Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Kenapa Fitnah Tidak Pernah Ketinggalan Zaman?

Muhamad Isbah Habibii 55 sec read 16 views

Fitnah adalah perilaku manusia yang sudah ada sejak dulu kala. Ia merupakan perilaku primitif yang mampu bertahan hingga kini.

Fitnah masih ada hingga masa kini menunjukkan bahwa ia masih selalu dilestarikan oleh manusia. Padahal banyak ajaran yang sepakat bahwa fitnah adalah salah satu tindakan yang buruk dan sangat tidak patut untuk dilakukan. Harusnya perilaku ini sudah punah sejak dahulu kala, tapi nyatanya tidak demikian.

Karena manusia memiliki keinginan dan kebencian, maka fitnah masih jadi pilihan utama untuk memuaskan dahaga keinginan dan kebencian. Fitnah masih selalu dianggap bisa menjatuhkan orang lain dengan praktis, murah dan cepat. Tanpa perlu repot-repot harus ke dukun ataupun baku hantam.

Kerugian bagi lawan yang disebabkan fitnah sangatlah nyata. Dengan satu fitnah saja, rumah tangga yang baik-baik saja bisa hancur seketika. Cukup dengan sebuah fitnah, jabatan tinggi bisa raib begitu saja.

Power dari fitnah bisa semakin maksimal bila budaya menyaring informasi masih sangat rendah. Ketika orang dengan mudahnya mempercayai segala informasi yang didapat, maka di situlah fitnah bisa menemukan masa kejayaannya.

Lepas dari jeratan fitnah pun tidak semudah mengakatan “ah itu tidak benar”. Fitnah bisa sangat diimani, hingga sangat sulit untuk digoyahkan. Bahkan di beberapa kasus, fitnah bisa sangat tampak seolah-olah benar, karena si pelaku mampu menyebutkan bukti-bukti.

Fitnah ibarat racun yang ampuh untuk menumbangkan lawan-lawan. Persis, pelakunya pun bisa siapa saja tidak perlu memiliki keberanian, berbeda dengan baku hantam yang layaknya kesatria.

Agama menyebutnya sebagai tindakan yang lebih kejam daripada pembunuhan. Karena membunuh hanya akan memberikan sakit seketika saja. Memfitnah ibarat psikopat yang melakukan mutilasi korbannya secara hidup-hidup, sedikit demi sedikit seolah dibuat deritanya tiada akhir.

Wocoen   Lakon Menang Keri
Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.