Muh. Wardiham Anwar Lahir 29 Juni 2001, di Sulawesi Barat. Aktif sebagai Mahasiswa S1 Prodi Pendidikan Bahasa Jerman, dan Aktivis Dakwah di Lembaga Dakwah Fakultas Pusat Studi dan Dakwah (Pusdamm) Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar. Senang menggeluti dunia kepenulisan, baik ilmiah maupun fiksi, dan dunia desain, serta public speaking. Bisa dihubungi di IG @wardiham29. Sering jadi Kontributor desain Dakwah Kreatif Community (DKC).

Kata-Kata Kasar Kian Wajar, Generasi Krisis Etika?

Muh. Wardiham Anwar 1 min read 44 views

Pamor warga yang akrab disebut “+62” pernah lantang terdengar “warga yang ramah” ke segala penjuru dunia. Tapi, seakan tercoreng jika kita intip kembali etika berbahasa, yang kian hari kian miris saja. Lahir beragam kosa kata prokem (gaul). Namun sayang, didominasi maksud kasar yang dipoles agar tampak wajar. Padahal terbilang jauh dari warisan tutur leluhur bangsa.

Media sosial yang punya jangkauan luas, sebab jadi sarang ribuan pasang mata, kini disuguhi ujaran kasar yang wara wiri di beranda. Yang seharusnya jadi lorong kenangan atau karya.

Sudah terlalu banyak jari yang abai akan fakta dan etika, yang penting asumsi dan argumen menyambar. Segala perasaan tidak terima dan rasa puas, barulah dianggap kelar jika sudah di kolom komentar. Kata kasar dapat mudah kita kenali dengan menelaah sebab, makna, dan tujuannya, tapi memang kadang sulit diantisipasi.

Ada saja yang berlagak jadi hakim tanpa palu dan malu, namun lupa bahwa penghakiman yang pasti kapan saja mengawasi. Perasaan entah itu marah, sedih, atau bahagia sekalipun sepenuhnya dikoordinasikan oleh otak menjadi tindakan, lantas mereka yang bertindak semata perasaan tanpa pemikiran, pada akhirnya hanya berujung penyesalan.

Miris memang, krisis etika seakan bukan hal yang perlu ditakutkan, bahkan ditindaklanjuti bersama. Perlu tindakan nyata bukan wacana atau program semata. Tidak sedikit yang menganggap kata kasar sebagai ukuran status pertemanan, atau penerimaan hingga popularitas pada suatu kelompok. Tentu tidak menyenangkan, seolah perlahan mendidik diri agar tak lagi berbudi pekerti, omongannya keluar tak terkendali.

Tugas kita saat ini dengan tidak membiarkan berkembangnya penggunaan kata kasar jadi kebiasaan (behavior) pada seluruh kalangan terkhusus kalangan generasi penerus negeri. Mulai dari lingkup kecil seperti keluarga, hingga lingkup yang luas hingga ke masyarakat. Jika belum berhasil, jangan putus asa, mulai dari diri sendiri sudah luar biasa.

Silahkan baca juga   Salim Salam Selamet

Kita boleh marah, sedih atau bahagia, tapi cukup sewajarnya. Segala perasaan tidak melulu dilampiaskan dengan saling menyakiti. Damai itu bisa kita miliki, jika tindak dan tutur kita bijak sejak dini.

Muh. Wardiham Anwar Lahir 29 Juni 2001, di Sulawesi Barat. Aktif sebagai Mahasiswa S1 Prodi Pendidikan Bahasa Jerman, dan Aktivis Dakwah di Lembaga Dakwah Fakultas Pusat Studi dan Dakwah (Pusdamm) Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar. Senang menggeluti dunia kepenulisan, baik ilmiah maupun fiksi, dan dunia desain, serta public speaking. Bisa dihubungi di IG @wardiham29. Sering jadi Kontributor desain Dakwah Kreatif Community (DKC).

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.