Keteladanan Hasyim Asy’ari dalam mengajar yang harus diikuti setiap guru masa kini

Ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim hal ini ditegaskan dalam suatu hadis yang artinya “Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu,” (HR Ahmad). Hadis ini sangat jelaskan bahwa umat islam wajib dalam menuntut ilmu, akan tetapi menuntut ilmu diperlukannya seorang guru yang dimana sebagai penanggung jawab atas ilmu-ilmu yang murid dapatkan, sebab jika seorang murid tidak belajar melalui guru maka gurunya adalah setan hal ini seperti untaian nasehat berikut “Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan”.

Akan tetapi seorang guru mestilah memiliki keteladanan agar menjadi contoh muridnya maka dari itu kita sebagai pengajar atau yang kelak menjadi sorang guru, hendaknya mengikuti keteladanan para ulama dalam mengajar seperti halnya KH. M Hasyim Asyaari, beliau memiliki kebiasaan dalam mengajar yang dimana harus kita tiru agar ilmu mudah diterima dan bermanfaat untuk murid berikut ini penulis menjabarkan hal-hal yang perlu kita lakukan sebelum mengajar, sebagaimana KH. M Hasyim Asyaari

Biografi singkat KH. M Hasyim Asyaari

KH. M Hasyim Asyaari atau dikenal pula dengan nama Mbah Hasyim, ia lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timut pada 14 Februari tahun 1971. Mbah Hasyim adalah tokoh utama sekaligus pendiri NU pada 31 Januari 1926.

Mbah Hasyim adalah sosok pendiri sekaligus oengasuh pertama dari Pesantren Tebuireng di Jombang dan menjadi satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayat dan hingga kini, belum ada lagi tokoh yang menyandang gelar Rais Akbar NU selain Mbah Hasyim.

kebiasaan mengajar KH. M Hasyim Asyaari 

Pertama hal yang mesti dilakukan sebelum mengajar adalah dalam hal mengajar perlulah dalam keadaan sedang berwudhu hal ini dianjurkan sebab Allah menyukai orang-orang yang suci hal ini sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran, Surat (QS. Al-Baqarah 222) yang artinya “sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat, dan menyukai orang yang membersihkan diri”

Kedua, ketika hendak berangkat mengajar, alangkah baiknya membaca zikir sepanjang jalan, hingga menuju tempat mengajar.

Ketiga, mengawali pelajaran dengan membaca Al-Quran, hal ini setidaknya bertujuan untuk mengingatkan guru dan murid bahwa apapun yang mereka pelajari harus sejalan dengan Al-Quran.

Keempat, hendaknya sebelum memulai pelajaran membaca Ta’awwudz, dan melafalkan Bismilah, hal ini agar dilindungi dari godaan setan, karena setan merupakan musuh yang nyata bagi manusia serta mengawali suatu yang baik maka hendaknya membaca bismilah karena apabila seorang guru dalam mengajar memiliki perasaan seperti ini maka kegiatan mengajar akan senatiasa membawa pengaruh positif dari Allah SWT. Ilmu merupakan cahaya yang dimana cahaya itu diberikan kepada siapa yang Allah Hendaki maka dari itu membaca Ta’awwudz, bismilah, semoga Allah menurunkan ilmunya untuk kita.

Kelima, setelah membaca Ta’awwudz, dan bismilah dilanjut membaca Shalawat kepada Nabi, hal ini bertujuan atau bentuk dari cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam segala hal perlulah membaca Shalawat, bahkan ketika berdoa saja, perlunya bershalawat agar doa yang kita panjatkan itu di ijamah oleh Allah SWT.

Keenam, mengucapkan salam baik sebelum masuk ruang kelas ataupun ketika meninggalkan ruang kelas. Mengucapkan salam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, hal ini bertujuan agar kedekatan guru dan murid semakin dekat, bukan hanya di ruang kelas, kewajiban dalam mengucapkan salam itu harus baik kepada siapapun yang kita jumpai.

Kesimpulan

Keteladanan para Ulama perlulah kita tiru dan contoh hal ini bertujuan agar ilmu yang didapat bermanfaat serta menjadi amal jariyah bagi kita sebagai guru, betapa banyak seorang murid KH. M Hasyim Asyaari, yang menjadi penerus atau Ulama-Ulama besar hal ini tak lepas dari gurunya yang ikhlas dalam mengajar serta melakukan hal demikian sebelum mengajar, dan kita sebagai guru hendaknya meniru keteladanan ini, agar bukan hanya kita sebagai guru melaksanakan kewajiban akan tetapi mendidik dengan penuh ikhlas untuk generasi bangsa yang berkualitas dan mampu mengamalkan ilmu yang kita ajarkan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.