Nurul Hana Mustofa Saya asal palembang, pernah nyantri di kudus, sedang nyantri di Malang dan menyelesaikan studi master di MPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw (bagian 2/2)

Nurul Hana Mustofa 3 min read 0 views

Kasih-Sayang-NabiMuhammad-saw

[dropcap]N[/dropcap]abi Muhammad saw. dalam menyampaikan risalah agama Islam kepada umatnya selalu disertai kasih sayang, penyampaiannya yang lembut sehingga banyak dari kalangan yang sebelumnya kafir kemudian berbondong-berbondong masuk agama Islam, karena memang sifat manusia dan hati nuraninya lebih menerima kelembutan daripada kekerasan. Kasih sayang Nabi Muhammad memang sudah ditakdirkan oleh Allah, bahkan disebutkan didalam al-Qur’an surat Ali Imran : 159, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu”.

Ketika Imam Ar-Razi ditanya, bila Nabi Muhammad sebagai rahmat, kenapa Ia membawa pedang dan merampas harta? Dalam hal ini, setidaknya Imam Ar-Razi menjawab dengan tiga alasan. Pertama, Nabi Muhammad berperang karena umat Islam diserang dahulu, dan mereka menindas orang-orang muslim. Kedua, karena umat-umat terdahulu bila diadzab oleh Allah langsung seketika itu pada zamannya. Beda halnya dengan umat Muhammad, adzabnya ditunda hingga hari kiamat. Maka peperangan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Ketiga, Nabi Muhammad adalah puncak dari Akhlak. Dengan alasan tersebut, sesungguhnya Nabi Muhammad tidak menghendaki peperangan itu terjadi, beliau merasa sedih memerangi umatnya sendiri hingga mati dalam keadaan tidak beriman. Bahkan ketika Nabi dilempari batu oleh orang-orang kafir hingga berdarah, beliau masih tetap sabar. Melihat kejadian tersebut, seketika itupun malaikat Jibril menghampiri Nabi seraya memberikan alternatif balasan agar orang-orang kafir tersebut ditimpa oleh gunung Uhud, tapi apa jawaban Nabi, beliau tidak menhendaki alternatif tersebut, melainkan sebaliknya Nabi malahan mendoakannya “Allahumma Ihdihim Fainnahum La Ya’lamun”, Ya Allah berilah mereka petunjuk, sesungguhnya mereka umat yang tidak tahu. Betapa luhurnya akhlak dan sifat Nabi saw. begitu lembut dan penyabar. Beliau, Nabi Muhammad tidak hanya berkata-kata (retorika) dalam berdakwah, namun lebih menonjolkan praktek dan contoh-contoh yang baik dalam beragama agar mudah difahami dan diikuti oleh umatnya.

Wocoen   EGO

Bila yang dipilih adalah tafsir untuk kemaslahatan bagi seluruh makhluk, maka disini perlu gambaran bagaimana rahmat Nabi Muhammad disampaikan dengan kasih sayang. Gambaran rahmatnya terhadap orang-orang kafir telah disampaikan di atas, selanjutnya rahmat beliau kepada keluarga, anak-anak, orang sakit, dan hewan dan masih banyak lagi. Namun disini hanya akan mengulas dari beberapa rahmat Nabi saw.

Pertama, rahmat Nabi saw. kepada keluarganya. Nabi Muhammad adalah manusia yang paling baik perlakuannya terhadap keluarga, tidak ada satupun yang bisa menandingi akhlak beliau dan perlakuannya kepada keluarga. Suatu ketika ada sahabat yang bertamu di rumahnya, sedangkan anak-anaknya ramai sendiri. Nabi tidak marah sama sekali, ia membiarkannya karena memang masa anak-anak adalah masa tanpa beban, yang ada hanyalah mencari kesenangan. Sahabat ‘Amr bin Sa’id bin Anas mengatakan “saya tidak melihat seorang pun yang lebih penyayang daripada Rasulullah saw”. Bahkan Nabi menjahit sendiri pakean yang robek dan menambal sandalnya. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh istri Nabi, ‘Aisyah. Suatu ketika ‘Aisyah ditanya oleh seseorang yang hitam kulitnya. “apa yang Nabi saw. perbuat bagi keluarganya? ‘Aisyah menjawab “Ketika datang waktu sholat, beliau (Nabi) langsung mendirikannya. Selagi bisa dikerjakan sendiri, beliau mengerjakan sendiri. Nabi menjahit baju dan sandalnya sendiri yang rusak, dan beliau mengerjakan apa yang tidak dikerjakan para lelaki di rumah mereka”. Melihat hal seperti ini, sejatinya Nabi tidak menghendaki keluarganya melakukan pekerjaan rumah sendiri. Disaat seperti ini, gotong royong dan kebersamaan membangun rumah tangga yang baik sangat dibutuhkan.

Kedua, rahmatnya kepada anak-anak. Diceritakan dari Anas, suatu ketika Nabi dalam keadaan menunaikan sholat dan ingin memanjangkannya. Tiba-tiba ada suara anak kecil yang menangis, Nabi dalam hatinya “apa sholatku ini boleh dipanjangkan sedangkan aku mengetahui ada anak yang menangis karena mencari ibunya”. Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah, ia mengatakan “ada orang A’robi (Baduwi) datang kepada Nabi dan berkata: Kalian mencium anak-anak, sedangkan kami tidak melakukan itu. Kemudian Nabi menanggapi pertanyaan itu, “Apakah saya menginginkan agar rahmat Allah yang ada dihatimu dicabut?”. Dengan kata lain, bahwa seseorang apabila dirahmati oleh Allah pasti mencium anak-anak. Melalui dua gambaran seperti ini, sesungguhnya Nabi memberi pelajaran kepada kita bahwa rasa kasih sayang kepada anak-anak harus lebih diperhatikan. Sedangkan dalam dimensi psikologisnya bila seorang anak mendapatkan rasa kasih sayang, maka memberi hal positif pada ketenangan dan ketentraman dalam kehidupannya harus dilakukan.

Wocoen   Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia (bagian dua)

Ketiga, rahmatnya kepada orang sakit. Suatu ketika Nabi melihat salah satu sahabatnya yang sedang sakit parah, beliau sangat sedih, hatinya tak kuat melihat hal tersebut, dan terus menangis didepan sahabatnya. Sahabat -Sa’ad bin Ubadah, Abdur Rahman bin ‘Auf dan yang lain- juga ikut mengunjunginya. Melihat Nabi yang sedari tadi berdiri disampingnya menangis, semua sahabat yang datang malahan juga ikut menangis. Kemudian Nabi mengecup kening Ustman bin Ma’dun yang telah meninggal. Hingga ‘Aisyah mengatakan “saya melihat kelinangan air mata Nabi Muhammad saw. sampai berada diatas pipi Ustman bin Mad’un”. Di riwayat yang lain mengatan, Nabi Muhammad saw. mengecup diantara dua matanya (Ustman bin Mad’un) kemudian Nabi menangis begitu panjang. Dari dimensi sosiologisnya, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Nabi adalah bentuk kemanusian, bentuk keprihatinan terhadap sesama manusia agar satu sama yang lain saling mengerti, saling memahami dan merasakan keadaan yang dialami orang lain.

Keempat, rahmatnya kepada hewan. Nabi Muhammad saw. adalah Nabi pembawa rahmat, rahmatnya juga meliputi hewan. Beliau sangat melarang sahabat-sahabatnya bila memelihara hewan sampai kelaparan, bahkan apabila hewan tersebut digunakan sebagai hewan tunggangan kemudian diberi beban yang berlebihan, dan menyembelihnya dengan kasar tidak beraturan, karena semua yang menyakitkan bagi hewan adalah adzab baginya. Oleh karenanya, Nabi sangat melarang hal ini. Suatu hari, Nabi memasuki sebuah kebun yang dimiliki oleh orang Ansor. Tiba-tiba didalamnya ada seekor unta, beliau kasihan kepada unta tersebut. Setelah melihatnya secara jeli, Nabi meneteskan air mata. Kemudian Nabi memegang tulang belakang dari kedua telinga unta tersebut. Beliau mengucapkan, “siapa pemilik unta ini? siapa pemelihara hewan ini?”. Kemudian seorang pemuda datang menghampiri Nabi. “Apakah kamu tidah takut kepada Allah yang telah memberimu unta ini? Ia (unta) mengadu kepadaku bahwa kamu membuatnya kelaparan dan membuatnya lelah karena memperkejakannya diatas kekuatannya?”. Diriwayat yang lain, Nabi sangat mewanti-wanti agar tidak menjadikan hewan sebagai tujuan dilempari. Bahkan beliau mengatakan, “seorang wanita masuk neraka sebab menali kucing dan tidak memberinya makan”. Atas dasar ini, semua makhluk termasuk hewan adalah wajib disayangi, diperlakukan dengan baik, tidak membuatnya terlunta-lunta.

Wocoen   Bahasa: jembatan intelektualitas dan sosial masyarakat

Teladan yang diajarkan Nabi kepada kita, sebagaimana dijelaskan diatas harus dijadikan sebagai pedoman hidup, tidak hanya sebagai selogan saja. Dengan demikian Nabi Muhammad saw. adalah benar-benar sebagai panutan umat Islam, maka semestinya yang diteladani adalah ajaran kasih sayang yang telah menghiasi perjalanan hidupnya, Nabi sebagi pembawa rahmat dan bukan sebagai pembawa laknat pada umatnya.

Nurul Hana Mustofa
Nurul Hana Mustofa Saya asal palembang, pernah nyantri di kudus, sedang nyantri di Malang dan menyelesaikan studi master di MPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.