Najih Syahrul Ichwan Bertempat tinggal di Kerso Kedung Jepara. Kuliah di Pascasarjana S2 UIN Maliki Malang. Singgah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Kasri

Kisah Yusuf dan Zulaikha di Hari Valentine

Najih Syahrul Ichwan 5 min read 57 views

Maka Zulaikha menjawab: “Demi Allah, melihat wajahmu lebih aku sukai daripada dunia dan kenikmatannya.”

Kemudian Zulaikha meminta Nabi Yusuf memberikan ujung dari cambuk yang sedang ia bawa. Setelah memegangnya Zulaikha meletakkan ujung cambuk itu di dadanya. Maka Yusuf mendapati getaran di tangannya yang memegang dasar cambuk sebab detak jantung dari Zulaikha.

Di atas adalah potongan cerita kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Valentine, disebut-sebut banyak orang sebagai hari kasih sayang. Bagi yang berpasangan, akan bermanja-manja. Yang masih PDKT atau sedang mengejar gebetan, akan menjadikannya momen memberi hadiah cokelat. Yang kasihan ya para jomblo, hanya bisa melihat kemesraan mereka sedang hati mereka merana. Oh sungguh kasihan.

Perayaan ini seperti biasa memiliki dua kalangan yang setuju atau tidak. Kalangan mainstream anak muda menggebu-gebu dan bersenang ria merayakan. Di sisi lain para ustaz mewanti-wanti bahwa itu bukan budaya kita, kenapa dirayakan. Biasanya disitir sebuah sejarah tentang munculnya perayaan hari ini yang entah benar atau tidak sebagai bukti pelarangan. Dengan sejarah itu disebutkan Valentine bukan budaya Islam. Sampai bahkan muncul fatwa haram untuk perayaan hari ini.

Saya sendiri pun sebenarnya juga cenderung mengharamkan. Bukan apa-apa, lebih kepada karena saya sedang jomblo dan tidak ada kesempatan merayakan, sehingga jadi sok-sokan suci ajalah. Hehe. Kenapa? karena saya ingin status itu hilang (apaan sih, angel-angel ngatani jomblo gaes, curhat terus).

Namun, mumpung ada momennya, kenapa tidak kita bahas yang seirama. Kasih sayang atau cinta dalam Islam apakah ada? Ya tentu ada, toh ini kan agama rahmah. Oke lebih spesifik lagi bagaimana dalam hubungan dengan lawan jenis? Tentu ada juga, dan sebenarnya hubungan percintaan ini juga bisa dijadikan role model untuk siapapun yang ingin cinta-cintaan dengan lawan jenis.

Kisah yang ingin kita hadirkan adalah kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Kisah yang sangat penuh drama, yang penting untuk diambil pelajaran darinya. Dijamin romantis.

Ungkapan cinta

Bentuk dalam ungkapan cinta memiliki caranya masing-masing. Begitu pula pada diri Zulaikha dan Nabi Yusuf. Ada sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana ungkapan-ungkapan cinta dari keduanya. Semua cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha kami ambil dari tafasir Qurtubi di Surat Yusuf.

Zulaikha berkata setelah mengunci kamar: “Wahai Yusuf, betapa indahnya rambutmu”

Nabi Yusuf: “Rambutku adalah sesuatu yang pertama yang akan rusak di kubur nanti”

Zulaikha: “Wahai Yusuf betapa indahnya kedua matamu?”

Nabi Yusuf: “Dengan keduanya saya melihat Tuhan saya”

Zulaikha: “Wahai Yusuf, angkat wajahmu! Dan lihatlah wajahku!”

Nabi Yusuf: “Saya kawatir di akhirat nanti saya akan buta”.

Zulaikha: “Wahai Yusuf, aku mendekatimu tapi engkau menjauhiku”.

Nabi Yusuf: “Saya ingin kedekatan itu dari Tuhan (yang diridaiNya)”

Zulaikha: “Wahai Yusuf, sebuah bilik telah dibentangkan untuk tidur bersamamu, maka masuklah bersamaku.”

Nabi Yusuf: “Bilik tidak bisa menutupiku dari Tuhan”

Zulaikha: “Wahai Yusuf, selimut sutera telah disiapkan untukmu. Maka penuhilah hajatku.”

Nabi Yusuf: “Jika itu terjadi hilang dari surga tempat bagianku”

Ternyata ada ungkapan yang berbeda terjadi antara Nabi Yusuf dan Zulaikha. Kecintaan Zulaikha benar-benar cinta buta. Yang pada akhirnya membuat ia sebagai tuan dari Yusuf merendahkan dirinya untuk meminta-minta agar hasrat akan cintanya terpenuhi dari Nabi Yusuf. Ketika cinta buta akan keluar ungkapan memuja. Tapi Yusuf mengingatkan akan ungkapan pujaan itu harus memiliki kadar dan iman yang perlu dijaga.

Silahkan baca juga   Rokok; Selera, Tanggung Jawab dan Inspirasi

Sedang Yusuf, segala hal rasanya didasari dengan iman. Segala pujian dan ungkapan cinta dia balas dengan tepat. Yang tepat adalah walaupun tidak apa-apa merayu, tapi hal itu tetap harus disandarkan kepada iman dan aturan agama bahwa segalanya harus diridai dan tidak dalam rangka kemaksiatan.

Pun juga begitu telah dapat dipahami dari apa yang terjadi pada Yusuf. Sesuatu yang berbentuk penolakan terkadang tidak sesuai dengan fakta yang ada. Karena realita di balik itu sebenarnya ada yang ingin dia jaga. Tentang yang jauh lebih penting yaitu antara hubungannya dengan Tuhan. Dan dia jauh lebih berpikir ke depan, yaitu hubungan yang diridai Tuhan.

Rasa dua manusia

Kita memasukkan keduanya sebagai contoh orang yang saling mencintai atau minimal suka karena ada ayat “walaqad hammat bihi wahamma biha … al-ayat”. Benar-benar telah mencintai (berhasrat) Zulaikha dan pula Yusuf.

Dan di sini berapa ulama sudah sepakat tentang rasa cinta yang besar dari Zulaikha kepada Nabi Yusuf. Sedang tentang rasa Nabi Yusuf ada perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan itu tidak terjadi. Ada pula yang berpendapat rasa itu juga hadir dalam diri Yusuf tapi segera dia atur dengan keimanannya. Begitu yang diungkapkan oleh Imam Ar Razi.

Menurut Imam Ar Razi perasaan kepada lawan jenis adalah tabiat manusia. Ya namanya manusia pasti punya suka. Kalau tidak berarti bukan manusia (yang ini kesimpulan saya sendiri ya).

Oleh karena itu, maka rasa terhadap lawan jenis tidak bisa dipermasalahkan. Karena mempermasalahkan itu berarti mengingkari tentang kemanusiaannya sendiri. Maka menjadi benar ungkapan yang sering kita dengar, rasa tak pernah salah. Bahkan agama pun melegalkan hal itu. Asal ada batasan dan tidak melanggar ketentuan Tuhan.

Silahkan baca juga   Lebaran Tanpa Mudik Dan “Sungkeman”

Dari hal ini, maka tidak bisa dipermasalahkan kemaksuman (terjaga dari dosa) dari Nabi Yusuf. Karena, asal rasa itu tidak diwujudkan dalam bentuk membabi-buta melanggar batasan agama maka tidak apa-apa. Dan Nabi Yusuf dengan cerita ini, maka jelas bahwa beliau benar menjaga imannya.

Padahal ini jelas bukan perkara gampang. Karena beliau berdua dengan Zulaikha di dalam kamar yang terkunci.

Yang perempuan cantik sekali, ditawarin lagi. Belum tentu Anda bisa menolak seperti apa yang dilakulan oleh Nabi Yusuf. Berhasilnya Nabi Yusuf menghindari adanya kejadian yang keji adalah menjadi bukti tingginya kedudukan Nabi Yusuf. Hal ini pun sesuai dengan hadis Nabi “Jika hambaMu berkehendak terhadap suatu kesalahan kemudian dia tidak melakukannya maka itu dihitung satu kebaikan”.

Kalau jodoh tidak akan ke mana

Kejadian ajakan Zulaikha dan penolakan Nabi Yusuf akhirnya membuahkan perpisahan antara mereka berdua. Yusuf masuk ke dalam penjara sedang Zulaikha masih dalam perasaan yang sama kepada Yusuf.

Pada akhirnya suami dari Zulaikha meninggal. Zulaikha mengalami perubahan yang besar dalam hidupnya. Hartanya habis dan kedua matanya buta. Diceritakan bahwa salah satu sebab kebutaan Zulaikha karena sering menangisi Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf sudah beranjak dewasa dan atas jasa sebagai penafsir mimpi dia diangkat sebagai menteri kerajaan dan terbebas dari penjara. Nabi Yusuf pun mendengar tentang kabar Zulaikha. Tentang bagaimana keadaannya sekarang. Zulaikha sebelum Yusuf ke luar dari penjara telah memberikan kesaksian secara jujur tentang tindakan bodoh apa yang dia lakukan dan tentang kejujuran dan kemuliaan Yusuf. Ungkapan ini menjadi awal pertaubatan Zulaikha seperti yang diungkapkan dalam tafsir Qurtubi. Maka Yusuf mencari-cari di mana Zulaikha.

Kabar tentang Nabi Yusuf yang mencari Zulaikha santer terdengar. Berapa orang banyak yang memprovokasi bahwa kedatangan Yusuf mungkin karena ingin melakukan pembalasan akan sesuatu yang dilakukan Zulaikha kepadanya dulu. Zulaikha menanggapi mereka dengan santai: “Aku lebih mengetahui seperti apa karakter kekasihku daripada kalian” Kemudian dia berpaling.

Zulaikha pada akhirnya dapat bertemu dengan Yusuf saat dia mendapati Yusuf berkendara ke tempatnya dan berkata: “Maha suci Allah yang telah menjadikan raja menjadi hamba sahaya sebab kemaksiatannya dan menjadikan hamba sahaya raja sebab ketaaannya”.

Yusuf sedikit tidak mengenali siapa gerangan yang berkata. Namun tetap mendatangi suara itu. Dan bertanya siapa gerangan.

Zulaikha menjawab: “Dulu aku yang merawatmu di atas pangkuanku, aku dulu yang merapikan rambutmu, mengasuhmu di rumahku dan memuliakanmu di tempatku”. Kemudian Zulaikha menceritakan tentang kejadian setelahnya. Bahwa kebodohannya telah membuat dia menderita. Hartanya hilang, dia dalam kesusahan, dan kedua matanya buta. Mendengarnya, Yusuf menangis.

Silahkan baca juga   Menakar Rasa Cinta Tanah Air

Kemudian Yusuf bertanya pada Zulaikha: “Apakah masih ada sisa yang engkau temukan dalam dirimu rasa cinta terhadapku?”

Maka Zulaikha menjawab: “Demi Allah melihat wajahmu lebih aku sukai daripada dunia dan kenikmatannya”

Kemudian Zulaikha meminta Nabi Yusuf memberikan ujung dari cambuk yang sedang ia bawa. Setelah memegangnya Zulaikha meletakkan ujung cambuk itu di dadanya. Maka Yusuf mendapati getaran di tangannya yang memegang dasar cambuk sebab detak jantung dari Zulaikha. Maka menangislah kembali Yusuf. Kemudian memohon diri untuk pamit.

Setelah itu dia mengirim seorang utusan yang menyampaikan pesannya kepada Zulaikha: “Jika engkau tidak bersuami maka kami ingin menikahinya dan jika engkau sudah bersuami maka kami akan mengayakan engkau dan suamimu”

Maka dengan sedikit emosi Zulaikha menjawab: “Aku berlindung pada Allah atas terhinanya aku oleh seorang raja. Bagaimana mungkin dia tidak menginginkannya di waktu mudaku, waktu kayaku, waktu muliaku, kemudian tiba-tiba ia menginginkannya sekarang. Sedangkan aku yang sekarang adalah wanita tua yang buta, yang fakir?”

Utusan itu pun kembali. Menyampaikan segala yang terjadi kepada Nabi Yusuf. Mendengarnya maka berdirilah Nabi Yusuf, salat dan berdoa kepada Allah agar Zulaikha dikembalikan ke masa mudanya secantik saat dia pernah merayu Yusuf. Maka Allah mengabulkan doa Yusuf. Pada akhirnya mereka pun menikah. Dan Allah memberikan lipatan pada cinta Nabi Yusuf kepada Zulaikha.

Suatu saat Nabi Yusuf pernah bertanya suatu hal kepada Zulaikha: “Bagaimana keadaanmu? Tidakkah kau mencintaiku seperti keadaan kita pertama dulu?”

Jawaban Zulaikha adalah: “Ketika aku merasakan cinta kepada Allah hal itu menyibukkanku kepada segala sesuatu selainnya”.

Dapat disimpulkan, jika memang sudah jodoh, tidak akan ke mana. Yang terpenting adalah tetap pada komitmen untuk menjalankan agama secara semestinya. Coba saja bayangkan jika Nabi Yusuf menerima ajakan Zulaikha. Niscaya keadaan Yusuf bisa jadi hanya sekadar menjadi selingkuhan dari Zulaikha. Atau bahasa lainnya cinta palsu dan terlarang.

Tapi guys, kalian yang jomblo jangan senang dulu. Quraish Shihab juga mengatakan, jodoh juga harus dicari, jangan ditunggu. Mereka memang nggak akan ke mana-mana, tapi kalian harus datangi. Datangi pula orang tuanya. Beritahu kalian menyukai putrinya di depan mereka.

Dan begitulah jalan pasangan surgawi. Tidak beralasan di balik cinta meninggalkan keyakinan dan dasar agamanya. Dan potret kehidupannya akan happy ending, sakinah mawaddah wa rahmah. Bahkan seperti yang terjadi pada Zulaikha. Hubungan cinta mereka bukan hanya tentang mereka saja. Tapi juga menjadi wasilah untuk mencintai Tuhan, zat yang sepantasnya dicintai.

Najih Syahrul Ichwan Bertempat tinggal di Kerso Kedung Jepara. Kuliah di Pascasarjana S2 UIN Maliki Malang. Singgah di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Kasri

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.