Kekerasan oleh senior dalam dunia pendidikan

Kasus-kasus kekerasan dalam pendidikan hingga menyebabkan kematian, membuat saya semakin yakin bahwa nuansa senioritas dalam dunia pendidikan perlu dihilangkan. Nuansa senioritas di sini maksudnya adalah senior bisa dengan seenaknya melakukan kekerasan baik secara ferbal maupun secara fisik. Hirarki dalam instansi pendidikan cukup guru-murid saja. Tidak ada lagi senior yang melakukan penghakiman pada juniornya di dalam instansi pendidikan. Entah apapun itu namanya.

Namun banyak juga yang berpendapat bahwa nuansa senioritas masih perlu dipertahankan, dengan alasan senioritas dapat membekali anak didik akan realita kehidupan, bahwa dalam hidup ini anak akan juga mengalami interaksi dengan seniornya, maka dengan adanya nuansa senioritas anak akan mampu bersikap dengan tepat pada seniornya. Senior juga dianggap dapat juga menularkan prinsip-prinsip dalam berorganisasi, dengan demikian senioritas perlu dipertahankan, dengan catatan hal-hal negatif dalam hubungan senior-junior dihilangkan.

Kebanyakan dari kepala instansi terlalu percaya terhadap kemampuan anak didiknya yang telah senior, padahal seringkali kepercayaan itu terhianati. Seperti apa yang terjadi baru-baru ini, ada kasus kekerasan hingga mengakibatkan terbunuhnya seorang siswa di pondok pesantren Gontor. Seorang ketua pelaksana sebuah acara yang dianiaya oleh anak-anak yang secara struktural organisasi di atasnya, hingga tewas.

Menggali akar masalah dari satu kasus memang tidak sesederhana itu, hingga dengan mudahnya kita bisa menunjuk siapa yang menjadi akar dari masalah pada kasus itu. Apakah pimpinan tertinggi, ataukah badan pengawas kesiswaan, ataukah pembina, ataukah orang-orang yang mewariskan atau mentradisikan kekerasan dalam instansi tersebut? Perlu penelitian lebih lanjut dan serius untuk menjawab hal itu.

Pada dasarnya kekerasan terjadi, memang karena kurangnya pengawasan dari pendidik, yang seharusnya paham akan “batasan” suatu tindakan hingga tidak terjerumus pada tindakan kekerasan. Tapi bisa juga terjadi akibat “pendidik” yang melumrahkan tindakan kekerasan sebagai salah satu unsur guna mendidik anak. Walaupun, kemungkinan kedua ini di zaman modern ini sudah mulai langka, sebab terus berkembangnya ilmu pendidikan yang semakin ramah terhadap anak.

Perlu adanya kesadaran dalam mengikis kekerasan dalam pendidikan. Kesadaran harus ada dalam benak para senior dan juga para pendidik yang hirarkinya ada di atas para senior tersebut. Tapi, menumbuhkan kesadaran ini bukanlah hal yang mudah, apalagi pada instansi yang sudah mengakar tradisi melumrahkan kekerasan pada pendidikan.

Meskipun demikian, menumbuhkan kesadaran secara kolektif baik pada para senior dan para pendidik bukanlah hal yang mustahil. Tapi memang butuh komitmen yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Agar ketika ada yang secara tidak sadar ataupun terlanjur melakukan tindakan kekerasan, ada rasa tanggungjawab untuk menegur dan mengingatkan.

Bila perlu, di tahap yang paling parah, kekerasan oleh senior yang sudah benar-benar sulit untuk diurai bisa dihilangkan dengan cara menghentikan sejenak interaksi senior dan junior ini, dan para pendidik mengambil alih peranan para senior untuk sementara hingga masalah itu benar-benar bisa terurai. Maka, mengkaji ulang struktur organisasi siswa, tugas dan wewenang mereka, perlu dilakukan. Hingga, tidak ada kekerasan yang luput dari pengawasan para pendidik.

Peranan negara dalam hal ini kementerian agama, saya rasa sudah baik. Menurut kompas.tv (https://www.google.com/amp/s/www.kompas.tv/amp/article/326361/videos/menag-yaqut-siap-cabut-izin-operasional-ponpes-gontor-buntut-kasus-penganiayaan-santri) bahwa Mentri agama saat ini akan mencabut izin operasional Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Gontor, jika terbukti terjadi pelanggaran hukum yang sistematis.

Begitu juga peranan masyarakat sebagai pengawas dan pemerduli masalah-masalah dalam dunia pesantren juga cukup baik. Hingga mau tidak mau, pihak lembaga yang terkait pun terdesak untuk mengevaluasi ulang tatanan di dalam lembaganya. Terbukti, berita tentang kekerasan yang sampai mengakibatkan santri tewas dalam ponpes Gontor turut menjadi perbincangan yang panas bagi netizen.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 56 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.