Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Kemesraan yang Sering Disalahpahami

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

Kemesraan-yang-sering-disalah-pahami-cartoon

Yah mungkin saya adalah salah satu orang yang salah faham tentang kondisi negara indonesia ini. Selama ini saya mengira indonesia ini adalah negara yang setiap hari cekcok, negara yang setiap hari ribut, negara yang tiap hari paido-paidoan dan seterusnya. Ada saja yang diributin pada tiap harinya, mulai masalah bid’ah hingga masalah gubernur non-muslim. Dulu saya mengira kalau begini terus bisa-bisa indonesia akan bercerai berai. Namun rupa-rupanya saya keliru besar selama ini.

Kalau boleh mengibaratkan, hidup bernegara dan berdampingan dengan orang lain itu ibarat orang berumah tangga. Dalam berumah tangga ada yang dinamakan kemesraan, dan tidak ada ketentuan husus dalam memahami mana prilaku hasil dari ekspresi mesra dan mana yang bukan. Mesra tidak harus diekspresikan dengan berpelukan tiap pagi menyambut terbitnya sang mentari, tidak harus pula diekspresikan dengan cium kening si istri ketika berangkat dan pulang kerja, tidak wajib pula diekspresikan dengan makan disuapin atau bahkan suap-suapan. Tidak ada peraturan bahwa mesra harus dilakukan demikian, semua bebas berekspresi, terserah masing-masing orang. Ada yang mengekspresikan kemesraan dengan cara tidak makan makanan kecuali masakan si istri, ada yang mengekspresikan kemesraan dengan curhat dan berdiskusi dengan sang istri sampai pagi, ada yang mengekspresikannya dengan tukaran (cekcok)  dengan istri setiap hari.

Nah, cara mengekspresikan kemesraan yang terahir ini nih yang begitu menarik, mengekspresikan kemesraan dengan ribut aja tiap hari. aneh memang, tapi saya yakin anda semua pasti pernah menjumpainya. Ada beda yang begitu mencolok antara ribut mesra sama ribut beneran, yakni di waktu endingnya. Kalau ribut gara-gara mesra tentu endingnya tidak berujung pada berantem jotos-jotosan, namun malah tambah bikin tambah lengket. Tapi kalau ribut gara-gara yang lain (bukan ribut hasil dari ekspresi kemesraan) itu ending-endingnya jotos-jotosan, kemarahan dan kekejaman.

Wocoen   Membaca Ulang Deradikalisasi

Nah, dari sana saya menyadari bahwa selama ini saya berperasangka buruk pada orang-orang yang setiap harinya pada saling ribut itu. Tiap hari ribut namun kok tidak berani jotos-jotosan, seolah menunjukan bahwa mereka adalah manusi-manusia berjiwa pengecut. Namun setelah memahami logika kemesraan  di atas, sekarang saya yakin, ini pasti salah satu ekspresi kemesraan mereka dalam bernegara. Yah, mungkin mereka sudah terlalu bosan, kalau mesra itu diekspresikan dengan cara berpelukan, salaman tiap hari, saling tegur sapa dan seterusnya. Tapi kala kemesraan diekspresikan dengan ribut-ribut gitu kan serasa ada yang beda, seperti ada sensasi baru, yang gimana gitu.

Buktinya, juga di sini, di negara ini tidak ada yang bunuh-bunuhan seperti di negara-negara lain. Mari lah kita sepakati, apapun yang berujung sampai saling membunuh itu bukan lah sebuah ekspresi bermesraan, itu adalah ekspresi kekejaman. Sudah jamak kita ketahui bersama tidak ada nilai dari manapun yang melegalkan kekejaman.

Walaupun seperti itu, jangan lalu membuat kita cuma mengekspresikan kemesraan (menebar cinta kasih dan perdamaian) dengan sesama manusia, dengan cara ribut tiap hari. Boleh lah pemahaman itu mempengaruhi kita dalam memandang setiap percekcokan yang kita temui, namun jangan sampai itu menjadi pendorong kita melalukan percekcokan dengan sesama manusia. Ada begitu banyak cara untuk menebar cinta kasih yang lebih elok nan indah.

Well, untuk melengkapi kemesraan yang telah dibualkan dari awal tadi, mari lah kita doakan bersama, semoga semua penghuni negara yang tercinta ini semakin mesra tiap harinya dan langeng dalam menjalin cinta kasih antar sesama penghuninya, diberi pemimpin yang adil serta bertindak berdasarkan kemaslahatan rakyatnya, dan baldatun toyibatun wa robbun ghofur…

Wocoen   Habis Masa Idealistis, Terbitlah Masa Realistis
Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.