Muzalifatun Nadhiroh Mahasiswa UIN Maliki Malang, yang mengambil bidang studi Psikologi, Berasal dari Mojoagung, Jombang, Jawa Timur

Puisi Muzalifatun Nadhiroh: Pengantar Tidur

Muzalifatun Nadhiroh 1 min read 2 views

Pengantar Tidur

Pengantar tidur

Kala peluh menjuntai di pelipis

Bukan tawa ataupun tangis

Hangat rasa namun tak nikmat

Bagaimana sanggup melawan penat

Harusnya kurebahkan raga sejenak

Taburan Kristal menyembul memberontak dahi

Kuikuti, namun tak kubiarkan ia mengalir sendiri

Hempasan angin lirih menyapa namun tak begitu nyata ia bersua

Maha agung Tuhan yang menjadikannya ada

Kenapa tak bisa ku tahan meneduhkan mata

Padahal baru saja direngkuh bahagia

Harusnya kurebahkan raga sejenak

Cengkeraman diatas bahu seolah merajuk

Aku tak tau kenapa dia begitu

Telah kuajak dia melancong lintas putaran waktu

Kaki tangan pun ambil suara

Kaku bagai batu yang lama merana

Harusnya kurebahkan raga sejenak

Akan berdosa jika kubiarkan mereka merajuk

Kala teringat mereka sepasang sahabat yang senantiasa bersama

Apalah dayaku memaksa salah satunya

Harusnya kurebahkan raga sejenak

Tenunan otot pelindung jiwa semakin layu

Entah terlalu lama atau terlanjur jauh dia terus bersamaku

Degub jantung laksana bedug maghrib bulan ramadhan

Menguak senyap ruang-ruang hampa

Setelah memeras raga dan mengadu jiwa

Partikel ruangan semacam mendukung keadaan disini

Kasur melambai bak rayuan pulau hawai

Bantal menyapa tak kalah mesra

Selimut menyapa ingin segera bersua

Hampir tak kuasa aku tahan ledakan emosi

Harusnya kurebahkan raga sejenak

Desahan nafas mengayun pelan seiring seirama

Tak kuasa kutahan hempasan tangan-tangan setan

Meluruhlah ragaku

Hancur leburlah jiwaku

Terkapar dalam balutan singgasana nan mendayu

Terjaring suasana syahdu

Melebihi buaian malaikat subuh

Berteman alunan melodi lirih

Berniat memang kutinggalkan semua perih

Kelopak mata mengatup rindu bak bertemu kekasih

Nyaman bergelayut manja di sekujur tubuh

Sehangat kecupan ibu

Tak kusadari lagi datangnya waktu

Entah berapa lama ia tahan menunggu

Wocoen   Wajahku setengah rembulan

Termenung menatapku agar tak merasa sepi

Ataukah ia akan kabur membiarkanku

Mengembara sendiri menembus gerbang alam mimpi

Tanpa pamitan,

Sungguh aku telah masuk dalam pesona tidurku

 

Contoh puisi

Mei 23, 2016

Apalah dayaku mengalahkan pujangga

Bukankah pelabuhan hati sudah nyata adanya?

Hanya saja bukan seketika ini harus di isi

Hanya saja waktu belum berpihak, itu saja

Raungan doa tak pernah terdiam

Berharap iba sang penggenggam segala rasa

Adalah terlalu hina jika diminta detik ini

Adalah pedih jika nyatanya pelabuhan itu seulas fatamorgana

Bendungan rasa belum pantas diisi hati yang lain

Lantas, mengapa butiran itu harus terlintas saat ini?

Tidak..

Bak tetesan embun dalam gua

Tak terdengan nyata adanya

Tapi tak dapat ditepis murninya

Perengkuh hati sejati yang sekiranya dapat mendengar

Bukan layaknya air terjun diujung sana

Yang bahkan gemericiknya tersohor seantero jagad

Siapa bilang tak boleh meminta?

Hakikatnya sama rasa

Lantas, adakah waktu menemukan embun?

Yang samar namun pasti wujudnya

Perengkuh segala hati sudahlah memahami

Mana kiranya nyanyian pujangga

Yang menghanyutkan embun dalam pelukannya

Yang merengkuh erat tanpa membawa Tanya

@azumna

Muzalifatun Nadhiroh
Muzalifatun Nadhiroh Mahasiswa UIN Maliki Malang, yang mengambil bidang studi Psikologi, Berasal dari Mojoagung, Jombang, Jawa Timur

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.