Pendidikan

Kiblat Pendidikan Indonesia?

Penulis Atlas wali songo, bapak Agus sunyoto pernah berpendapat bahwa dulu setiap agama di Indonesia memiliki instansi pendidikannya masing-masing, yang mana baik kurikulumnya, materi pengajaranya, metode serta tekhnik pengajaranya telah mapan. Misal, agama Kapitayan memiliki instansi pendidikan yang bernama Padepokan. Sedangkan Hindu memiliki lembaga pendidikan bernama Asrama, pedukuhan serta Peguron, dan Islam sendiri memiliki lembaga pendidikan yang bernama Pesantren.

Jawa dan Nusantara sebagai peradaban yang telah maju memanglah unik, bagaimana tidak, semua yang masuk tidak serta merta langsung diterima secara bulat dan mentah-mentah. Akan tetapi dipilah, dipilih, diproses, dan disesuaikan terlebih dahulu. Mulai dari masalah teknologi sampai masalah ideologi pun mengalami proses yang sama. Oleh karenanya di kemudian hari dikenal lah Islam yang unik di nusantara, yang memiliki penghayatan yang dalam, serta pelaksanaan yang halus hingga pelakunya tidak sadar bahwa itu adalah ajaran Islam, yang memiliki sumber dan rujukan yang kuat dari hadist dan Al-Qur’an.

Kembali ke masalah instansi pendidikan, tentu antara padepokan dsb. memiliki perbedaanya masing-masing, dan sudah barang tentu misi yang diemban pun juga berbeda. Akan tetapi tidak membuat satu dengan lainya memiliki sentimen tersendiri dan saling anti satu sama lain. Justru, instansi-instansi ini mengadopsi sistem yang sudah ada lalu disesuaikan dengan tujuan dari lembaganya sendiri, lalu lahirlah lembaganya tersendiri yang mandiri dan telah memiliki sistem pendidikan yang telah dikembangkan.

Mengetahui asal-usul itu merupakan hal yang amat penting, karena dengan mengetahui asal usul seseorang akan tahu jatidirinya sendiri, jika sudah tahu jati diri dia lalu dapat membaca kebutuhannya secara akurat, kemudian baru lah ia mampu merumuskan tujuannya serta kemana arah kiblatnya dalam berperilaku. Begitu juga dalam masalah pendidikan, sudah semestinya Indonesia mengenali kembali siapa itu padepokan sampai pesantren, baru kemudian membuat instansi baru yang sesuai misinya.

Wocoen   Bahasa: jembatan intelektualitas dan sosial masyarakat

Namun nampaknya dalam memutuskan sekolah sebagai sebuah instansi pendidikan di Indonesia amat lah cacat dan prematur. Bagaimana tidak, Indonesia asal comot dan meniru pendidikan yang ditanamkan oleh penjajah ini. Kok mau-maunya Indonesia mengamini dan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh penjajah, dan meninggalkan kearifan yang telah diteliti, disesuaikan, dan dikembangkan oleh nenek moyangnya sendiri. Yang lebih durhakanya lagi, umumnya masyarakat kini malah jadi menganggap bahwa pesantren adalah instansi pendidikan kelas 3.

Lalu apakah berarti pendidikan yang diwariskan oleh penjajah itu serratus persen jelek dan tidak layak? Tidak ekstrim begitu juga, apa yang diwariskan oleh penjajah memang ada yang positif dan ada negative, tentu oleh pakar pendidikan kita, yang negatif-negatif tadi sudah diminimalisir. Namun yang penulis ingin ungkapkan di sini adalah, kita seharusnya berangkat dari apa yang telah kita punya, baru kemudian menjaga apa yang baik dari apa yang kita punya dan mengambil hal baru yang dirasa lebih baik. Lebih-lebih, jangan sampai kita “kepaten obor” terhadap sejarah kita sendiri.

Belum lagi melihat pendidikan kini yang gemar mengajari anak didiknya tahu banyak hal, tapi tidak mendalam sama sekali. Kalau mengadopsi istilahnya Emha Ainun Nadjib, indonesia mencetak generasi yang “tahu sedikit tentang banyak hal”, bukannya malah mencetak manusia-manusia yang “tahu banyak tentang sedikit hal”. Yang ujung-ujungnya hobi termakan hoax dan menyebarkannya. Ini kah wajah pendidikan yang diinginkan Indonesia?

Penulis rasa, semua pemerhati pendidikan juga memiliki pandangan yang sama, yakni mau tidak mau pendidikan harus terus berkembang, sesuai dengan zaman, pola sosial, pola hidup, serta teknologi yang terus menerus berkembang dengan masifnya dan cepat. Namun, kita juga tidak boleh serta merta meninggalkan nilai-nilai luhur dan prinsip-prinsip arif yang sudah lama bangsa ini miliki.

Wocoen   BELAJAR DARI GAGASAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF NURCHOLISH MADJID

Dari mana nilai-nilai luhur dan arif itu bisa digali? Tentu dari fosil-fosil instansi-instansi (baik yang berupa sumber teks, mapun masih berupa fosil hidup) yang telah lama duluan mapan jauh sebelum indonesia lahir.

Oleh karenanya, kok menurut penulis tidak ada ruginya menengok kembali pesantren dan kakak-kakaknya sebagai sebuah instansi yang berhasil melahirkan tokoh sekelas Gajahmada, Rangga Rajasa sang Angmurwa Bumi, Anuso pati, Seminingrat Wisnu wardana, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Raden Patah, Joko Tingkir, Nurudin Ar roniri, Abdul rouf As singkili, Muhammad yusuf Al maqasari, mbah Nawawi Al bantani, mbah Mahfud At tirmisi, mbah Khalil bangkalan, K.H.R Asnawi kudus,Hhadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Tags

Muhammad Isbah Habibi

seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close