Kita Semua Memulai dari Nol, Kecuali Rafathar

Nadin Amizah, penyanyi indie yang semakin terkenal itu, dulu pernah men-tweet, bahwa kita harus jadi orang kaya. Karena kalau kaya kita akan lebih mudah jadi orang baik. Dan saat kita miskin, rasa benci terhadap dunia sudah terlalu besar sampai kita tidak punya waktu untuk berbuat baik kepada orang lain lagi.

Bagi sebagian orang, cuitannya ini dianggap merendahkan orang miskin. Sebagian lagi menganggap bahwa cuitan ini adalah benar secara empiris-kolektif.

Bagi orang yang setuju, interpretasi sederhananya dari tweet Dik Nadin itu begini; secara umum, kekayaan —katakanlah kekayaan harta walaupun sebenarnya rezeki tidak hanya sebatas materi dan uang— bisa berdampak terhadap kondisi hati seseorang. Semakin seseorang kaya semakin dia bahagia. Otak emosi orang yang bahagia relatif stabil sehingga akan semakin mudah berpikir positif terhadap dunia serta mudah menerima kenyataan. Lha piye, wong hidupnya serba enak.

Bila dikaruniai hati yang baik, ia akan mudah berbuat baik kepada orang lain. Jika ia seorang yang religius, maka ibadah akan lebih enjoy dan tenang. Berbaik sangka kepada Tuhannya akan lebih mudah.

Kekayaan hakikatnya tidak selalu memberikan output bertambahnya iman seseorang dan menjadikannya pribadi yang baik terhadap sesama. Toh masih banyak orang kaya namun medhite raumum, tidak pernah bersyukur dan tetap serakah. Sebab gambaran tersebut di atas hanyalah konsep dasar saja.

Bagaimana bila ia miskin?

Hidup susah, kondisi hati relatif tidak lebih stabil dan terkontrol daripada saat dalam keadaaan kecukupan. Jika ada guyonan bahwa orang lapar itu mudah galak, sepertinya nggak salah juga.

Orang melarat jika ingin seperti orang-orang kaya yang gemar sedekah dan bagi-bagi harta lalu ngonten di YouTube, lha pakai uangnya siapa? Raffi Ahmad?

Orang miskin yang ingin menyumbang yayasan panti asuhan atau lembaga sosial lainnya mau pakai apa? Pakai kreweng (baca: pecahan genting)?

Mau berbuat baik kepada orang lain saja susah karena kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Mau menolong orang lain saja mikir-mikir karena ia telah disekat oleh keterbatasan. Mau membantu orang lain saja sulit karena dirinya sendiri belum tuntas dari kesulitan.

Orang yang dilanda kemiskinan berpotensi mudah berburuk sangka kepada Tuhannya. Kaadal faqru ayyakuuna kufran, bahwa kefakiran akan lebih dekat dengan kekufuran. Cukuplah berburuk sangka kepada Tuhan membuat seseorang menjadi kufur. Ketidakmampuan menerima kenyataan adalah salah satu cobaan orang miskin yang nyata. Baik kemiskinan material maupun kemiskinan spiritual tetap membuat seseorang berpotensi menjadi kufur.

Sekali lagi, hipotesis kekayaan dan kebaikan atau kemiskinan dan ketidakbaikan adalah konsep dasar. Jika seseorang mau mencari orang miskin yang baik, sabar, qanaah, baik dengan tetangga dan orang lain serta rajin ibadah, akan tetap ada. Yang karena memang hakikatnya kekayaan dan kemiskinan harus dibarengi dengan keimanan yang kuat.

***

Dalam dunia sekolahan, sebagian orang mengatakan, “IPK itu tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah skill”. Dengan bahasa lain bahwa angka-angka rapor sekolah bukan jaminan kesuksesan seorang pelajar di masa depannya kelak, melainkan keuletan, adaptif, luwes dan kreativitasnyalah yang bisa menjamin kesuksesan.

Pendek kata, seseorang yang mampu memanfaatkan dan menggali kecerdasan emosional (limbic system) adalah orang yang mampu lebih cepat memperoleh kesuksesan daripada seseorang yang hanya berbekal kecerdasan intelektual (neo cortex) saja.

Sebagian lagi berujar bahwa dengan IPK yang baik, seorang sarjana akan lebih mudah diterima kerja di sebuah instansi. Pada zaman modern ini yang dibutuhkan adalah bukti fisik tertulis. Semua serba kertas —atau softcopy-nya. Semua serba dokumen. Ijazah dan IPK yang baik adalah awal seseorang bisa bersaing dengan kompetitornya dan merupakan bukti awal kualitas diri secara “tertulis” di hadapan instansi.

Sobat missqueen yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, ketahuilah bahwa pembenturan kedua pendapat tersebut adalah sia-sia belaka. Yang dihargai pada zaman yang semakin banyak omong tentang metaverse seperti sekarang ini adalah orang yang berduit.

Ketahuilah, yang dibutuhkan pada zaman ndakik tentang society 5.0 ini cuma privilege dengan menjadi anak orang kaya atau minimal mempunyai akses politik yang kuat, Bestie. Bagi sebuah instansi, walaupun seseorang memiliki IPK dua kali lipat lebih tinggi dari 4.00 (mana ada IPK 8.00?) tetap ia akan kalah dengan orang dalam.

Walaupun seseorang mempunyai skill dewa yang misal menjadi bakat alami seperti Kyllian Mbappe atau Leonel Messi, ia akan kalah dengan orang-orang berduit yang terlanjur menyokong kuat kebijakan politik pemerintah. Berapa banyak temuan-temuan hebat dari anak-anak dalam negeri yang tidak terhargai oleh negara?

Baik berijazah kampus bonafide atau hanya berbekal skill, di hadapan zaman yang serba materialistis kita adalah sama; sama-sama memulai dari nol bahkan pengusaha sukses Chairul Tanjung Si Anak Singkong atau Susi Pudjiastuti dengan ijazah SMP-nya sekalipun. Kecuali jika kita mempunyai privilege, jadi Rafathar misalnya.

About Hanif N. Isa 22 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.