Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Lakon Menang Keri

Muhamad Isbah Habibii 58 sec read 2 views

Dalam hidup yang penuh persaingan ini, ada banyak cara untuk menghibur diri kala seseorang kalah dalam persaingan. Salah satunya adalah dengan mewiridkan “lakon menang keri”, letak kemenangan tokoh protagonis ada di akhir.

Kekecewaan dalam hati pun perlahan mereda ketika kata ini diucapkan. Padahal belum tentu dia akan benar-benar akan menemui kemenangan di masa depan. Atau, belum tentu juga ia yang menghibur diri dengan kata-kata tersebut adalah “lakon” dari persaingan itu, yang bakal diganjar dengan sebuah kemenangan di akhir.

Anggapan “kemenangan tokoh protagonis ada di akhir” pun tidak benar-benar amat. Banyak refrensi film yang bisa jadi anti thesis dari anggapan tadi.

Misal film one punch man, Saitama sebagai seorang hero selalu menemui kemenangan, di awal pertarungan, dengan sekali hantam musuh pun menemui ajalnya. Dalam film ini dari awal sampai akhir menyuguhkan kemenangan demi kemenangan, namun begitu tidak mengurangi keseruan dari filmnya sendiri. Jadi “lakon” boleh menang kapanpun, tidak harus selalu di akhir.

Dalam film dengan genre yang bukan pertarungan pun banyak menyajikan kemenangan tidak di akhir saja. Seperti film 3 idiot, ‘Rancho’ Shamaldas Chanchad dari awal film sudah “menang”, walaupun memang di akhir film “kemenangan” yang lebih besar juga ditampilkan.

Bahkan, film-film yang memiliki bad ending sangat bertolak belakang dengan asumsi bahwa “lakon” selalu menang di akhir. Karena “lakon menang keri” hanyalah hiburan yang bagi beberapa orang selalu mampu membangkitkan optimisme.

Sebenarnya kehidupan yang fana ini pun, bagi setiap orang akan selalu diakhiri dengan kematian. Konon alam semesta sendiri dalam beberapa kepercayaan akan berakhir dengan sebuah kehancuran.

Maka, penulis disini bukan mau menentang atau anti dengan adagium “lakon menang keri”. Namun menentang anggapan bahwa hidup adalah persaingan. Untuk apa hidup sekali hanya digunakan sebagai persaingan?

Wocoen   Manajemen Waktu
Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.