Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Kebingungan Air

Neyla Hamadah 3 min read 0 views

Saya sering meributkan soal air dengan Ibu saya. Misalnya ketika mengisi bak mandi kemudian lupa menutup kran hingga bak mandi menjadi luber, air terbuang sia-sia. Lantas saya dan Ibu saya saling menyalahkan. Meski akhirnya saya yang merasa bersalah sendiri karena lalai.

Dan sialnya itu sering dilakukan oleh Mbak di rumah saya, sebut saja namanya Mbak Mawar. Seperti kejadian kemarin ketika tiba-tiba bak kamar mandi dikuras, padahal setahu saya semalam Ibu saya baru mengisi penuh bak mandinya.

Benar saja tanpa bertanya terlebih dahulu, Mbak Mawar membuang semua air bak yang penuh begitu saja, dengan alasan bak sudah kotor. Ia membuangnya seolah air tidak berharga dan esok air akan datang mengalir lagi dengan sendirinya. Keyakinan yang dalam pandangan saya tanpa didasari pengetahuan.

Terasa menyakitkan lagi ketika menonton drama Korea. Seringkali ketika adegan sedih, aktrisnya lari atau ngumpet di toilet untuk menangis. Kemudian saat aktrisnya menangis, ia sembari membuka kran air. Suara kran air yang deras membuat saya geregetan ingin menutup krannya.

Bergemuruh perasaan saya, bukan menangisi adegannya tetapi menangisi air yang terbuang. Duh, sayang banget airnya. Rasa iri merasuk, dan bertanya-tanya dalam hati, apakah orang Korea sengaja pamer karena di negaranya stok air melimpah? Sehingga rakyatnya boleh membuang-buang air dalam adegan drama?

Jujur saya merasa terluka, jika ada hal yang berhubungan dengan membuang-buang air. Sebab air bagi saya sangat berharga. Bahkan mungkin lebih berharga ketimbang uang. Meski zaman sekarang uang bisa membeli air tapi pipa PDAM belum sampai ke desa saya. Dan konon, airnya terkadang macet.

Saya tinggal di sebuah desa yang sering mengalami “kebingungan air”. Penyerapan airnya sangat rendah. Proses siklus air tidak cukup baik. Jika musim hujan, air meluap ke mana-mana membawa sampah, sementara pada musim kemarau desa kami “kebingungan air”.

Wocoen   Pernikahan dan Tujuannya

Tidak ada sumber air di desa saya. Sungai pun dangkal. Dan nasibnya kini berakhir menjadi TPA sampah masyarakat sekitar. Sawah di desa saya sistemnya tadah hujan. Walhasil panen hanya terjadi jika musim rendeng (Jawa: musim penghujan). Dan ini terjadi sudah puluhan tahun lamanya.

Mungkin memori yang kuat atas pengalaman sejak kecil hidup di desa ini, membuat saya mempunyai hubungan yang sangat emosional dengan air. Karena hubungan yang sering putus-nyambung dengan air.

Pernahkah Anda mendengar tentang kisah “kebingungan air” di daerah lain? Seperti kisah seorang perempuan menempuh kiloan meter, naik-turun bukit. Menuju sebuah gua demi mendapatkan sumber air. Sumur di rumahnya telah mengering. Bu Miratin tinggal di daerah Pasuruan, perempuan itu tidak punya pilihan lain.

Juga kisah “kebingungan air” yang dialami oleh Mamas, warga Ibu kota. Semestinya akses air bersih dapat lebih mudah ia peroleh karena berada di pusat kota, yang tak kurang fasilitas dan segala akses. Justru Mamas bergantung pada pedagang air keliling ketika musim kemarau.

Sekelumit di antara kisah dari krisis air di negeri ini yang sampai hari ini belum menemukan ujungnya. Barangkali masih banyak kisah “kebingungan air” yang tersembunyi di daerah lain. Belum lagi konflik air yang melibatkan perusahaan air mineral di daerah Klaten. Atau konflik air di Jogja antara masyarakat dengan pihak sebuah hotel atau barangkali dunia perhotelan pada umumnya.

Juga ketidakberdayaan masyarakat melawan pengembang yang memprivatisasi air di daerah Bogor. Kapitalisme seperti sudah merata di semua sendi kehidupan termasuk air. Serasa membuat tenggorokan kita kering, dan kita hanya bisa menelan ludah karena kehausan.

Rakyat kecil dibuat dilema. Menggali sumur air tanah, biayanya cukup tinggi. Sementara jika berlangganan air pada perusahaan daerah, biaya bulanannya pun bisa dibilang tidak murah. Pilihan membuat sumur tanah dibayangi dengan kerusakan lingkungan berupa menurunnya permukaan tanah.

Wocoen   Lomba di Tengah Pandemi

Tapi yang lebih parah dalam usaha membuat sumur justru tidak keluarnya air meski sudah dibor sedalam-dalamnya, itu yang terjadi di desa saya. Bahkan sumur yang ada akan mengering jika satu bulan saja tidak turun hujan.

Pada dasarnya pengusahaan air dan sumber-sumber air untuk kesejahteraan rakyat adalah kewajiban negara, dalam hal ini dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Bukan semata dikuasai satu pihak untuk diambil keuntungannya dengan “merampoknya”. Sementara rakyat dibiarkan merana.

Tahun lalu BBC melansir dari lembaga penelitian resmi pemerintah bahwa pada tahun 2040 Pulau Jawa akan mengalami kelangkaan air. Penyebabnya selain perubahan iklim karena problematika lingkungan yang ditimbulkan oleh manusia, pun karena manajemen air yang buruk.

Aktivis lingkungan jauh-jauh hari memperingatkan mengenai perubahan iklim. Akan tetapi tak sedikit orang yang menganggap hal itu sekadar mitos atau bahkan dongeng sebelum kiamat, sebagai salah satu “tanda-tanda kiamat”.

Padahal peringatan itu seharusnya dijadikan rujukan untuk membenahi problematika lingkungan. Dari polusi air (limbah, sampah), penebangan hutan, berkurangnya kawasan hijau; menjadi bangunan tempat tinggal dan pusat perbelanjaan, adalah di antara faktor pasokan air makin mengering.

Dua puluh tahun lagi bukanlah waktu yang lama, seperti halnya reformasi yang seakan baru terjadi kemarin ternyata sudah berjalan dua puluh dua tahun. Apakah problematika air akan sama mendeknya dengan reformasi? Seperti air yang belum juga bisa mengalir merata sampai jauh ke pelosok tanah air?

Sebagai rakyat jelata saya tidak berdaya menyelesaikan konflik air. Tapi soal krisis air barangkali bisa sama-sama membuka mata bahwa krisis air nyata adanya. Jangan acuh tak acuh dengan kondisi itu. Krisis air tidak akan selesai hanya dengan doa-doa. Kita perlu menyadari bahwa tidak hanya kita saja yang membutuhkan air tapi juga anak-cucu kita.

Wocoen   Film UPA: Melawan Gaya Pacaran ala Dilan

Butuh tindakan nyata menyikapi krisis air. Dimulai dari hal kecil dengan lebih bijak menggunakan air. Akan lebih baik lagi jika ada kesadaran bersama untuk tidak boros dalam penggunaan air, dapat dimulai dari diri sendiri. Karena di akhir Juni ini, sepertinya intensitas hujan mulai berkurang. Maka dimulai dari sekarang untuk bersiap menghadapi musim kemarau. Berhemat air lah seperti berhemat pengeluaran.

Menjaga resapan air dan sumber air tetap mengalir dan tidak tercemar adalah tugas kita semua, tak terkecuali. Supaya proses hidrologi berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga tidak menimbulkan bencana banjir dan kekeringan. Juga bisa tetap berbagi air dengan makhluk hidup lain yang juga memiliki hak yang sama atas air di bumi ini.

Jika bukan manusia yang berinisiatif mulai hari ini. Apakah kita akan menunggu seperti apa yang dikatakan Eric Weiner penulis buku The Biography of Bliss : “Saat pohon terakhir sudah ditebang, ikan terakhir sudah ditangkap, dan sungai terakhir telah mengering, barulah manusia sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.”

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.