Politik & Hukum

Kebiasaan ‘Nggampangno’

Dunia sedang berperang melawan Covid-19. Tidak terkecuali Indonesia. Awalnya kita pede, bahwa Indonesia bebas dari virus yang mulai menyebar pada akhir tahun lalu ini. Namun, karena terlampau pede, kita sebagai bangsa —terutama pemerintah, jadi lengah dan terkesan kurang persiapan dalam menghadapi “tamu” ini yang jika ia datang tiba-tiba.

Hingga Februari, bangsa kita masih menanggapi biasa-biasa saja tentang virus corona. Bagaimana respon pemerintah saat itu? Pemerintah kelihatannya lebih fokus meredam dampak wabah ini yang dari segi ekonomi daripada keselamatan warganya. Dengan mengucurkan dana sebesar 72 M (nolnya berjumlah 9 di belakang angka 72) kepada influencer untuk menaikkan citra baik pariwisata di Indonesia agar pengunjung lokal dan mancanegara tidak antipati karena isu corona.

Di sisi lain banyak pernyataan dari pemerintah yang adem menyejukkan. Wapres KH Maruf Amin mengatakan Indonesia bebas dari virus corona karena doa Qunut. Menteri Kesehatan Terawan juga pernah menyampaikan bahwa itu semua berkat doa-doa. Adem. melenakan.

Namun tidak jarang yang menganggap pemerintah cenderung meremehkan potensi corona di sini, dan terkesan arogan bahwa bangsa kita kebal terhadap kemungkinan terjangkit. Tentu yang diharapkan masyarakat, seorang Menkes tidak hanya menyampaikan bahwa Indonesia nihil virus corona karena doa, namun lebih dari sekadar itu; sisi rasional dari kacamata medis yang harus dijelaskan oleh sang menteri.

Sampai awal Maret Indonesia nyatanya benar-benar tidak bebas dari virus ini. Presiden menyampaikan bahwa 2 orang WNI positif corona.

Pidato Presiden Jokowi pada waktu itu masih menunjukkan sikap jemawa dan santuy. Di lain sisi, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, bahwa ia tengah menunggu Menkes Terawan menyusun anggaran untuk mengatasi corona. Ini artinya pemerintah memang selama ini tidak membuat persiapan memadai untuk menghadapi sebaran corona.

Wocoen   Menyikapi Ulama Yang Berpolitik

Hingga kemarin (15/03), Indonesia sudah mengoleksi 117 kasus corona! Walaupun sebagian kecil sudah dinyatakan sembuh, namun tingkat kematian (death rate) Indonesia beberapa hari lalu (5,7%) berada di atas tingkat rata-rata kematian global akibat Covid-19 (3,7%), dan menjadi salah satu yang paling tinggi. WHO sudah mengimbau kepada pemerintah Indonesia agar segera menetapkan status darurat nasional atas penyebaran virus corona.

Lalu bagaimana dengan masyarakat?

Bagi kita, Wuhan mungkin terasa “jauh” dan asing. Saya yakin, orang-orang ndeso seperti saya yang hidup jauh dari keramaian kota ini baru tahu kalau di Tiongkok ada daerah yang bernama Wuhan setelah Covid-19 menyerang daerah tersebut beberapa bulan yang lalu.

Era globalisasi sekarang ini, memang masih menyimpan relativisme psikis. Berita tentang banyak korban yang meninggal akibat virus corona yang terakses di mana pun tak menggentarkan kita karena terjadi jauh dari tempat kita tinggal.

Namun tidak sedikit juga orang yang panic buying dan memborong kebutuhan hidup sehari-hari ketika awal diberitakan virus corona masuk ke Indonesia. Stok sembako diborong habis sehingga banyak orang yang tidak kebagian. Terutama masker mengalami kelangkaan. Jikalau ada, harganya melambung tinggi. Momentum.


Beberapa waktu lalu muncul lagu berjudul Corona yang dinyanyikan seorang biduan —yang saya sendiri tidak kenal dia dan memang tidak ingin mengenalnya. Saya tidak menyangka bahwa yang dimaksud Corona di lagu tersebut adalah singkatan dari Comunitas Rondo Merana. Aduh, yang benar merana apa memesona sih?

Pencipta dan penyanyi tersebut pandai memanfaatkan momentum di saat masyarakat sedang hangat membicarakan virus corona. Ini adalah salah satu representasi masyarakat kita —sebagai orang yang tinggal jauh dari sumber wabah tersebut, merasa sah dan enjoy membuat lelucon dan candaan tentang virus jenis baru ini.

Wocoen   PKS: Antara Ideologi dan Kompromi Politik

Saya sering ngobrol dengan kawan tentang corona yang mulai mewabah di Indonesia dan kesiapan kita dalam menghadapinya. “Halah, nek wayahe mati yo mati. Urip matine makhluk kabeh kersane Gusti Allah sing nentokno. Gak perlu lebay nanggapi masalah iku (halah, kalau sudah waktunya mati ya mati. Hidup matinya makhluk di tangan Allah. Tidak perlu berlebihan menanggapi masalah itu).” Begitu rata-rata komentar yang ada.

Bagi saya tidak ada yang salah dari komentar tersebut. Tapi saya tentu juga boleh menawarkan padanan dari komentar tersebut dalam bentuk lain dong.

Jika seseorang bepergian naik motor dan dia memakai helm, apakah kita akan berkomentar “ngapain pakai helm? Hidup mati kan sudah diatur sama Allah”.

Atau semisal seseorang yang melarang kita mendaki gunung, yang dengan tanpa membawa peralatan safety, saat hujan lebat, badai dan petir, adalah orang yang berlebihan, paranoid dan tidak percaya bahwa hidup dan mati merupakan takdir Allah? Tentu tidak.

Segala upaya yang dilakukan untuk menghadapi korona merupakan salah satu bentuk ikhtiar, bukan sedang tidak memercayai Tuhan. Namun semata-mata demi tegaknya hifdzu al nafs atau dar’u al mafasid sebagai bagian dari semangat agama.

Dan tatkala beberapa daerah di Jawa belum lama ini terdapat orang meninggal dunia akibat virus corona, tiba-tiba ancaman wabah mematikan ini terasa riil dan konkret bagi kita. Lalu lelucon dan guyonan tentang Corona menjadi hal yang tidak menarik lagi bagi kita.

Dalam situasi demikian, melokalisir dan menghindari keramaian atau social distancing, serta menjaga kesehatan dan kebersihan dari diri sendiri maupun lingkungan terkecil pun menjadi langkah yang masuk akal dalam menghambat persebaran Covid-19.

Wocoen   Bisnis LENDIR Tak Akan Berakhir

Dalam masalah ini, dirasa juga harus terus mendukung pemerintah —termasuk mengkritik jika terdapat kebijakan yang sembrono, dan kerja-kerja tim medis sebagai garda terdepan dalam menghadapi Covid-19. Dan juga selalu ceria, serta berdoa, kembali berkontemplasi bahwa manusia tidak mempunyai daya apapun di hadapan Tuhannya. Tidak perlu lagi menganggap bahwa wabah ini sebagai azab, apalagi tentara Allah.

Tags

Hanif N. Isa

Mas-mas biasa.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close