Kucing dan Perkara Paras

“Gualak’e dadi adik, (galaknya jadi adik),” gumam Mas-ku.

Galak? Hahahaha, kejam sekali bahasanya. Namun kalau boleh jujur, aku sangat sadar kalau aku ini memang sangat galak. Mungkin jauh lebih galak daripada Ibuku saat di pagi hari.

“Na, kucingmu iki, pakanono dishik! (Na, kucingmu ini, beri makan dulu!).” Ya Salam, baru saja dibicarakan, langsung terdengar suaranya.

“Enggeh,” sahutku.

Kulihat Mas Atho’ menatapku sambil godek-godek. Kalau boleh jujur, di keluargaku ini, akulah anak yang paling patuh. Eits, jangan cemburu. Maafkanlah kalau aku sombong, namun nyatanya memang begitu.

Setelah mencuci piringku, aku mengambil wadah kecil bekas eskrim lalu mengisinya dengan nasi yang dicampur dengan ikan. Itu adalah menu makanan kucingku. Tak apa-apa, sederhana memang. Namun kucingku bisa tumbuh sehat.

“Pushy.. miaww…” Aku bersuara, mengeong seperti bayi kucing yang baru lahir. Tapi tunggu dulu, kalian jangan salah paham. Kucingku itu sudah besar, setidaknya lebih tua daripada kucing baru lahir. Umurnya 1 tahun.

Tak lama kemudian, muncullah seekor kucing cantik berbulu putih nan lebat dengan kalung yang melingkari lehernya. Itu adalah Cinky, kucing kesayanganku. Bahkan, jika disuruh memilih antara bermain dengan kucingku atau kakakku, aku jauh lebih memilih bermain bersama Cinky.

Cinky adalah kucing sejenis anggora, anggun dan norak! Nama lengkapnya adalah Phocinky Hecinda Del Patron. Keren bukan? Ya iyalah, kucingku gitu loh! Sebenarnya bukan aku yang memberikan nama itu, tetapi kakakku. Hampir semua kucing yang pernah “singgah” di rumah ini, kakakku yang memberikan nama untuknya.

“Pushy, meong.. kucingku sayang.”

Sekilas kudengar Ibu bersenandung kecil. Jika itu bukan Ibuku, mungkin saja aku akan melontarkan kata-kata seperti : “Lha situ yang nyanyi, sini yang disuruh kasih makan.”

Alamak, jika aku benar-benar mengatakannya, mungkin cucian tiga ember di sumur dan panci serta wajan berminyak menjadi santapanku selanjutnya. Kejam sekali!

Cinky adalah kucing yang penurut. Dia mau memakan makanan yang aku siapkan. Beruntung, dia juga kucing yang tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Hahahaha, maksudnya bagaimana itu?

Tetanggaku punya kucing, sejenis dengan Cinky. Namanya Gembul—memang itu kucing sudah gembul dari orok—dan Gembul adalah kucing yang memiliki gaya hidup glamor. Gila! Aku saja kalah.

Gembul mempunyai segalanya. Ia punya kalung klunting-klunting. Dan Cinky kerap kali memainkannya. Beruntung, ia tidak menginginkannya. Hanya saja, salah seorang temanku yang bernama Zulfa mengidolakannya. Selain mengidolakan boyband BTS, ia juga mengidolakan si pemakan segalanya itu.

Jangan heran, Cinky adalah kucing ‘Serbavora’, itu adalah istilah baru dari saudara-saudaraku (Hahahaha, macam pidato saja—maksudnya kakakku) yang merujuk pada suatu spesies hewan karnivora, atau herbivora yang doyan makan apa saja.

Pernah suatu ketika, aku membeli bakpau 2000 dari pedagang yang lewat. Bakpau isi coklat di malam hari itu nikmat, apalagi di sandingkan dengan teh panas. Namun, lama-kelamaan rasanya menjadi nek (mual). Kebetulan Cinky lewat di depanku. Aku pun memanggilnya dan memberikan bakpau yang ku beli itu. Ajaib! Cinky memakannya sampai tandas. Bahkan sisa-sisa coklat menempel di gigi-giginya yang tajam.

Itu justru menjadi ‘musibah’ bagiku. Cinky itu kucing yang keren, tampan—kata orang-orang, kece, imut, semuanya. Namun kurasa orang-orang harus berpikir dua kali sebelum mengatakannya. Alamak, giginya itu loh, yang menjadi masalah. Baunya busuk! Esoknya, dengan segera aku menyikat giginya dengan menggunakan sikat gigi bekas. Cinky langsung berlari bak kucing kesurupan. Lucu, mungkin si kucing menahan rasa pedas.

Aduh, malah jadi kemana-mana. Sampai mana tadi? Ah, sampai pada ceritanya si Zulfa yang mengidolakan kucingku itu.

Zulfa, ia pernah membelikan Cinky sebuah kalung. Yang mana sekarang kalung itu sudah Cinky pakai. Yah, menurutku sih, itu hanya sekedar keberuntungannya saja.

Benar kata orang, paras menentukan banyak hal. Termasuk penggemar. Cinky itu hanya beruntung saja, iya sih, dia lucu, tampan, bulunya cantik, matanya berwarna emas (apalah itu warnanya), penurut, pipinya tembem (apakah kucing itu punya pipi? Kurasa itu hanyalah bulunya saja), banyak tingkah, dan tentunya pasti banyak diidolakan para pecinta kucing. Bahkan Ibu pun menyukainya. Apalagi teman-temanku? Iya kan?

 

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muakidah Oktafia 1 Article
Kelas 2 Muallimat Tambakberas Jombang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.