Nur Sihabudin Achmad Aktivis PMII Jombang. Studi di Universitas KH A Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang.

Kegagalan Mahasiswa dalam Memaknai Arti Sebuah Kata Mahasiswa

Nur Sihabudin Achmad 2 min read 1 views

Mahasiswa dalam peraturan pemerintahan RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali sarat dengan berbagai predikat.

Dari pengertian di atas adalah, mahasiswa sebagai calon intelektual atau cendekiawan muda yang nantinya sangat diharapkan oleh perkembangan arus bangsa. Atau dengan bahasa mudanya mahasiswa adalah sebagai agen of knowledge (agen pengetahuan), agen of control (agen kontrol), atau agen of change (agen perubahan). Dengan demikian, menyandang gelar sebagai mahasiswa tidak hanya selesai dengan menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah saja. Tetapi bagaimana ketika menjadi mahasiswa dapat berpikir kritis dan mampu menciptakan sebuah perubahan.

Lalu, seberapa pentingkah mahasiswa sekarang bisa memahami arti gelarnya sebagai mahasiswa? Menurut penulis, memahami arti dari kata mahasiswa itu sangat penting. Karena ketika mengetahui arti dari kata mahasiswa, akan bisa mempermudah mahasiswa dalam menentukan langkah berproses dan menentukan paradigmanya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi tersebut. Ada sebuah contoh di kota jombang yang terdapat beberapa perguruan tinggi. Di sini penulis akan mencontohkan pada satu kampus sebut saja nama kampus itu UNW. Kampus UNW dirasa penulis telah gagal dalam mengartikan kata mahasiswa, yang akhirnya mahasiswa sekadar kuliah dengan menyelesaikan SKS yang sudah ditargetkan di perguruan tinggi UNW. Sementara itu, mahasiswa abai dengan kebobrokan yang terjadi dalam sistem birokratnya, yang menurut pandangan penulis perlu diubah. Lantas di mana mahasiswa sebagai agen pengontrol yang seharusnya perannya membantu orang birokrat dalam menentukan sistem yang baik, bukan malah diam tak bergerak. Nah, dengan ini sangat dipertanyakan, Di mana tanggung jawab mahasiswa yang seharusnya menjadi agen of change?

Wocoen   Filsafat Dhomir Fa’il dalam Fi’il Madhi dan Mudhori’

Di sini penulis berusaha menawarkan sebuah pemikiran apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa UNW. Sebagai mahasiswa harus mengerti apa arti sejatinya dari kata mahasiswa dan paradigma apa yang harus digunakan oleh mahasiswa UNW. Pengertian mahasiswa adalah pertama, agen of knowledge (agen pengetahuan), diharapkan mahasiwa mampu memperoleh pengetahuan tentang isi dari matakuliah, seminar, dan mahasiswa dituntut untuk suka membaca (literasi), sudah saatnya membangun semangat membaca. Kedua, agen of control (agen kontrol), dengan menjadi agen pengontrol, mahasiswa dituntut untuk paham dengan problem yang ada di sekitarnya. sedangkan ketiga, agen of change (agen perubahan) di sini sangat diharapkan mahasiswa mampu mengubah keadaan sekitarnya menjadi lebih baik lagi dari tahun ke tahun. Dengan demikian dibentuklah paradigma mahasiswa yang mampu berpikir liberal. Dengan cara berpikir liberal, mahasiswa akan kaya dalam pengetahuannya. Mahasiswa akan menjadi bebas dalam mengontrol. Baik mengontrol pola pikir ormawa, yang hanya mengedepankan proker berjalan lancar tanpa memikirkan output dan inputnya maupun mengontrol sistem birokrasi kampus. Sampai tatanan tertinggi yaitu mengontrol negara. Dan pada akhirnya mahasiswa mampu membuat perubahan dalam kerusakan sistem di sekitarnya.

Dengan cara berpikir liberal memang akan menimbulkan mahasiswa kritis, suka membangkang, memberontak. Tetapi bagi penulis adalah suatu hal yang wajar yang memang harus ada fase seperti itu pada mahasiswa. Seperti yang dikutip oleh bung Kristeva pada bukunya Hand Out Kaderisasi pada bab Pendidikan Kritis tentang pemikirannya Paulo Freire. Di situ dijelaskan Paulo Freire mendidik muridnya dengan metode pendidikan liberal. Yang diharapkan Paulo freire yaitu, peserta didik dapat berpikir secara kritis, dan bisa mengutarakan argumennya. Dengan begitu, berpikir secara liberal saat menjadi mahasiswa adalah suatu keharusan, karena itu yang akan membedakan pola berpikirnya siswa dan mahasiswa.
Dengan adanya tulisan ini, penulis sangat mengharapkan kepada pembaca agar mampu mengartikan sejatinya mahasiswa dan pola berpikirnya mahasiswa. Yang nantinya tidak hanya menjadikan agen of knowledge, agen of control, dan agen of change sebagai semboyan atau jargon saja. Tetapi, dijadikan sebagai tujuan untuk menjadi mahasiswa secara utuh. Sudah saatnya menunjukkan semangat perubahan.

Wocoen   Puasa dan Kebaikan

Masa yang paling indah adalah masa yang bisa dinikmati sesuka hati. Perubahan yang indah adalah ketika berhasil mengubah diri sendiri. Kegagalan itu pasti, keberhasilan itu mutlak.

Nur Sihabudin Achmad
Nur Sihabudin Achmad Aktivis PMII Jombang. Studi di Universitas KH A Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.