Kitab Kuning dan Perkembangan Zaman

Di antara sekian banyak hal yang menarik dari pesantren yang tidak terdapat di lembaga lain adalah mata pelajaran bakunya yang ditekstualkan dengan kitab-kitab karya ulama-ulama terdahulu yang kini dikenal dengan sebutan kitab kuning. Kitab model ini, menjadi pelajaran wajib di pesantren, bahkan di bulan Ramadan, kitab-kitab kuning besar yang berisi ratusan halaman dirampungkan bacaannya dalam waktu hanya satu bulan. Biasanya dimulai pengajarannya beberapa hari sebelum bulan Ramadan dan rampung sebelum habis bulan suci itu.

Kitab kuning mempunyai ciri-ciri melekat yang untuk memahaminya memerlukan keterampilan tertentu dan tidak cukup hanya dengan menguasai bahasa Arab saja. Banyak orang yg pandai berbahasa Arab, tetapi masih mengalami kesulitan memahami isi dan kandungan kitab kuning secara tepat. Namun juga sebaliknya, tidak sedikit orang yang menguasai bacaan kitab-kitab kuning tidak dapat berbahasa Arab secara aktif dan baik.

Sistematika penyusunan kitab-kitab kuning pada umumnya sudah begitu maju dengan urutan kerangka yang lebih besar, kemudian berturut-turut kerangka itu dituturkan sampai kepada yang paling kecil. Contoh seperti Bab, Fasal, Far’un dan seterusnya.

Sering juga memakai kerangka Muqadimah dan Khatimah. Kitab Kuning tidak menggunakan harakat, sehingga biasa disebut juga dengan kitab gundul. Uniknya, kitab kuning pada umumnya tidak menggunakan tanda baca yang lazim seperti titik, koma, titik dua, tanda tanya dan seterusnya.

Susunan kata subjek dan predikat, sering dipisah dengan “jumlah mu’taridhah” yang cukup panjang tanpa tanda tertentu. Ciri inilah yang sangat memerlukan kecermatan dan keterampilan agar pembaca memahami betul makna dan kandungannya bahkan dapat menginterpretasikan dan mengonotasikan secara luas.

Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren itu disebut kitab kuning karena kitab tersebut dicetak di atas kertas yang berwarna kuning meskipun sebagian dari kitab-kitab tersebut sekarang telah dicetak dengan kertas putih. Dicetak dengan warna apapun, kalau isinya sama, namanya tetap kitab kuning. Kitab jenis ini berisi ilmu-ilmu agama secara universal dan ilmu-ilmu yang menjadi sarananya, mulai tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, tasawuf, fikih yang meliputi masalah-masalah ibadah, mu’amalah atau sosial, ilmu tata bahasa Arab, atau ilmu Nahwu Sorof, sastra Arab, bahkan sampai ilmu filsafat, logika, kedokteran, biologi, ilmu Falak/ atau stronomi dan lain-lain. Kitab yang merupakan produk budaya Islam ini adalah hasil karya para ilmuwan Islam yang memandu perjalanan sejarah umat manusia.

Kitab kuning ternyata tidak hanya dimiliki oleh orang-orang kalangan pesantran ataupun diajarkan di pesantren saja, tetapi kini juga diajarkan di luar pesantren. Di kalangan Jamiyah NU misalnya, dalam acara rutian seperti Lailatul Ijtima dan semacamnya, pengajian kitab kuning juga menjadi sajian awal di acara yang diselenggarakan setiap 5 pekan sekali oleh ormas Islam terbesar di negeri kita itu. Bahkan kitab kuning juga mengisi rak-rak perpustakaan perguruan Tinggi Islam, seperti beberapa perpustakaan di Fakultas Syari’ah IAIN, kitab kuning di situ biasanya disandingkan dengan berbagai dirasah Islamiyah yang baru.

Kitab kuning merupakan kekayaan keilmuan hasil peninggalan ulama-ulama besar pada zamannya, baik dari negara Arab maupun lainnya dan meliputi semua peninggalan intelektual ulama klasik, baik yang berideologi Aswaja maupun non Aswaja seperti Muktazilah, Jabariyah, dan lain-lain. Namun kitab kuning yang diterima di kalangan pesantren adalah hasil seleksi ketat para Ulama Nusantara dengan berpijak pada kerangka ideologi Aswaja.

Kitab jenis ini mampu menjadi pedoman umat Islam seluruh dunia selama beberapa abad lamanya. Ia menjadi simbol kebanggaan umat. Dalam mengkaji masalah, kitab kuning selalu menjadi referensi utama. Pendapat-pendapat ulama yang ada dalam kitab-kitab ini selalu menjadi primadona dan solusi setiap masalah. Kontribusi inilah yang tak ternilai harganya, membuat Islam kokoh pondasinya dengan cabang dan mata rantai yang menjulang ke angkasa menampakkan cahaya menerangi kegelapan dunia.

Meski di pesantren jumlahnya hanya ratusan judul, namun sebenarnya, kitab kuning yang meliputi berbagai bidang keilmuan yang terdiri dari matan ataupun nadzam, syarah dan hasyiyah, berjumlah ribuan judul.

Belakangan ini ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa pelajaran fikih di pesantren-pesantren yang ada sekarang ini, sebagian besar masih produk era Perang Salib, sehingga masih mempertentangkan negara Islam dengan negara bukan Islam. Era Perang Salib mengusung tiga konsep negara, yaitu Darul Islam, Darul Harb (negara musuh) dan Darus Sulhi (negara yang tidak menganut Islam tetapi bersahabat). Benarkah pernyataan pendapat seperti itu?

Kalau kita menengok sejarah, Perang Salib, maka perang yang berlangsung selama lebih dari satu abad itu, baru terjadi pada akhir abad ke 5 H, tepatnya pada tahun 489 H. Sedangkan kitab-kitab fikih yang menjadi dasar ajaran ilmu fikih imam mazhab itu, sudah ditulis oleh para murid mereka sejak abad kedua dan ketiga hijriah, atau tiga abad sebelum terjadinya perang paling terkenal sepanjang sejarah tersebut.

Kitab-kitab fikih yang menjadi dasar ajaran para imam mazhab itu, dirangkum dan ditulis oleh murid-muridnya dari guru-guru mereka. Pada generasi berikutnya, sejak abad 3 sampai awal abad ke 5 sebelum terjadinya perang tersebut. Berpuluh-puluh ulama besar ilmu fikih menulis pula kitab yang kemudian juga menjadi rujukan kitab-kitab fikih para ulama ulama generasi penerus mereka yang hidup si era Perang Salib dan sesudahnya.

Di antara ulama2 besar dari generasi awal yang telah menulis kitab-kitab fikih sebelum terjadinya Perang Salib itu, antara lain ialah:

— Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi (w. 270 H.), murid Imam As Syafi’i dan penghimpun serta penulis berbagai pendapat dan tulisan gurunya itu yang ia kumpulkan dalam satu kitab yang diberi judul “Al Umm”.

— Ismail bin Yahya Al Muzani (w. 270), murid As Syafi’i. Di antara kitab karyanya: Al Mukhtashar yang merupakan himpunan ucapan-ucapan dan pendapat-pendapat Imam Syafi’i.

— Ahmad bin Umar bin Suraij (w. 306 H) murid Al Muzani. Di antara karyanya Al Mukhtashar fil fiqhi.

— Abu Ishaq Ibrahim bin Muhamad Al Marwarzi (w. 264 H.). Di antara karyanya Syarhul Mukhtashar Al Muzani.

— Abu Ishaq Ibrahim bin Ali As Syairazi (w. 476 H). Diantara karyanya yang terkenal At Tanbih dan Al Muhadzab.

— Abdul Malik bin Abdillah yang dikenal dengan imam Al Haramain (w. 478 H). Di antara karyanya Nihayatul Mathlab, syarah Mukhyashar Almuzani.

Di dalam kitab-kitab ulama terdahulu yang menjadi dasar dan rujukan para ulama penerus mereka itu, ternyata sudah dimenuturkan pembagian negara menjadi tiga macam. Bahkan di dalam kitabnya “Al Umm“, Imam Syafi’i, juga menuturkan tiga macam negara, yakni “Darul Islam” (negara Islam), “Darul Harbi” (negara musuh) dan Biladu Ahlis Shulhi” (negara orang-orang yang berdamai dan tidak menganut Islam tetapi bersahabat).

Namun meski kitab fikih membagi negara menjadi tiga macam, bukan berarti ajaran fikih selalu hitam putih dalam menilai suatu persoalan, tetapi senantiasa amat longgar dalam melihat sudut pandang, sehingga negara seperti Indonesia ini menurut kitab fikih pesantren masih dikategorikan sebagai Darul Islam yang kemudian dijadikan referensi dalam keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, 9 Juni 1936.

About Nurul Ilmi Badrud Dujja 1 Article
Seorang alumni PP. Al-Falah Ploso Kediri. Sekarang sedang menempuh pendidikannya di UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.