Kiai Djamal

Semasih nyantri di Bumi Damai al-Muhibbin, Tambakberas, Jombang, saya termasuk yang jarang sowan. Kalaupun harus menghadap Kiai secara khusus, itu selalu bersama rombongan. Atau paling banter, kalau betul ada soal serius yang mau tak mau harus disowankan, saya hampir selalu mengajak kawan: santri senior atau siapa saja yang saya anggap bisa menjadi corong bagi problem yang mengganjal dada. Di hadapan Kiai, tak bisa lain, saya hanya sanggup mengatupkan mulut.

Semua ini barangkali karena sejumlah alasan. Pertama, hampir setiap pekan sebetulnya kami dipastikan berjumpa dengan beliau, Panjenenganipun Romo Kiai Haji Mochammad Djamaluddin Ahmad. Setidak-tidaknya, perjumpaan itu terjadi secara intelektual, atau mungkin saja secara spiritual, dalam Pengajian Rutin al-Hikam setiap Senin malam Selasa.

Di sinilah, mendengarkan uraian-uraian beliau yang senantiasa lembut dan tertata rapi, seluruh problem seperti terurai dan menemukan jawaban. Barangkali bukan cuma saya yang menyaksikan bahwa pengajian Kiai Djamal, yang betapapun sebetulnya ditujukan untuk para audiens yang nominalnya ribuan itu, sanggup menusuk relung personal para pendengarnya, menjelma solusi bagi problem individual yang berbeda-beda. Hampir seperti Archimedes yang berteriak “Eureka!”, sesaat sesudah permasalahannya berpadu dengan pemecahan, batin saya juga kerapkali meneriakkan, “Oh, ini jawabannya! Oh, ini solusinya!” di sela-sela dawuh Romo Kiai Djamal.

Kedua, saya semata-mata ditelan oleh haibah: wibawa Kiai Djamal betul-betul membuat saya merasa sedemikan kerdil. Wibawa yang berulangkali membuat kami, santri-santri kelas kacang ini, terkesiap diam semata sebab kehadiran beliau.

Wibawa yang kami lihat setiap kali fajar, beliau hanya berdiri di serambi utara masjid mengucapkan “Sholah! Sholah!” sembari menepuk tangan, dan kami –meski berada di radius puluhan meter sekalipun– tunggang langgang bersiap mengikuti jamaah salat subuh. Ya, barangkali betul memandang ulama adalah ibadah, tetapi untuk ‘menantang’ mata sambil berada di dekat Kiai, saya akui tak pernah sanggup.

Hanya akibatnya, berkat jarang sowan, dawuh yang saya terima dari Kiai Djamal tidak pernah berlaku eksklusif: sesuatu yang seringkali mengundang saya untuk iri kepada santri lain yang dengan mudah dapat membuat kontak secara pribadi dengan beliau. Biarpun banyak dawuh beliau di depan umum kerap saya petik sebagai nasihat yang bersifat sangat personal, tapi tetap saja dawuh yang sama juga bisa memiliki makna berbeda bagi santri-santri yang lain.

Karenanya pernah suatu kali, di tengah-tengah Pengajian al-Hikam Senin malam Selasa, di hadapan ribuan jamaah, Kiai Djamal menegur segerombolan santri pembuat selebaran yang kerjanya menguar cela orang lain. Meski tidak menyebut nama, saya tahu, yang dimaksud Kiai Djamal adalah saya, dan kami, orang-orang di balik Pamphlet Independent (media sayap dari Ibien Pos) yang sok-sokan kritis mencibir kebijakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Di momen itulah beliau dawuh, yang selamanya tak bisa saya lupakan, bahwa santri tak akan pernah patut membuat sakit hati guru-gurunya. Bahwa, kurang lebih, “tugase wong metani aibe dewe, dudu malah ndolek-ndolek aibe wong liya (tugas kita adalah meneliti aib diri kita sendiri, bukan mencari-cari kekurangan orang lain)”.

Kesan yang mendalam juga saya dapatkan saat saya akhirnya berhasil memaksa diri untuk sowan sendirian, dan itu pun setelah saya tak lagi menginjak Bahrul Ulum (Tambakberas). Persamuhan yang terjadi tak kurang dari setahun setelah saya terdampar di bumi Sriwijaya itu, seperti biasa, didominasi dengan adegan saya yang mematung. Sesekali beliau melontarkan pertanyaan, seperti “sakpiro Kiai Nawawi!?” (perihal usia Kiai Nawawi, tuan rumah yang saya mengabdikan diri di Palembang, yang Kiai Djamal tahu entah dari mana), dan jawaban yang keluar dari mulut saya selalu terbata-bata. Tapi, di tengah tanya jawab yang gagu itu, tiba-tiba beliau berujar disertai senyuman yang amat manis:

Sesuk nangdi-nangdi gak usah nggowo lading ya!? (Besok kemana-mana tak usah bawa pisau ya!?)”

Seperti tersambar petir, saya mendadak linglung. Bagaimana beliau tahu!?

Sebagai orang asing, saya pada mulanya hanya mendengar reputasi tak baik dari Kota Palembang. Sebut saja preman, copet, dan pelbagai wujud kehidupan serba keras yang lain. Untuk itu, dan karena saat itu ke mana-mana saya harus naik bus kota (yang dimuati bunyi musik genre house berdebam-debam dan yang kini semua sudah pensiun digantikan Transmusi), saya selalu menyelipkan pisau lipat di salah satu saku tas cangklong.

Ganti iki ae (ganti ini saja),” lanjut Kiai Djamal sambil menghadiahkan secarik kertas yang beliau sebut sebagai Saifud Dakwah (pisau atau pedang untuk berdakwah). “Amalan Syeikh Abu Bakar al-Syibli,” pungkas beliau.

Saya menerima ijazah itu dengan raut heran bercampur malu. Lagi-lagi pertanyaan, bagaimana beliau bisa mengetahui hal yang saya simpan erat dan yang seolah menjadi rahasia antara saya dan Tuhan itu!? Jangan-jangan, Kiai Djamal dianugerahi keistimewaan dan karenanya juga sebetulnya tahu keseluruhan laku brengsek yang pernah saya lakukan, dan yang untungnya –seperti saya pelajari dari pengajian al-Hikam beliau– dibuatkan penutupnya (hijab) oleh Tuhan, sehingga orang lain tak sanggup melihatnya!? Jangan-jangan!? Jangan-jangan!?

Ah… Saya pasrah saja!

Tapi, seperti dapat membaca kekalutan saya, beliau kemudian beralih ke topik lain. Di sini beliau mewasiatkan Husnul Khuluq (kebaikan perangai) ditandai dengan di antaranya, seingat saya, (1) basthul wajhi, atau yang beliau redaksikan sebagai ‘ajere peraupan‘, yakni raut muka yang ceria, cerah, dan ramah, bukan memberengut atau malah bengis; (2) kafful adza, yaitu menghindari hal-hal yang berpotensi menyakiti orang lain; dan (3) badzlun nada, yang berarti menyerahkan apa yang kita punya untuk maslahat orang banyak.

Wasiat itu juga sekaligus tamparan buat saya yang sepertinya tak kunjung mampu menjasadkan pekerti baik.

Akan halnya keluhuran budi Kiai Djamal, tak seorang pun bertanya. Beliau adalah teladan bagaimana bersikap di hadapan murid, keluarga, anak cucu, orang alim (ahlul ’ilm), para dzurriyah Nabi (ahlul bait), sampai adab di hadapan Tuhan. Kiai Djamal adalah penubuhan sikap rahmah, tawadu, wirai, zuhud, dan sejumlah besar makarimul akhlak yang lain yang tak pernah alpa beliau tarbiyahkan kepada santri dan jamaah.

Santri-santri beliau pasti ingat, bahkan pada hal-hal yang oleh sebagian orang dianggap remeh temeh sekalipun, perhatian Kiai Djamal tak pernah luput. Bagaimana beliau menata alas kaki saat masuk masjid, bagaimana cara beliau memasuki masjid, atau bagaimana kami sepatutnya berpakaian di dalam masjid. Santri-santri beliau juga pasti tak akan lupa, bagaimana keriangan Kiai Djamal di hadapan kanak-kanak, kasih sayang beliau kepada anak yatim, kecintaan beliau terhadap fakir miskin, perhatian beliau kepada santri, dan atau penghormatan beliau kepada tetamu.

Sehubungan dengan yang terakhir ini, bapak saya selalu bahagia menceritakan dirinya pernah diajak makan semeja dengan Kiai Djamal. Itu adalah hari puasa Ramadan dan, menjelang magrib petang itu, bapak gelisah, “Ini mau berbuka di mana?” Berniat pamit, oleh Kiai Djamal, bapak justru dipersilakan menuju meja makan. “Disuguhi ingkung, Luk (disuguhkan ayam panggang utuh),” tukas Bapak. “Padahal aku iki sopo? (padahal aku ini siapa?),” bapak menutup cerita dengan suara yang bergetar.

Saya ingat, bapak saat itu bermaksud menyowankan perihal pernikahan saya dengan —sekarang sudah menjadi istri saya, Alfia Purwadi. “Awakmu dikongkon telepon Yai menesuk jam wolu (kamu diperintah menelepon Kiai besok jam delapan),” kata bapak sembari merapal nomor yang harus saya hubungi. Dari kejauhan, di Palembang, dada saya tersentak dan membatin, “Aku iki sopo!?” Mata saya berkaca-kaca.

Pagi harinya, tepat pukul delapan, dengan tangan yang menggigil memegang handphone, saya memberanikan diri melakukan suatu hal yang tak pernah saya lakukan seumur hidup dan mungkin tak pernah terulang kembali: menelepon Kiai Djamal. Seperti biasa, saya cenderung bungkam sehingga tak terjadi banyak percakapan. Beliau waktu itu memerintahkan saya mengambil pena, mendiktekan beberapa baris doa, dan menyuruh saya mengulang bacaan yang telah saya tulis.

Sampai hari ini, saya masih kerap terbengong-bengong, betapa beliau sangat memperhatikan santri-santrinya. Paling tidak, doa-doa beliau yang hampir tak pernah melepaskan diksi “talamiidz”, seperti selalu menjadi berkah bagi para santri. Buat saya, dan itupun kalau Kiai Djamal mengakui saya sebagai santri (sesuatu yang saya dan kami semua senantiasa mengharapkannya), berkah doa Kiai Djamal terkadang menjelma menjadi seperti apa yang dialami Prof Dr Quraish Shihab dengan gurunya Habib Abdul Qadir Bilfaqih (Malang). Prof Quraish sering bercerita bahwa Habib Abdul Qadir kerapkali “hadir” saat dirinya didera kesulitan, baik melalui “mimpi” atau cara lain.

Saya juga beberapa kali, dan santri yang lain mungkin juga pernah, atau bahkan lebih dahsyat, mengalami hal yang mirip. Bedanya, dalam kasus saya, Kiai Djamal hadir dalam rangka ndukani (kasarnya marah) kepada saya, sebab pada detik-detik itu saya mungkin sedang tidak berada di jalur yang seharusnya. Belakangan saya tahu, terutama dari Kiai Idris Djamaluddin (putera Kiai Djamal), seorang guru kadangkala memang boleh muring (marah), dalam rangka tarbiyah, tetapi tidak boleh punya rasa sakit hati. Ini cukup melegakan, sehingga sebab itu saya senantiasa berharap para guru, terutama Kiai Djamal, terus kersa (mau) meluberkan barakah doa serta mentarbiyah saya, betapapun melalui jalur duko (marah). Meski di pedalaman diri saya dan barangkali semua santri senantiasa berharap agar tidak termasuk dalam kelompok murid yang menyakiti hati dan karenanya tidak mendapat ridha dari guru.

Begitulah, santri-santri beliau mustahil lupa betapa Kiai Djamal, yang sudah tersohor namanya sebagai ulama besar itu, menghormat setakzhim-takzhimnya kepada cucu-cucu Rasulullah Saw, atau betapa syahdunya memerhatikan Kiai Djamal dan Kiai Husein Ilyas (Mojokerto), misalnya, saling berebut mencium tangan. Kita semua mengingat kecintaan Kiai Djamal kepada ilmu dan para ahlul ‘ilmi.

Kalau kemudian Kiai Djamal menganjurkan santri-santrinya tak lepas dari pena dan kertas untuk mencatat faidah keilmuan, kami berkali-kali melihat beliau lebih dulu mengerjakannya. Saya masih ingat betul, pada muwadda’ah (perpisahan kelas akhir) kami di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas (MMA) Bahrul Ulum, Kiai Djamal mengeluarkan buku kecil dari sakunya dan menggoreskan pena seiring Mau’idhah Hasanah yang disampaikan oleh KH Miftahul Akhyar (sekarang Rais ‘Am PBNU). Sampai hari ini saya tidak dapat mengingat apa isi ceramah Kiai Miftah. Ini mungkin karena ketekunan kami amat sangat terlalu jauh dibandingkan ketekunan Kiai Djamal.

Barangkali juga karena ketekunan dan keistiqamahan yang luar biasa inilah kemudian, seperti kita semua tahu, Kiai Djamal melahirkan puluhan judul karya tulis. Meski kemudian sangat masyhur dalam fan tasawuf, lagi-lagi kita semua tahu, cakupan keilmuan yang beliau kuasai tak sampai hanya di situ. Sebatas yang saya tahu, Kiai Djamal menggubah “Miftahul Wushul” (Ushul Fiqh) dan “al-‘Inayah” (Qawaid Fiqh). Pada masanya, kedua kitab ini memberi warna dalam pelbagai diskusi diniyah kami dahulu.

Saya diberitahu bahwa beliau juga pernah mengaji Shahih Bukhari, dan belakangan beliau juga sempat membuka kajian Jawahir al-Bukhari. Selain mengajarkan Ihya Ulumuddin, dan tentu saja al-Hikam, Kiai Djamal juga mengampu Fathul Wahab. Saya masih ingat, sewaktu masih di tingkat ibtidaiah, yang kami belum dapat mengikuti pengajian weton beliau, saya selalu berdoa agar Kiai Djamal diberi panjang umur, terlebih pada saat beliau diberi cobaan sakit di awal tahun 2000-an. Saat itu, dengan naif saya mendoakan diri sendiri agar dapat mengikuti pengajian yang tiap hari dilangsungkan bakda ashar itu.

Pendeknya, tidak berlebihan apabila orang kemudian menyebut Kiai Djamal sebagai Fakih dan Sufi; teori dan prakteknya sekaligus.

Dan Kiai Djamal, Kamis kemarin, 24 Februari 2022, sowan dateng ngarsane Allah Ta’ala. Sejak pertama diberi kabar oleh Kiai Izzuddin Zen (keponakan Kiai Djamal yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai al-Syifa di Pangkal Pinang Bangka, dan yang pernah Kiai Djamal pesan untuk mencarinya saat awal berangkat menuju Palembang), saya yang kali ini betul-betul tak sanggup sowan, bahkan untuk sekadar hurmat takziah, dibuat blank seharian-semalaman: serasa hilang arah dan tujuan. Itulah juga mungkin alasan kenapa sudah seharusnya tulisan ini memerlukan permohonan maaf, serta mengharapkan koreksi, apabila terlalu banyak kekeliruan dan kekurangakuratan.

Akhirnya, kita semua tentu berharap, betapapun telah berada pada dimensi yang berbeda, beliau senantiasa menabur barakah dan tetap menggulirkan tarbiyah bagi kita semua. Berikutnya kita juga berharap agar beliau mengizinkan sarung beliau kita gondeli saat beliau berjalan menuju surga.

Li kulli syaiin Idza faraqtahu iwadhun, wa laisa illahi in faraqta min ‘iwadhin. (Syair Ibn ‘Arabi yang kerap disitir Kiai Djamal dalam sejumlah pengajian)

Ahsanallahu fasiha jannatih. Amin.
Amin.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Lukman Hakim Husnan 1 Article
Santri alumni Bumi Damai Al-Muhibbin PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Ilmu Quran Al-Lathifiyyah Palembang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.