Kiai Marzuki Mustamar; Perhatian, Kematian dan Kemanfaatan

Masih teringat bagaimana pesan Abah Kiai, saat kami, pengurus pesantren saat itu, secara sederhana memberikan surprise kecil-kecilan dan doa bersama dalam rangka merayakan ultah beliau yang ke 50 tahun. Teringat air mata yang jatuh setelah mendengarkan apa yang beliau sampaikan pada kami. Semoga Abah Kiai selalu dalam lindungan Allah Swt.

Inilah nasihat dan wejangan beliau yang sempat saya tulis:

Terima kasih atas your attention to me. Semoga ihtimam (perhatian) sampean terhadap saya, keluaga saya dan umat Islam menjadi bukti bahwa sampeaan benar-benar muslim.

Nabi bersabda:

من أصبح لا يهتم بأمور المسلمين فليس منهم

“Barang siapa yang sama sekali tidak peduli terhadap urusan umat Islam yang lain, maka dia tidak termasuk umat Islam”

Alhamdulillah santri Gasek semua peduli. Kepada saya peduli, kepada keluarga peduli, kepada yang lain peduli, dan semoga peduli kepada siapa pun.

Sebagai bukti bahwa kita benar-benar muslim. Jangan berharap orang lain mempedulikan kita kalau kita tidak mempedulikan orang lain.

Jangan berharap orang lain memperhatikan kita kalau kita tidak memperhatikan orang lain. Jangan berharap orang lain mencintai kita, kalau kita tidak mencintai orang lain.

Dan apabila, maaf, ada orang nguber-nguber atau ngejar-ngejar dan ternyata yang dikejar-kejar itu tidak ada perasaan apa-apa, maka, kata Imam Syafi’i ialah orang itu tidak jantan. Tidak laki-laki.

لست أهاب لمن لايهيبني ولست ارى لمن لايرى لي

“Aku tidak takut kepada orang yang tidak takut kepadaku. Dan aku tidak mau memperhatikan orang yang tidak memperhatikanku.”

Artinya, menurut Syafii, imbang saja. Kita perhatian, berharap orang lain perhatian. Orang lain perhatian kepada Anda, maka Anda harus perhatian kepadanya.

Alhamdulillah, santri-santri semua perhatian kepada saya. (Karena perhatian santri-santri semua) semoga Rasulullah Saw. memperhatikan Anda, ayah dan ibu semua lebih perhatian kepada sampean semua, guru-guru dan dosen-dosen juga begitu. Dan syukur-syukur, sekiranya ada orang yang cocok, juga selekasnya memperhatikan sampean semua.

Saya datang ke Malang tahun 1985 ketika itu Abah Kiai Masduqi Mahfudz kira-kira umur 50 tahun juga. Jika itu benar beliau kelahiran 1935.

Tapi waqiela (dikatakan), beliau lahir tahun 1933. Andai benar 1933, pas saya datang ke Malang , beliau ketika itu umur 52 tahun. Pada tahun 1985 saya bertemu beliau. Dan ternyata pada tahun 2014, beliau harus meninggalkan kami (meninggal dunia).

Nah, sekarang saya umur 50 tahun. Andai (umur) saya ditakdirkan Allah sama seperti Abah Kiai Masduqi Mahfudz, kemungkinan juga, 29 tahun yang akan datang, kita juga berpisah. Untuk bertemu lagi di surga Allah Swt. Amin Allahumma Amin.

Saat Mbah Kung Blitar, Mbah Kiai Mustamar, berumur 50 tahun, saat itu umur saya 13 tahun. Jadi lahirnya saya saat ayah umur 37 tahun. Seperti lahirnya Mbak Ocha (putri Kiai yang ke 6), saya umur 37 tahun.

Jadi saya dengan Mbah Kung Blitar, sama dengan saya dengan Mbak Ocha. Selisih 37 tahun. Dan ketika saya umur 50 tahun, ternyata Mbah Kung meninggalkan saya.

Andai Allah Swt. memberikan saya umur panjang seperti (umurnya) Mbah Kung, mungkin ketika Ocha umur 50, Kami harus juga meninggalkan semuanya. Dan itu tidak apa-apa, asal kita diridai oleh Allah Swt.

Ada awal mesti ada akhir. Ada hidup mesti ada mati. Ada pertemuan mesti ada perpisahan. Dan itu lumrah. Kalau tidak seperti itu, tidak lumrah.

Hanya, yang diharapkan seeorang muslim adalah (ketika) lahir sebagai seorang muslim, hidup dalam keadaan Islam dan mati pun dalam keadaan Islam.

 خلق على طبقة شتا ومنهم من يولد مؤمنا ويحي مؤمنا ويموت مؤمنا ومنهم من يولد مؤمنا ويحي مؤمنا ويموت كافرا ومنهم من يولد كافرا ويحي كافرا يموت مؤمنا ومنهم ومن يولد كافرا ويحي كافرا ويموت كافرا

Manusia itu diciptakan dalam macam ragam di antaranya adalah:

  1. Orang yang lahir dalam keadaan mukmin. Hidup dalam keadaan mukmin. Dan mati dalam keadaan mukmin. Inilah orang yang husnul khatimah. Jadi tidak apa-apa kita berpisah, asal dalam keadaan husnul khatimah.

  2. Orang yang lahir dalam keadaan mukmin. Hidup dalam keadaan mukmin. Tapi mati dalam keadaan kafir. Inilah orang yang su’ul khotimah. Naudzubillahi min dzalik.

  3. Orang yang lahir dalam keadaan kafir. Hidup dalam keadaan kafir. Tapi mati dalam keadaan mukmin. Inilah orang yang husnul khatimah.

  4. Orang yang lahir dalam keadaan kafir. Hidup dalam keadaan kafir dan mati dalam keadaan kafir.

Doa untuk kita semua, Semoga kita tetap iman dan Islam. Sehat dan umur panjang. Serta manfaat umurnya, manfaat ilmunya, manfaat hartanya, manfaat aktifitasnya, bermanfaat bagi orang lain dan juga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”

Wiridan itu baik, zikiran itu baik, selawatan itu baik. Namun masih kalah dengan taklim dan berkiprah untuk orang lain.

Kalau kita berbuat kemanfaatan bagi orang lain, jika diibaratkan fiil. Maka itu ibarat fiil mutaadie. Fiil (kata untuk pekerjaan dalam bahasa arab) yang bermanfaat bagi dirinya, juga bermanfaat bagi orang lain.

Kalau wiridan saja, manfaatnya hanya untuk dirinya saja. Seperti fiil laazim. Tentu, lebih bermanfaat yang mutaadi dari pada yang laazim.

Salat Duha kita, Tahajud kita maupun Witir kita, semuanya belum tentu diterima. Tapi seandainya sampean semua mengajar TPQ (taman pendidikan Al-Qur’an), ngajar diniyah, ngajar di MI, ngajar di Musala, dari sekian murid dari yang kalian ajar, sekali atau dua kali salat mereka diterima, (selain mereka mendapat pahala) sampean pun akan mendapat pahalanya.

ونكتب ما قدموا وآثارهم

Untuk benar-benar memanifestasikan kemanfaatan ilmu itu, saya minta santri semua jangan berdiam diri. Mbah Kiai Ridwan Blitar tidak berdiam diri.

MAN Tlogo Blitar dan Al-Muslihun itu pendirinya Mbah Kiai Ridwan. Saya di Malang bertemu dengan Abah Kiai Masduqi Mahfudz. Dan beliau tidak berdiam diri.

Ke mana-mana membuka pengajian rutin dan lain sebagainya. Dan Alhamdulillah, saya juga ketularan beliau. Akhirnya saya menjadi orang yang tidak bisa berdiam diri.

Saya berharap anak saya Habib, Bella, Shofie, Izal, Dilla, Ocha, dan Mila juga santri-santri semuanya, Ridwan, Mila wa ‘ala ilihi wasohbih semuanya jangan jadi orang yang suka berpangku tangan.

Pokok’e lek gak nyambut gawe, gatel. Lek gak beraktivitas, gatel. Upayakan hidup itu terisi oleh berbagai kegiatan. Baik yang manfaatnya Laazim, maupun manfaatnya yang Mutaadi.

Dengan begitu, matinya kita tidak diikuti matinya amal kita. Kita boleh mati, tetapi pahala tetap mengalir.

Sesuai sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa ada amalan yang tetap mengalir, yaitu:

1. Sedekah jariyah

2. Ilmu yang bermanfaat

3. Anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya

Itu pesan kami. Semoga sampean semua berkah semua. Dan terima kasih for your attention. Atas perhatian sampean semua jazakumullah khoirol jaza.

About Muhammad Ridwan 1 Article
Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda'wah Condong Tasikmalaya, juga alumni santri dan lurah Ponpes Gasek Malang, sekaligus alumni Pascasarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.