Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Kembali Melihat Pojok-pojok PMII

Hanif N. Isa 3 min read 1 views

Lebih dari satu dekade saya mengenal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saya masih ingat betul awal perkenalan dengan PMII. Hal tersebut sulit dilupakan karena merupakan peristiwa besar bagi saya sebagai awal mula mengenal pentingnya ‘laku ndakik’ bagi keberlangsungan eksistensi seorang mahasiswa.

Para senior PMII di lingkungan kami gemar ‘menculik’ mahasiswa baru untuk diikutkan sebagai peserta Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), jenjang pendidikan formal dasar di PMII. Dengan terbatasnya akses daring, pendekatan secara offline dan personal memang dianggap paling efektif.

Kegiatan ‘menculik’ mahasiswa baru seperti ini saya pikir menjadi tradisi di berbagai komunitas PMII di banyak kampus. Hal ini mungkin juga terjadi di organisasi ekstra kampus selain PMII pada umumnya. Memberi iming-iming hal-hal realistis dan pragmatis kepada mahasiswa baru adalah cara yang instan dan praktis bagi kami.

Dengan PMII saya mulai belajar ndakik. Mampu atau tidak mampu, paham atau tidak paham, yang penting ndakik dulu. Yang penting tercitrakan sebagai kaum intelektual. Ini yang saya rasakan. Saya ambisius akan hal tersebut sekaligus pemalu. Saya yakin sahabat-sahabat PMII yang lain tidak begitu.

Kami gemar mendiskusikan tema-tema besar yang jauh dari kehidupan kami dan tidak tersentuh oleh kapasitas masyarakat kelas bawah. Idealisme harus dipupuk setiap harinya dengan berdiskusi. Saking idealisnya, saya sendiri sampai sering lupa, berapa kali saya mandi dalam sehari, berapa kali uang kuliah dari orangtua yang belum terbayarkan sebab terpakai untuk mentraktir sahabat-sahabat PMII terutama menjelang Rapat Tahunan Komisariat (RTK) ataupun Konferensi Cabang (Konfercab).

Bagi saya hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Saya akan merasa berdosa bila sepekan tidak mampu menuntaskan membaca buku tentang Karl Marx atau buku-buku kiri lainnya.

Wocoen   Mengembalikan Marwah Warung Kopi

Kami akan bersemangat bila membincangkan perihal politik di tingkat kampus, daerah hingga nasional. Di bawah sadar, agaknya kami terobsesi dengan para senior yang menjadi birokrat maupun politikus tanah air. Tolak ukur kesuksesan seorang kader atau alumni PMII —dan barangkali aktivis organisasi kemahasiswaan yang lain— adalah dapat masuk ke jajaran elite politik dan birokrasi di level daerah maupun nasional, ngantor di Kemenpora, misalnya.

Secara kolektif —walaupun belum tentu di tingkat personal, menjadi elite politik adalah impian orang-orang PMII. Kami benci menjadi golongan proletar yang selalu tertindas oleh oligarki. Sebagai alumni PMII, kami akan gembira jika di suatu kesempatan dilamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) misalkan, yang kantornya merupakan tempat nongkrong dan silaturahmi kami dulu. Atau menjadi bagian lembaga pemerintahan maupun parpol lain pada umumnya.

Saya pernah menghadiri salah satu forum PMII cabang di tempat saya tinggal. Tentu saya bertemu dengan banyak sahabat-sahabat alumni. Di suatu kesempatan ngobrol, salah seorang dari mereka bertanya, “sekarang kamu berproses di mana? LSM, NU, pemkab, parpol atau apa gitu?”

Dengan pertanyaan demikian, bisa ditangkap jika sebenarnya dia tidak menghendaki saya menjawab, misalkan seorang petani, guru ngaji atau buruh pabrik. Bagi orang-orang PMII, pekerjaan tersebut bukanlah profesi linier mahasiswa aktivis PMII.

Namun dinamika PMII terus berjalan. Kultur yang dulu selalu lekat dengan kehidupan PMII kadang berubah.

Saya melihat PMII hari ini semakin dekat saja dengan Ahlussunah Wal Jamaah ala pesantren. Konsumsi buku-buku kiri mulai berkurang, dengan mulai memperbanyak bacaan tentang pemikiran ulama-ulama Nusantara. Program-program yang diproyeksikan untuk memerangi paham radikalisme dibahas lebih serius. Penyesuaian pergerakan organisasi dengan era digital dan industri 4.0 menjadi tema urgensi.

Wocoen   Isu Pemakzulan Presiden di Tengah Pandemi Covid-19

Kenyataan tersebut bukan tanpa implikasi. Secara makro, PMII sebagai organisasi agaknya mulai mengurangi porsi pergerakannya di pendampingan masyarakat akar rumput, isu-isu agraria, omnibus law, dan lain sebagainya. PB PMII yang dinahkodai Agus Mulyono Herlambang sepertinya cukup siap dengan kenyataan tersebut.

Hal tersebut juga tidak lepas dari kenyataan semakin dekatnya PMII dengan Nahdlatul Ulama (NU) selepas Muktamar NU ke-33 di Jombang. Atau paling tidak semenjak kepemimpinan Sahabat Aminuddin Ma’ruf yang kini menjadi Staf Khusus Kepresidenan.

Terlepas dari sudut-sudut PMII di atas, secara garis besar ada masalah-masalah nasional yang tidak sepatutnya dilupakan oleh kader PMII dan mahasiswa secara umum dalam agenda perjuangannya.

Pertama, industrialisasi. Yang kerap dilupakan ialah pekerjaan advokasi, yang dalam istilah agama disebut nahi munkar. Dalam industrialisasi akan terjadi masalah perampasan, penggusuran, pelanggaran hak buruh dan lain pelanggaran hak masyarakat proletar lainnya. Peran mahasiswa atau pemuda secara umum sangat diperlukan dalam masalah ini.

Kedua, demokratisasi. Masalah demokratisasi adalah campuran antara nahi munkar dan amar makruf. Disebut nahi munkar, bila kita mengingat bahwa struktur harus dicegah, agar tidak ada tekanan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh elite politik dengan mengatasnamakan demokrasi.

Masalah demokratisasi termasuk juga wilayah amar makruf, bila kita mengingat bahwa masyarakat harus diberi pengertian. Demokrasi bukan hanya masalah politik praktis, namun juga masalah dakwah dan beragama. Persoalan intoleran dan radikalisme adalah salah satu implikasi dari kurang maksimalnya amar makruf ini.

Ketiga, pluralisasi. Sampai saat ini kita masih kesulitan meyakinkan umat bahwa Islam menghormati realitas, bahwa Indonesia adalah masyarakat majemuk. Istilah pluralisme itu sendiri juga masih multitafsir jika dikaji dari sudut pandang agama. Masalah ini masuk dalam tanggung jawab semua pihak tidak terkecuali mahasiswa dan PMII pada khususnya, sebagai organisasi kemahasiswaan berideologikan Ahlussunah Wal Jamaah.

Wocoen   Hak Tenaga Medis di Tengah Wabah Covid-19

Selain masalah besar nasional tersebut, permasalahan yang bersifat insidentil seperti wabah Covid-19 seperti saat ini juga merupakan tanggung jawab mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat, saling bahu membahu, membantu sesama yang terdampak pandemi secara langsung.

Sudah sepatutnya mahasiswa dan kader PMII menjadi bagian kelompok yang menjawab kebutuhan masyarakat terdampak wabah. Dimulai dari diri sendiri, mematuhi apa yang seharusnya dilaksanakan untuk memutus penyebaran virus, memberikan arahan kepada masyarakat agar selalu menjaga diri dari segala bentuk jalan penyebarannya, memfilter penyebaran berita palsu tentang Covid-19 yang menyebabkan masyarakat panik.

Selamat Harlah PMII ke-60. PMII akan tetap harus dekat dengan Tuhan, kritis, idealis, dan mengabdi kepada masyarakat dengan zikir, fikir dan amal saleh-nya.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.