Kenapa SMK atau Sederajatnya Tidak Membuka Jurusan Pertanian?

Beberapa kali saya berpikir tentang sistem yang ada di dunia sekolah. Salah satunya bagaimana sumber daya manusia (SDM) bisa berkembang dan memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Sebenarnya tidak hanya itu; dan kenapa sekolah mengajarkan ilmu pergi?. Sebuah pertanyaan yang kerap menampar kondisi batin saya.

Saya sendiri sadar, bahwa saya produk dari sekolah formal yang hanya mengedepankan produk nilai. Sekolah hanya memberi tahu kerumitan pelajaran yang tidak ada pengaruhnya dalam lingkungan sekitar. Suatu contoh pada pelajaran matematika yang menggunakan rumus atau yang lainnya, hal tersebut sebenarnya tidak ada dampak atau kaitannya bagi lingkungan sekitar terkecuali jika anak tersebut mau menjadi matematikawan dan masih banyak lagi contoh mata pelajaran yang membuat pikiran pusing. Sekolah tidak salah, sekolah hanya tempat atau fasilitas yang digunakan untuk belajar.

Sebenarnya sekolah itu apa?. Mungkin pertanyaan tersebut sulit dijelaskan dengan jelas atau gamblang untuk menemukan suatu jawaban yang tepat. Saya pernah riset kecil-kecilan berkaitan tentang sekolah. Pertanyaan dasarnya “Sekolah itu apa?”. Sebagaian orang hanya menjawab pengertian dalam lingkup dasarnya, seperti sekolah adalah tempat belajar untuk mununtut ilmu supaya menjadikan manusia cerdas dan berkarakter. Jawaban tersebut benar, tetapi menurut saya kurang tepat. Coba direnungkan terlebih dahulu bahwa sejatinya sekolah itu apa?.

Kembali lagi dalam pertanyaan awal atau judul besar tulisan ini “Kenapa SMK atau sederajatnya Tidak Membuka Jurusan Pertanian”. Sebagian orang tidak asing lagi dalam kata pertanian. Sebagian orang atau anak muda membicarakan Pertanian itu identic dengan kotor, yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang yang hanya di desa.

Saya tidak setuju, bahwa pertanian itu identik dengan kekotoran. Sudut pandang tersebut mungkin yang mewarnai anak muda setelah lulus sekolah tidak mau terjun ke dalam dunia pertanian. Sebabnya yang ia ketahui adalah petani itu kotor, petani adalah miskin. Pola pemikiran tersebut yang mengakibatkan anak muda setelah lulus sekolah harus pergi bekerja di daerah lain. Dan sungguh dunia sekolah tidak mengajarkan pelajaran yang berbau dengan lingkungan sosial petani, sehingga anak muda tidak mengerti pertanian sesungguhnya. Seharusnya sekolah harus dapat berperan dalam membangun desa salah satunya di desa tersebut yang sebagian besarnya adalah petani.

Dalama buku yang berjudul Imajinasi, Problematika, Kompleksitas Wajah Pendidikan Indonesia (Anggi Afriansyah; 2021) halaman 14 menjelaskan bahwa untuk tingkat pendidikan menengah, khususnya SMK misalnya muatan lokal dapat dikembangkan sebagai mata pelajaran sehingga dapat memancing minat wirausaha anak-anak. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa sekolah jangan sampai menghilangkan produk-produk lokal atau jangan sampai melupakan desanya.

Seharusnya SMK atau sederajatnya dapat membantu mengembangkan suatu desa. Tidak hanya SMK atau SMA melainkan semua lingkup sekolah dan perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam lingkup kemasyarakatan. Kalaupun SMK atau SMA mau membuka jurusan baru seperti pertanian mungkin tidak akan kalah dengan jurusan-jurasan yang sering saya dengar. Biasanya SMK lebih membuka atau memprioritaskan jurusan seperti Teknologi Mesin, Teknik Motor, Farmasi, Akutansi dan lain-lain. Sedangkan untuk SMA lebih mengedepankan jurusan IPA, IPS, Bahasa Arab dan lain-lain. Kenapa tidak ada jurusan pertanian?

Sebenarnya jika jurusan pertanian di galakkan di sekolahan. Bidang pertanian tersebut akan membantu birokrasi di dalam lingkup pedesaan. Dalam lingkup pertanian pastinya akan diajari bagaiaman cara memilih benih yang unggul, bagaimana mengelolah tanah yang baik. Dari cara-cara tersebut mungkin akan lebih mempermudah untuk membantu perkembangan pertanian. Anak-anak mudah akan lebih tertarik untuk menggeluti dunia pertanian.

Sayangnya, dunia sekolah ini menjauhkan diri dari muatan lokal tersebut. Sehingga dampaknya begitu signifikan yaitu anak-anak mudah setelah lulus sekolah lebih tertarik untuk pergi ke suatu tempat (merantau) untuk mencari pekerjaan yang baik atau lebih baik. Sebenarnya merantau juga belum tentu nasib baik mendekati. Artinya bisa jadi tidak dapat penghasilan yang begitu baik.

Sekolah Menengah Kejuruan 

Praktisi pendidikan tidak henti-hentinya menyuarakan persoalan pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah merupakan sentranya pendidikan ke dua setelah keluarga. Oleh sebab itu, setelah memasuki dunia sekolah terutama seorang pendidik jangan sampai menghilangkan muatan lokal di desa itu sendiri. Seperti tutur Ki Hajar Dewantara pada bukunya Pendidikan I, KHD menjelaskan kurang lebihnya “Sekolah jangan sampai menghilangkan persoalan masyarakat”.

Sekolah menengah kejuruan sering disebut sekolah yang menyiapkan seseorang untuk terjun di dunia kerja. Sekolah menengah kejuruan disingkat SMK yang setara dengan sekolah menengah akhir (SMA). Dari SMK tersebut para siswa dibekali dengan keahlian untuk bekerja. Sekolah menengah kejuruan biasanya hanya membuka jurusan akuntasi, administrasi perkantoran, desain grafis, farmasi, keperawatan, perhotelan, tata rias kecantikan, teknik komputer jaringan, teknik kendaraan ringan, teknik mesin dan masih banyak lagi.

Dari beberapa jurusan tersebut, kenapa sekolah menengah kejuruaan (SMK) tidak mencoba atau iseng untuk membuka jurusan pertanian yang sebagian orang yang bersekolah di sekolah tersebut adalah orang tuanya sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Saya teringat buku esai yang pernah saya baca yaitu Sekolah Itu Candu (Roem Topatimasang) pada halaman 55 dengan judul Sekolah Anak-anak laut, yang menceritakan bahwa disuatu tempat (SD Mantigola terletak di tengah laut, di perkampungan orang bajo) berdirilah SD Mantigola yang mengajarkan muatan lokal supaya orang-orang dapat bersahabat dengan daerahnya. Di esai tersebut menceritakan pendidikan di laut, pada suatu ketika siswa tersebut telat masuk sekolah, al hasil salah seorang guru mencoba menghukum siswa tersebut dengan hukuman menyuruh siswa tersebut untuk mencari ikan. Hukuman tersebut tidak sekedar hukuman melainkan sebuah pendidikan yang harus ditanamkan di dalam diri mereka sebab mereka orang yang hidup di dekat laut dan harus bisa memanfaatkannya. Pendidikan seperti ini apabila di terapkan di setiap sekolah mungkin akan lebih signifikan untuk masyarakat sekitar. Sehingga setelah lulus sekolah anak muda akan lebih tertarik untuk mengembangkan isi desanya sendiri.


 

About Ilham Wiji Pradana 1 Article
Anak dari seorang Ibu tinggal di Desa. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus (Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam). Buku pertamanya ialah buku kumpulan puisi “Dalam Satu Ruang Kehidupan” tahun 2021.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.