Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Kebijaksanaan Seorang Pemimpin

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 0 views

orangtua-merokok

[dropcap]D[/dropcap]alam hidup ini kepemimpinan dan manusia adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa dipisahkan, ia melekat satu sama lain. Di mana pun dan kapan pun manusia berada, sadar tidak sadar, ia akan dihadapkan konsep kepemimpinan. Kala ia sendiri, dia menjadi pemimpin bagi diri dan anggota tubuhnya. Jika dia adalah seorang istri, dialah pemimpin bagi rumah tangganya. Jika dia adalah seorang suami, dialah pemimpin bagi keluarganya. Kala dia dihadapkan dengan alam maka ia lah khalifah atau pemimpin bagi alam itu. Belum lagi kala manusia tadi menjadi pemuka agama, tetua adat, pimpinan organisasi, pemerintahan, instansi dan lain sebagainya, maka sudah tidak bisa disangkal lagi kalau ia dan kepemimpinan tidak terpisahkan.

Karena pemimpin adalah penentu arah bagi apa yang dipimpinnya, maka ia juga lah yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka. Sebagai mana yang disabdakan oleh baginda Nabi, “masing-masing dari kamu adalah pemimpin maka masing-masing dari kamu akan dimintai pertanggungjawabannya”. Maka wajar bila lalu ada kendaraan angkot kesasar yang bertanggung jawab adalah sopirnya, dan ketika ada masakan gosong yang bertanggung jawab adalah kokinya, dan ketika ada anak didik yang tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran yang bertanggung jawab adalah gurunya, dan seterusnya.

Dari sana lah, tidak heran jika lalu seorang pemimpin memiliki gaya dan keputusannya masing-masing. Seperti, demi menjamin ketercapaian tujuan pembelajaran maka seorang guru memberikan pekerjaan-pekerjaan rumah kepada murid-muridnya. Demi terciptanya suasana yang khusyuk dan tenang maka seorang imam jadi tidak ramah dan tidak dapat mentolerir anak kecil di masjid. Demi membenarkan sesuatu yang dianggapnya salah maka seorang pemuka agama menegor pelaku di depan umum. Demi agar anaknya tidak menjadi orang yang gagal maka orang tua memaksakan pendidikan pada anaknya walau itu tidak sesuai minatnya.

Wocoen   Perempuan, Berpikir Aja Dulu

Rasa tanggungjawab tidak seharusnya membuat seseorang gegabah dan kehilangan pertimbangan yang matang. Rasa tanggungjawab seharusnya lahir dari cinta dan mewujud jadi cinta juga. Rasa tanggungjawab tidak seharusnya membuat seorang pemimpin bertindak kejam dan menghilangkan kemaslahatan. Padahal pijakan seorang pemimpin dalam bertindak adalah sebuah kemaslahatan, seperti yang ada dalam salah satu kaidah fikih “kebijakan seorang pemimpin atas yang dipimpinnya berdasarkan kemaslahatan”. Tentu kemaslahatan disini adalah kemaslahatan bersama.

Oleh karenanya sebagai pemimpin, seseorang harus bertindak berdasarkan kemaslahatan. Keputusan yang diambilnya pun harus telah ditimbang berdasarkan kemaslahatan bersama, agar kebaikan yang diniatkannya dari awal tidak menjadi musibah bagi mereka yang dipimpinya. Dan bila seorang pemimpin, entah itu pemimpin bagi dirinya sendiri ataupun pemimpin dalam arti sebenarnya, telah mampu menjadikan kemaslahatan bersama sebagai pijakannya dalam mengambil setiap keputusan maka ialah sosok pemimpin yang bijaksana.

Menimbang Kemaslahatan

Dalam salah satu diskusinya yang berjudul “fikih tradisi wali songo” Emha Ainun Nadjib, atau kerap disapa cak Nun, menegaskan bahwa “Dalam hidup itu ada tiga, satu bener salah, nomer dua baik buruk, nomer tiga indah dan jorok atau tidak indah” (Kamis 31 januari 2013 gedung PBNU Jakarta).

Inilah cara untuk menimbang kemaslahatan, orang berperilaku benar saja belum cukup untuk bisa dikatakan sebagai maslahat, namun dia juga harus menimbang baik buruknya juga, lebih-lebih jika ia lalu mampu menimbang indah dan tidak indahnya.

Misal, mengingatkan orang yang salah itu perkara yang “benar”, namun mengingatkannya di depan publik itu sesuatu yang “tidak baik”. Maka sebaiknya diingatkan namun tidak di depan umum, diingatkan saja secara empat mata. Apalagi jika mengikatkannya dengan tanpa membuat tersinggung dan sakit hati, maka sudah tentu memenuhi tiga kriteria; benar, baik dan indah.

Wocoen   Membahas Pluto memang lebih Mudah daripada Cuci Piring di Rumah

Oleh karenanya, alangkah baiknya jika seorang pemimpin itu berhati-hati dalam setiap memberikan keputusan atas apa yang dipimpinnya, karena setiap keputusan yang diambilnya akan memberikan dampak pada mereka yang dipimpin.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.