maka adilNya Tuhan seolah tidak tampak.

Jadi adanya orang-orang yang kelaparan, tidak membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Sebab menolong mereka yang kelaparan bukanlah sifat wajib Tuhan. As Salaam: Yang Maha Memberi Kesejahteraan, adalah salah satu nama Tuhan, tapi Al Qaabidh: Yang Maha Menyempitkan, Al Khaafidh: Yang Maha Merendahkan, Al Mumiitu: Yang Maha Mematikan, Al Mudzil: Yang Maha Menghinakan, Al Muntaqim: Yang Maha Pemberi Balasan, dan Ad Dhaar: Yang Maha Penimpa Kemudharatan, juga termasuk nama Tuhan. Jadi bila di suatu tempat nama itu seolah tidak tampak, maka tidak berarti bahwa Tuhan tidak ada.

Menolong ataupun tidak, memberi sedikit ataupun banyak, pertolongan saat itu juga atau dengan penundaan adalah termasuk sifat Jaiz Tuhan. Sama halnya ketika Tuhan memasukkan hambaNya ke neraka atau surga, itu juga merupakan hak prerogatif Tuhan.

Dengan demikian, bila suatu daerah penuh dengan kemiskinan ataupun terus menerus dijajah, ataupun selalu diwarnai peperangan, Tuhan selalu ada. Bukti keberadaan Tuhan adalah adanya perubahan-perubahan di dunia ini. Tuhanlah yang menghendaki adanya perubahan itu, Tuhan pula yang menghendaki adanya kemiskinan, penjajahan, dan peperangan. Tuhan pula yang menghendaki kesejahteraan, kemerdekaan, dan kedamaian.

Tapi, kenapa doa tidak selalu terkabul?

Tuhan Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui, tentu Tuhan akan tahu semua doa-doa kita. Lalu kenapa ada doa-doa yang menurut sebagian pengalaman tidak dikabulkan?

Ada dua jawaban yang sesuai atas pertanyaan tersebut. Yang pertama, mengabulkan atau tidak itu hak Tuhan. Kedua, yang Tuhan kabulkan adalah kebutuhan kita, bukan keinginan kita.

Doa adalah permintaan dari yang derajatnya di bawah kepada yang derajatnya di atas. Dengan begitu, doa tidak boleh mengatur dan mendekte. Begitu pula ketika hamba berdoa kepada Tuhan, memerinci apa yang diminta, bahkan sampai waktu dan tempatnya disebut, maka itu bukanlah doa. Itu mengatur dan memerintah. Jika Tuhan bisa diatur, didikte dan diperintah, maka Tuhan tidak lagi memiliki kekuasaan. Lalu bila Tuhan tidak memiliki kekuasaan, maka Dia lemah. Apabila Tuhan lemah, maka Dia bukanlah Tuhan.

Dengan demikian, contoh berdoa yang pas adalah meminta jodoh atau pasangan, tidak perlu memberikan perincian namanya siapa, rumahnya di mana, dan kapan harus menjadi jodohnya. Lalu keputusan mengabulkan atau tidak itu ada di tangan Tuhan, begitu pula keputusan siapa jodohnya, kapan menjadi jodohnya dan di mana, juga merupakan keputusan Tuhan. Hal itulah yang dinamakan sifat jaiz Tuhan. Bagi Tuhan, mengabulkan doa hambaNya itu tidaklah wajib, atau mengabulkan persis seperti apa yang ia pinta juga tidak wajib.

Kadang juga, manusia tidak peka. Tuhan sudah mengabulkan doanya, tapi ia tidak menyadarinya. Karena ia tidak benar-benar mengerti apa yang ia pinta dan apa yang ia butuhkan. Ia terlalu dibutuhkan dengan apa yang ia hayalkan dalam doanya dan keinginannya.

Juga seperti contoh di atas, berdoa meminta jodoh atau pasangan dengan memberikan perincian namanya, tempat dan kapan. Bisa jadi Tuhan tidak mengabulkan perincian yang dia ajukan, dan hanya mengabulkan permintaan pokoknya saja. Karena permintaan pokoknya adalah kebutuhan, sedangkan perinciannya adalah keinginan dan impiannya saja.

Bukankah Tuhan bersabda, “berdoalah engkau pasti akan aku kabulkan”? (40:60)

Memang banyak yang membuat ayat ini sebagai dasar bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doa. Padahal Tuhan itu yang mengatur bukan yang diatur, bahkan oleh doa. Doa tidak bisa mendekte Tuhan.

Sebab itu dalam kitab Fathul Majid, dikatakan bahwa Tuhan memiliki sifat wajib qiyamuhu bi nafsihi, dan salah satu pengertiannya ghaniyatun an muhaddisin (tidak butuh kepada pencipta). Tidak butuh kepada pencipta, juga bisa dikatakan bahwa Tuhan itu suci dari kekangan aturan dan dikte.

Lalu apakah itu berarti ayat itu salah? Jawabannya tidak, tidak ada yang salah dengan ayat tersebut. Yang salah adalah pemahaman beberapa manusia. Hal tersebut wajar, karena manusia penuh keterbatasan.

Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah, sembahlah Aku maka kalian akan Aku berikan pahala. Penafsiran ini dengan qorinah, lanjutan dari potongan ayat di atas. “Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembahku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina“.

Dengan demikian, mengabulkan suatu doa tetaplah hak prerogatif Tuhan. Tuhan mau mengabulkan doa itu hakNya, tidak mengabulkan juga itu hakNya. Tidak ada yang memaksa Tuhan, dan keterpaksaan juga merupakan sifat yang mustahil bagi Tuhan.

Lalu Tuhan itu apa?

Tuhan bukanlah seperti yang dipahami orang Nusantara kuno, sesuatu luar biasa yang bersifat positif. Sedangkan lawannya adalah sesuatu luar biasa yang bersifat negatif dinamakan hantu. Anda bisa melihat keterangan ini di buku Atlas Wali Songo, yang ditulis oleh Kiai Agus Sunyoto.

Tuhanlah Pencipta, juga sekaligus Yang kelak Menghancurkan apa yang diciptakanNya. Tuhanlah Yang Merawat, juga Tuhan pula yang menciptakan hama dan penyakit. Jadi Tuhan bukan saja bersifat “konstruktif”, tapi juga memiliki sifat “destruktif”.

Bila melihat definisi dalam ilmu tauhid, Tuhan adalah muhdist, yang mengubah. Yang mengubah semesta dari tidak ada menjadi ada. Yang mengubah bumi dari tidak ada menjadi ada. Jadi bumi yang hijau menjadi tandus, yang tandus menjadi subur, yang daratan menjadi lautan.

Dengan demikian, perubahan dari damai menjadi peperangan adalah tanda adanya Tuhan. Perubahan dari sejahtera menjadi miskin dan melarat adalah tanda eksistensi Tuhan. Perubahan dari yang dahulu merdeka, lalu kini menjadi terjajah juga merupakan pertanda adanya Tuhan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 56 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.