Budaya

Kasih Sayang Nabi Muhammad SAW

“Dan saya tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai kasih sayang bagi seluruh alam semesta.” (QS. Al Ambiya’ : 107).

      Sebagai seorang muslim yang membaca al-Qur’an dan selalu meningkatkan pemahaman kandungan ayat-ayatnya dari berbagai khazanah tafsir yang tersebar di dunia Islam, menjustifikasi tafsir ayat al-Qur’an dari satu sudut pandang saja dan mengklaim paling benar sendiri, kemudian menuduh yang lain salah adalah suatu kemunduran peradaban Islam yang selama ini dibangun oleh para pendahulu. Tafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang begitu beragam seharusnya menjadikan arif (bijaksana) dalam menyikapi problematika yang muncul ditengah-tengah masyarakat yang majemuk. Salah satu ayat yang beragam penafsirnya adalah ayat “Wa Ma ArsalnaaKa Illa Rahmatan Lil ‘Alamin” (Dan saya tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai Kasih sayang bagi seluruh alam semesta. (QS. Al Ambiya’ : 107). Bila dicermati, ayat tersebut sebenarnya penguat diutusnya Nabi Muhammad saw. di dunia ini sebagai penebar rahmat, disamping pula sebagai penyempurna akhlak manusia. Bila Nabi Muhammad sebagai panutan dalam menyampaikan risalah agama Islam, sudah sepatutnya kita harus meniru dan mengikuti akhlaknya dan langkah-langkahnya di dalam menyebarkan dan mendakwahkan agama Islam di muka bumi ini.

Ayat di atas, “Wa Ma ArsalnaaKa Illa Rahmatan Lil ‘Alamin” dalam memaknainya perlu mendapat perhatian yang sangat mendalam. Ada dua hal yang sangat penting untuk dijelaskan disini. Pertama, Makna Rahmatan. Dilihat dari segi bahasa (linguistik), rohmatan mempunyai makna kasih sayang, kelembutan dan kepedulian. Dilihat dari dimensi keilmuan gramatikal bahasa arab (tata bahasa arab), khususnya dibidang Morfologi (shorof), kata tersebut berbentuk Masdar dari asal fi’il “Rahima-Yarhamu-Rahmatan” dengan arti menyayangi atau mengasihi, yang mana kata tersebut wajib mengandung waktu kapan menyayanginya, masa lampau, masa sekarang atau masa yang akan datang. Dari segi Sintaksisnya (nahwu), kata tersebut adalah berbentuk isim (masdar) yang digunakan, bukan isim fa’il, bukan isim maf’ul, bila bentuk kedua terakhir ini digunakan, maka masih mengandung makna ruang dan waktu, tetapi Allah lebih memilih menggunakan bentuk masdar yang maknanya tidak ada dimensi ruang dan waktu yang terkandung di dalam kata tersebut, apabila dimaknai dengan menggunakan bahasa jawa berarti “welas asih”. Maka, ayat tersebut mununjukkan bahwa kasih sayang Nabi Muhammad saw. kepada umatnya tidak ada batasan keadaan dan waktu, dengan kata lain bahwa kasih sayangnya tidak dipengaruhi oleh sesuatupun. Dengan mengetahui makna secara bahasa, maka dengan demikian, makna rohmatan adalah kasih sayang yang diberikan Nabi kepada umatnya, kelembutan penyampaiannya, sehingga diterima oleh umat manusia, dan kepedulian terhadap apa yang dirasakan oleh umatnya sehingga ajaran agama Islam mudah diterima oleh mereka. Di dalam sebuah riwayat disebutkan, sesungguhnya didalam diri Rasulullah saw. terdapat teladan yang mulia bagi kalian. Sebagai pemberi teladan, menggunakan teladan yang baik guna diikuti adalah wajib dilakukan baginya.

Wocoen   Gus Dur dalam Bingkai Beragama dan Bernegara

Kedua, adalah makna “Lil ‘Alamin. Secara linguistik bermakna alam semesta, semua yang diciptakan Allah tidak ada ketercualian. Hal ini sesuai apabila dikaitkan dengan disiplin ilmu Balaghoh. Bahwa kata “al-’alamin” disitu berbentuk jamak dan disertai pula huruf alif dan lam di depannya. Maka boleh jadi alif dan lam disitu mempunyai makna (istigro’iyyah) yang berfaidah mencakup dan meliputi kata yang dimasukinya. Dengan kata lain, bahwa kata tersebut meliputi semesta alam, baik kehidupan sebelum diutusnya Nabi sebagi Rasulullah ataupun sesudahnya.

Dalam memahami ayat tersebut, perlunya melihat para Mufassir al Qur’an ketika menjabarkannya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kata tersebut hanya untuk orang-orang mukmin saja, karena Allah telah memberi hidayah, iman dan amal saleh. Imam Qurthubi berpendapat bahwa kasih sayang bagi orang-orang nonmuslim, karena mereka mendapatkan cobaan, seperti bencana alam dan tenggelam dilautan. Dalam tafsir Jalalain memberi makna bahwa “Lil ‘Alamin” adalah untuk manusia dan Jin. Kasih sayang yang khusus diberikan kepada dua jenis makluk. Dalam hal ini, Ibnu Kastir memberi ulasan yang menarik. Kata “Lil ‘Alamin” menurutnya, semua yang ada di alam semesta ini termasuk didalamnya orang-orang muslim, Yahudi dan Nasroni. Kasih sayang bagi makhluk semuanya, semua mendapat kasih sayang. Sedangkan didalam tafsir At-Thobari dijelaskan, bahwa kata tersebut juga mencakup orang-orang muslim dan nonmuslim, disebutkannya nonmuslim juga karena Allah memberi tangguhan adzab baginya hingga hari kiamat, sebagaimana tidak dialami oleh umat-umat terdahulu. Sedangkan menurut Imam ar-Razi kasih sayang Nabi Muhammad saw. tidak hanya bagi orang muslim dan nonmuslim saja, melainkan untuk agama dan dunia. Untuk agama karena Nabi menjelaskan jalan kebenaran bagi mereka yang sedang dalam keraguan. Sedangkan rahmat di dunia, karena manusia selamat dari kenistaan dan peperangan, bahkan karenanya Umat Islam memenangi peperangan.

Wocoen   Peran Penting Pendidikan Pesantren dalam Menangkal Radikalisme

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani dalam bukunya “Muhammad al-Insan al-Kamil” memberi ulasan seputar akhlak Rasulullah. Berbagai ayat al-Qur’an dan hadist yang menggambarkan keagungan Nabi saw. ia sebutkan didalam bukunya. Lebih-Lebih ketika ia memberi ulasan terhadap ayat diatas secara detail. Ia berpendapat bahwa Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam, rahmat untuk orang-orang mukmin, rahmat untuk orang-orang kafir, rahmat untuk orang-orang munafik dan rahmat untuk seluruh manusia, baik laki-laki, perempuan, anak-anak, dan rahmat untuk semua hewan. Rahmat tersebut adalah umum bagi seluruh makhluk Tuhan. Bahkan saking adiluhungnya akhlak Nabi saw. Allah memberi dua nama dari beberapa namaNya, yaitu Nabi disebut sebagai Rauuf dan Rakhim. Rauuf yang memiliki makna penyantun, dan Rakhim dimaknai sebagai penyayang. Hal ini, menurutnya berdasar ayat al-Qur’an surat At-Taubah : 128. “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.

Setelah mengetahui berbagi pendapat yang diutarakan oleh Mufassir diatas, perlunya memberikan kesimpulan bahwa ayat tersebut adalah rahmat (kasih sayang) bagi seluruh makhluk alam semesta, baik manusia muslim dan nonmuslim, baik semua agama, semua yang hidup ataupun tidak, yang sejatinya adalah makhluk Allah swt. semuanya. Dari dimensi sosiologisnya tidak mungkin Nabi Muhammad sebagai Nabi akhir zaman hanya merahmati satu, dua makhluk dan golongan saja. Nabi sebagai pelengkap Risalah agama pastinya menginginkan semua umatnya mendapatkan rahmat dan masuk mengikuti ajarannya. Ditataran teologisnya, maka wajib bagi kita mengimani bahwa ayat tersebut menunjukkan keagungan budi pekerti Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa rahmat. Para ulama’ terdahulu sebenarnya telah memberikan pelbagai penafsiran dan penjelasan terhadap suatu ayat al-Qur’an dan kemudian memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk dipilih sebagai kemungkinan yang lebih membawa kepada maslahah. Ada sebuah kaidah yang menyebutkan, apabila terdapat pelbagai macam pendapat, maka yang harus dipilih adalah pendapat yang lebih memberikan petunjuk pada kemaslahatan. Dalam konteks ini, kita harus memilih mana dari pelbagai pandangan Mufassir diatas terhadap ayat “Wa Ma ArsalnaaKa Illa Rahmatan Lil ‘Alamin” yang memberikan dampak positif dalam menebar kasih sayang di alam semesta ini.

Wocoen   Bumi Gojlokan

bersambung…

Tags

Nurul Hana Mustofa

Saya asal palembang, pernah nyantri di kudus, sedang nyantri di Malang dan menyelesaikan studi master di MPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close