Puisi

Kumpulan puisi: Nasi yang telah menjadi bubur

Nasi Telah Menjadi Bubur

terlanjur cinta
cinta yang paling kuasa
kata-kata jadi mantra
dan membentur dengan luka
yang berkali-kali remuk-redam bukan yang diredam atau dipendam
namun, nyala padam dalam-dalam sebab waktu, kupasrah, kuberserah, mata-mata yang tak bernyawa seakan pindah dan merasuki otak dan batin tubuh seakan lumpuh lalu, ku bersimpuh

Berburu Nama

kalian pernah berusaha terbang mengejar nama
yang senantiasa berlindung di relung mendung

pernah pula kalian menyelam hingga palung segara
memburu nama yang lama bercerai dari pantai

berkali kalian pernah menguliti kulit bawang berusaha
menangkap nama yang sembunyi di tipis tabir ari

bertemu nama serupa menyalakan api dengan kayu
basah di tapal batas ragu –di terus berputarnya kincir waktu–

melewati delapan penjuru mata badai memang ada
nama kalian sua; mungil namun rahimnya bermakna

dengan sungguh sekali tangan melambai
lalu langkah mendekat harap coba mengikat

retak hati adalah cangkir di bibir hari ini
nama itu bukan nama kalian yang terpatri

Karena Corona

waktu kau kirim pesan tentang kedatangannya, orang tua
kami menepuk dada lalu mendongeng tentang jahe-merica-pala
yang konon adalah benteng nusantara perkasa
dalam hadang, dalam kembang.

waktu kau kirim penghalang muka agar mulut-hidung merdeka
dari kedatangannya, anak-anak dininabobokkan agar tenang
tak panik menghirup udara, tak segan lepaskannya,
tak jatuhkan nilai mata uang negeri tercinta.

waktu pemimpin-pemimpin dunia memaksa agar bapak-ibu kita
menutup pintu dan jendela negara serapat-rapatnya, kita
baru terbatuk dan tersengal ditikam berita-berita
tentang jatuh korban, sekolah yang diliburkan,
penghentian-penundaan sekian agenda perjalanan

waktu kau kabarkan tentang moratorium ke tanah suci
harusnya kita telah pahami bahwa bahaya virus ini
nyata sekali, nyata sekali, nyata sekali

Wocoen   Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

Selepas Tandas Segelas Kopi

mungkin kali ini aku harus mengiyakan, Ibu
selepas tandas segelas kopi, hujan pun pergi,
lantas semua bernyanyi dalam kord nada tak kupahami
dengan lirik-lirik meninggalkan bumi

memang di meja masih tersisa; singkong rebus dan juga
kenangan-kenangan berperca. tetapi semua justru serupa
sabit tajam yang membabat lantak kesenangan-kesenangan
; sesuatu yang sedikit ku punya saat kau lahirkan

lantas ku jatuhkan diri, memeluk kaki, menciup jari-jari,
di bawahmu aku tak miliki apa-apa lagi. selain mimpi,
untuk membalas apa-apa yang terberi dan mengusir sunyi
di puluhan usiamu yang telah pergi.

selepas tandas segelas kopi, aku akan menulis puisi

Tags

Anjrah Lelono Broto

Karyanya sudah dipublikasikan di berbagai media ternama, baik cetak maupun online. Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA)

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close