Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Ketika Persaingan Menjadi Tradisi dalam Pendidikan Kita

Neyla Hamadah 2 min read 1 views

“Anaknya ranking berapa, Bu?” tanya seorang tetangga karena hari itu memang jadwal mengambil raport anak.

“Ranking delapan,” jawab saya ringan tanpa beban.

Meski saya jawab sambil lalu, saya tahu ke mana arah obrolan itu. Sebab saya mengenal betul tetangga saya yang satu itu, dan dia pasti ingin mengajak saya ke dalam ” komparasi prestasi antar-anak”. Percakapan semacam itu memang sangat biasa di tengah masyarakat sekarang ini, yang menilai seolah nilai akademik adalah kunci kesuksesan di masa kini dan masa depan.

Saya pernah bertemu seorang teman lama, yang lama sekali tidak berjumpa. Saya kira Atin berbeda karena ia ini hanya lulusan Sekolah Menengah. Barangkali ia tidak begitu mementingkan perihal akademik.

Akan tetapi waktu berjumpa tiada lain tiada bukan obrolannya ternyata tentang anaknya yang selalu ranking satu, padahal saya tidak bertanya. Saya lebih condong bertanya kabarnya ketimbang kepo tentang ranking anaknya. Menurut saya itu hal yang tidak penting.

Tapi anggapan tidak penting bagi saya tidak berlaku bagi orang lain tentunya. Semua punya prinsip masing-masing meskipun faktanya lebih banyak yang menganggapnya penting. Sering kali ranking di sekolah menjadi sebuah kebanggaan bagi umumnya orang tua. Dan barangkali saya orang tua yang tak umum.

Mental bersaing sepertinya memang sudah sangat mendarah daging dalam kehidupan pendidikan kita. Sejak kecil bahkan anak-anak sudah dikenalkan dengan atmosfer persaingan. Dimulai di lingkungan rumah dengan tetangga, di kelas dengan teman-temannya, lebih luas lagi di sekolah dengan persaingan antar sekolah.

Mungkin menjadi hal wajar bagi banyak orang tua bahkan bagi pendidik, untuk menampilkan sisi terbaik ke publik. Demi mendapatkan pengakuan keluarga, tetangga dan masyarakat luas akan prestasinya, nan berujung pengakuan atas eksistensi diri.

Wocoen   Berhijab Bukan untuk Membully

Namun akan menjadi keliru pemaknaan jika si ranking pertama atau yang menang dalam persaingan diunggulkan, sementara yang dianggap kalah dipandang rendah atau anak rata-rata. Sehingga muncul hierarki pencapaian.

Kemudian ada pihak yang diabaikan, yakni pihak yang kalah atau yang rankingnya banyak. Padahal semua anak didik sudah menampilkan sisi yang terbaik. Yang semestinya mendapatkan apresiasi yang setara, apresiasi yang sama atas usahanya.

Bisa jadi, di balik persaingan —apapun bentuknya ada keinginan untuk berkuasa, tujuan menyingkirkan pesaingnya. Dibanding memanfaatkan persaingan untuk belajar bersama apalagi belajar dari pesaingnya.

Dan yang sangat sedikit kemungkinannya yaitu belajar dari kegagalan, kesalahan, dan kekalahan. Bahkan terkadang persaingan dilakukan demi sebuah gengsi semata. Untuk sebuah piagam, piala, sertifikat dan sebagainya. Akhirnya persaingan dilakukan dengan cara tidak sportif, tidak sehat.

Pendidikan kita selama ini disibukkan dengan persaingan. Hingga, nampaknya, menjadikan kita lupa bagaimana cara bekerja sama. Bagaimana cara berkolaborasi memperkuat bangsa, membangun bangsa. Segala lini kehidupan adalah persaingan.

Persaingan mendapatkan sekolah, mendapatkan ranking, mendapatkan pelanggan, mendapatkan pekerjaan dan sebagainya. Alih-alih memberikan sisi terbaik malah menjatuhkan pihak yang menjadi pesaing.

Kita lupa bahwa bangsa ini lebih banyak membutuhkan kerja sama untuk tujuan yang luhur ketimbang persaingan. Betapa persaingan membuat kita terpecah, saling membalas dendam, dan menjadi kubu cebong, kampret dan kadrun tak berkesudahan.

Bahkan di masa pandemi ini pun ketika persatuan lebih dibutuhkan untuk menghadapi situasi yang tak menentu. Bukan saling menguatkan kita justru masih saja menyemburkan api persaingan, untuk tampil menjadi pihak yang “nampak” berbuat banyak dibanding pihak lain.

Kerja sama bukan bermaksud menyeragamkan pemikiran atau pun penampilan. Tapi justru dengan keberagaman, kita bisa berkolaborasi saling melengkapi, memperkuat dengan kokoh pondasi bangsa ini. Dunia sudah sangat ruwet dengan persaingan. Semua ingin menjadi yang terhebat, yang paling maju.

Wocoen   Konsep Dasar Politik dalam Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah

Padahal sejatinya tidak ada satu pun yang memiliki predikat itu. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik sebagai manusia bagian dari warga dunia untuk kepentingan hidup bersama di bumi ini. Bersama melestarikan lingkungan, memelihara ekosistem, dan menjaga habitat. Sehingga bumi tetap menjadi tempat yang layak untuk dihuni generasi-generasi selanjutnya.

Bahkan tentang persaingan, para orang tua murid pun bersaing memamerkan anak-anak mereka yang mendapatkan ranking sebagai buntut persaingan level berikutnya. Kita tidak tahu bagaimana budaya persaingan semacam itu akan berhenti, jika tidak kita yang mengubah dari mental masyarakat sendiri di lingkungan yang paling mendasar yakni pada pendidikan.

Saya berandai-andai, andai saja bukan jiwa persaingan yang kencang diembuskan di dunia ini, barangkali tidak akan ada peperangan. Baik peperangan senjata maupun peperangan ekonomi yang terjadi seperti sekarang ini. Semua bermula dari persaingan.

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.