Kisah Hikmah Kyai dan Sopirnya

(Meneladani Pertemuan Dua Wali Besar KH. Arwani Amin Kudus dan KH. Abdul Hamid Pasuruan)

Sekitar tahun 1968, suatu hari Almaghfurlahu KH. Arwani Amin, Pendiri Pondok Pesantren Yanbuul Qur’an, Kudus bermaksud bersilaturrahmi ke kediaman Almaghfurlahu KH. Abdul Hamid, Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan.

Perlu diketahui bahwa KH. Arwani Amin dikenal sebagai Guru Besar dalam Ilmu Al-Qur’an. Santri al-maghfulahu KH. Munawwir Krapyak adalah seorang hafidz qiroah sab’ah yang mengarang kitab Faidul Barokat yang menjelaskan tentang Qiroah Sab’ah (Bacaan 7 Imam Qiro’at) yang ditulisnya saat menyantri di Krapyak. Kemudian bapak 2 putra ini mendirikan Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Al-Qur’an di Kudus yang banyak melahirkan Hamilul Qur’an dan Metode Baca Al-Qur’an Yanbu’a yang tersebar di berbagai daerah di penjuru nusantara.

Sedangkan KH. Abdul Hamid adalah salah satu Wali Allah yang begitu alim, istiqomah dan sabar dalam membina umat khususnya di wilayah Pasuruan. Kyai asal Lasem, Rembang yang lama menyantri di Pondok Pesantren Termas, Pacitan ini begitu masyhur keilmuan, ketawadhuan dan menjadi jujukan umat baik saat hidup maupun wafatnya. Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan juga telah banyak melahirkan pejuang islam ahlussunnah wal-jamaah yang menegakkan panji agama Rasulullah SAW di penjuru tanah air.

Maka ketika menemukan momen yang tepat, berangkatlah beliau bersama kedua putranya, KH. Ulin Nuha Arwani dan KH. Ulil Albab Arwani yang ditemani oleh santrinya yakni KH. Nur Hadi, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Raudlotul Huffadz, Kediri Tabanan Bali (Saat itu beliau masih berusia sekitar 18 tahun dan sekarang usianya menginjak 68 tahun) dan almaghfurlahu KH. Abdullah Faqih, Mertua KH. Anas putra sulung KH. Bashori Alwi, Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Singosari, dan KH. Hamid Bin KH. Abdul Qodir Munawwir, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta.

Singkat cerita, tibalah KH. Arwani Amin beserta rombongan di Kota Pasuruan setelah menempuh perjalanan darat dengan Mobil Toyota Kijang dari Kudus. Maka bertamulah beliau ke kediaman KH. Abdul Hamid Pasuruan yang berlokasi tak jauh dari Masjid Jami Kota Pasuruan (Makam KH. Abdul Hamid sendiri berada di belakang Masjid Jami’ Kota Pasuruan yang berada di depan Alun-Alun Kota Pasuruan). Dan KH. Abdul Hamid pun menyambut dengan penuh suka cita saudara seperjuangganya tersebut. Maka saling bersalaman berangkulanlah kedua ulama besar ini pada pertemuan yang mengharukan tersebut.

Dan setelah sempat bercengkrama, tibalah waktu jamuan makan. Dan rombongan pun dihaturkan untuk menjadi ruang makan. Namun saat rombongan siap menyantap hidangan, tiba-tiba KH. Abdul Hamid berkata:

“Endi, wong sing gowo nyowo iki?”

(Mana orang yang membawa nyawa ini?)

Mendengar hal tersebut, seketika rombongan pun dibuat bingung apa maksud perkataan Kyai yang terkenal kewaliannya tersebut. Maka, menjawab kepanikan mereka KH. Abdul Hamid pun menjelaskan maksud bahwa dari perkataan diatas yakni bahwa beliau menanyakan tentang keberadaan sopir KH. Arwani Amin beserta rombongan yang mengantarkan mereka dari Kudus yang tak terlihat di meja makan ini.

Sekitar putra kyai dan santrinya segera mencari-cari keberadaan sopir. Namun sayang yang bersangkutan pergi entah kemana. Setelah berjam-jam mencari akhirnya ketemulah si sopir di suatu tempat. Dan diajaklah dia untuk makan bersama di ndalem KH. Abdul Hamid. Meski sempat membuat kegaduhan, kedua ulama ini hanya tersenyum dan tak ada kemarahan sedikitpun melihat kelakuan sopirnya ini.

Maka semenjak kejadian itulah KH. Arwani Amin yang kemudian dilanjutkan kedua putranya dan kedua santrinya belajar dari kisah tersebut, maka saat bepergian kemanapun, mereka begitu memperhatikan kondisi sopirnya seperti makanan, kesehatan sampai urusan keluarganya. Karena meski hanya menyetir mobil milik Kyai, tetapi mereka punya andil besar dalam perjalanan gurunya. Karena tak terbayang betapa repotnya seorang kyai jika tanpa sopir yang mana beliau sering keluar untuk undangan pengajian, silaturrahmi, rapat atau acara lainnya, terlebih bagi mereka yang punya jam terbang tinggi.

Begitulah sekedar cuplikan kisah unik dari pertemuan dua pejuang islam ini. Meski hanya menjadi sopir kyai atau bahkan hanya sekedar menjadi kernet saja yang mana mereka jarang mendapat asupan pelajaran seperti umumnya santri lainnya yang dapat istiqomah mengaji, namun dibalik itu justru mereka dapat belajar dari kyainya secara langsung dan bahkan ilmu yang didapatkannya jauh lebih istimewa dari santri lainnya.

Maka jangan pernah ragu untuk terus berkhidmah dan dekat dengan ulama penerus perjuangan salafus soleh, karena meski ilmu yang diraih tak seberapa namun keberkahan ilmu dan serta doa tulus ulama tersebut yang begitu kita harapkan. Dengan membantu perjuangan mereka, meski terlihat begitu enteng dan remeh dipandang seperti bersih-bersih pesantren, menatakan sandal, menata Al-Qur’an atau kitab atau yang lainnya, namun jika semuanya dilandasi keikhlasan maka jerih payahnya akan kita rasakan saat berkiprah di tengah masyarakat luas.

Karena dengan berpartisipasi dengan membantu perjuangan mereka sama halnya dengan ikut menegakkan kalimat Illahi, yang mana Dzat Yang Maha Kuasa tersebut akan membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda, dan kelak kita akan mendapat kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat. Dan hal itu dapat kita ambil dari keteladanan ulama-ulama kita yang saat masa menimba ilmunya begitu ketaatannya dan besarnya khidmah kepada guru-gurunya. Hal ini juga berlandaskan dari firman Allah SWT dalam kalam sucinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

(QS. Muhammad: 7)


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhammad Abid Muaffan 1 Article
Lahir di Malang, 16 September 1993. Seorang Wakil Ketua JQH Kabupaten Bogor dan Peneliti Sanad Qiraat Nusantara

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.