Kematian yang Dekat

Tes … TesAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sampun tilar dunia bapak Fulan RT 9 RW 9 wau jam sedoso enjing wau, monggo bapak ibu sederek sedanten takziah sareng – sareng teng dalemipun almarhum“. Begitulah kira-kira informasi yang disampaikan tokoh masyarakat melalui toa masjid di salah satu desa di Lamongan Jawa Timur . Berita kematian sepertinya menjadi hidangan masyarakat desaku setiap hari.

Entah apa sebab kematian itu, ada yang beranggapan si A terkena kencing manis, si B terkena penyakit lambung, dan si C terkena penyakit komplikasi. Beberapa orang menyakini bahwa mereka yang meninggal lantaran terkena covid 19, dan sebagian lainnya tetap menyakini bahwa mereka yang meninggal memang karena penyakit bawaan. Wallahu alam.

Berita kematian yang sering disiarkan setiap hari di desa tersebut membuat masyarakat khawatir dan was-was. Pasalnya terkadang ada dua atau tiga orang yang meninggal secara bersamaan dihari yang sama.

Kehidupan orang orang di desapun menjadi berubah dan sepi. Anak-anak yang biasanya meramaikan sudut-sudut gang sementara ini dilarang. Kawala muda yang biasanya berkumpul di warung kopi kini bubar.

Pedagang yang dulu meramaikan pasar kini libur. Jamaah salat yang biasanya rapat kini berjarak. Dan bapak-bapak yang biasa duduk di warungpun kini sadar untuk memakai masker. Semarak keramaian kehidupan masyarakat desa tersebut seakan dibuat berhenti.

Roda ekonomi yang mulai sempat membaik kini dipaksa turun perlahan. Semua diharuskan tunduk serta patuh oleh keadaan dan kejadian itu telah berlangsung hingga saat ini. Entah sampai kapan akan berakhir. Saya pun berdoa dalam hati jangan sampai saya dan keluarga terkena penyakit ini dan kita semua senantiasa diberikan kesehatan oleh Yang Maha Kuasa.

Saya melihat bahwa kejadian tersebut merupakan salah satu dari dampak melonjaknya wabah Covid-19. Penyakit ini telah menyerang orang orang baik muda, maupun tua, baik yang sehat maupun yang sakit. Dan salah satu faktor yang membuat banyaknya orang meninggal di desa tersebut adalah Covid-19.

Penyakit ini telah melumpuhkan kehidupan masyarakat di kota maupun di desa, dan memukul sektor ekonomi masyarakat. Bahaya penyakit ini juga membuat masyarakat takut lantaran mereka yang meninggal sebagian besar memang benar benar terkena Covid-19.

Barusan saya menyaksikan Kompas TV bahwa beberapa daerah di indonesia mengalami lonjakan Covid-19. Beberapa rumah sakit penuh, para nakes kesulitan mengurus banyaknya pasien yang setiap hari bertambah dan bertambah.

Dan yang membuat saya pilu adalah berita di Kompas TV tentang meninggalnya seorang ibu bersama dengan buah hatinya yang masih di dalam kandungan. Sang suami yang juga termasuk tenaga kesehatan tak kuasa menahannya ketika mengantarkan istri dan buah hatinya dibawa oleh ambulan. Namun ia tetap tegar dan melaksanakan tugasnya sebagai nakes.

Orang-orang yang menyaksikan pun menyemangati bahwa kita semua bisa melewati masa masa ini. Hampir dua tahun sudah kita hidup dalam bayang bayang wabah ini.

Hal yang paling penting bagi kita adalah menyiapkan segala sesuatu. Kematian ini seperti sebuah perjalanan. Perjalanan menuju alam barzakh. Jika kita akan melakukan perjalanan tentu harus menyiapkan segala sesuatu.

Saya mengutip makhfuzat: man arafa bu’da safari istaadda, barang siapa yang tau jauhnya perjalanan maka ia akan bersiap siap. Bersiap-siap di sini adalah siap mental, siap amal dan siap akan segala sesuatu bahwa kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Ketika di pesantren guru saya Syaikh Husain seorang pengajar dari Al Azhar Mesir mengatakan bahwa “kematian itu seperti anak panah ia akan selalu mengejarmu, kemanapun engkau pergi maka anak panah itu akan mengenaimu kelak”. Kita tak pernah tahu kapan kematian akan mengenai kita, dan kita juga tak akan menyangka kapan gilaran kita terkena penyakit tersebut, semoga tidak.

Bagi sebagian warga desa saya bahwa Covid-19 dapat menyebabkan kematian. Memang benar bahwa banyak orang yang meninggal karena Covid-19. Tetapi hal itu tidak harus menjadikan kita takut dan pesimis.

Hal terpenting bagi kita adalah menyiapkan sesuatu mulai dari vaksinasi sebagai upaya memperkuat imun, menjaga protol kesehatan, dan adanya usaha kolektif antara masyarakat dan pemerintah. Tanpa adaya usaha kolektif dari masyarakat dan pemerintah maka mustahil wabah ini bisa berakhir dan hilang.

Semakin pemerintah tidak siap, dan masyarakat abai maka semakin lama dan jauh wabah ini bisa berakhir. Maka yang kita butuhkan adalah Gotong royong sebagai kunci sukses dalam memerangi wabah tersebut.

Terkadang kita iri ketika menyaksikan pertandingan sepak bola piala Eropa, kok bisa bisanya para penonton bebas berkumpul dan tidak menggunakan masker serta jaga jarak tanpa takut terkena penyakit Covid-19. Di saat yang sama kita di sini masih terus berjuang agar wabah ini hilang sehingga kita bisa beraktivitas seperti dahulu kala.

Musim kematian ini tidak lantas membuat kita takut dan pesimis. Musim kematian ini harus kita jadikan sebagai ibrah pelajaran agar kita siap, siap mental pikiran dan siap untuk menerima apapun.

Terakhir saya ingin mengutip syair Arab yang menjadi pegangan almarhum Gus Dur:
ولدتك أمك يا ابن آدم باكيا # والناس حولك يضحكون سرورا
فجهد لنفسك ان تكون اذا بكو # في يوم موتك ضاحكا مسرورا

Ibumu melahirkan wahai anak Adam. Ketika itu engkau menangis, manusia sekitarmu tertawa bergembira. Maka buatlah dirimu ketika mereka menangisi di hari kematianmu engkau sendiri tertawa bahagia.”

About Muhammad Bagus Ainun Najib 10 Articles
Guru Madrasah dan Alumni UIN Maliki Malang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.