Kita Hanya Diminta Upacara, Bukan Lagi Mengangkat Senjata

Dulu penulis anti upacara bendera, bukan karena anti Pancasila sebagai ideologi negara, tapi karena anti matahari, takut hitam sebab berjemur di bawah panas yang menyengat sehingga tak jarang saat upacara akan dimulai penulis lari lompat pagar sekolah bersembunyi di suatu tempat, lalu kembali lagi setelah upacara selesai; kadang juga sengaja datang telat saat upacara sudah usai.

Kenakalan lain saat upacara adalah kadang main-main di barisan belakang atau bahkan pura-pura pingsan agar digotong ke ruang UKS untuk rebahan setelah meneguk segelas teh hangat yang diberikan.

Sejak dulu penulis tahu bahwa upacara bendera merupakan seremonial peringatan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah untuk merdeka, tapi penulis baru sadar, bahwa di antara para pelaku sejarah pasti ada nenek moyang kita: Mbah kita, buyut kita, mbahnya mbah kita, buyutnya buyut kita, terus ke atas yang dulu tertindas penjajah, lalu berjuang bersama, mengucurkan keringat, darah, air mata, dan nyawa hanya untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan menuju tampuk kemerdekaan.

Dari sini penulis benar-benar sadar, bahwa pacara bukan sekedar formalitas seremonial peringatan belaka, melainkan bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan yang Tuhan berikan melalui perjuangan nenek moyang, para pahlawan dan seluruh bangsa Indonesia di masa lalu sehingga hari ini kita benar-benar bisa menghirup udara kebebasan dengan karunia hijaunya alam, suburnya tanah, kasih sayang antar sesama; merasa aman saat bekerja dan nyaman saat menutup mata tanpa dihantui rasa takut angkatan bersenjata.

Maka kesimpulannya, upacara merupakan ritual penghormatan terhadap kakek nenek moyang kita. Jika kita enggan mengikuti upacara bendera, berarti kita enggan mengenang, menghormati, dan mendoakan mbah buyut kita sendiri. Jika kita bermain-main/cengengesan saat upacara, berarti kita mempermainkan perjuangan kakek nenek moyang; mempermainkan perjuangannya, keringatnya, darahnya, dan bahkan nyawanya.

Apalagi bila enggan ikut upacara hanya dengan alasan panas, sangat terkesan manja, lemah dan cengeng. Apakah pribadi-pribadi yang memiliki mental seperti ini yang diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan? Apakah mereka tidak menyesal bila yang diperjuangkan ternyata mentalnya hanya kalah dengan terik matahari, dan lebih memilih segelas teh hangat, daripada mengenang dan bersyukur sejenak dengan upacara bendera?

Hari ini kita hanya diminta untuk meluangkan waktu sejenak untuk sekedar berdiri dan berjemur di lapangan tanpa perlu turun ke medan perang meninggalkan keluarga untuk bertempur melawan penjajah. Hari ini kita hanya diminta khidmat sesaat tanpa canda tawa untuk mengenang dan menghormati para pendahulu yang rela gugur demi kebebasan, kemenangan, dan kebahagiaan kita.

Perjuangan para leluhur kita, melawan para penjajah, luka berdarah-darah merupakan hal biasa. Mereka tidak menghadapi luka-luka cengeng seperti galau ditinggal kekasih, atau luka akibat di-php dosen. Tidak, mereka lebih tangguh. Panah, lapar, hujan, pincang, lumpuh, hujan badai, dibuang, dipenjara, adalah sekelumit luka-luka yang mereka rasakan. Demi siapa itu semua? Tentu demi kita penerus bangsa hari ini.

Oleh karena itu, ikutilah serangkaian upacara dengan serius, penuh khidmat dan semangat semata-mata untuk menghormati keringat, darah, air mata, dan nyawa yang rela dikorbankan untuk kita. Tanpa alasan-alasan lembek, dan manja lagi. Karena tugas kita hari ini adalah merawat apa yang telah diwariskan kepada kita, tidak lagi bertarung ataupun bermandikan darah.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.