Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

Lamcing, Dosa Gak Sih?

Dedi Mumtazul Umam 2 min read 3 views

Salat adalah ibadah yang merupakan kewajiban bagi tiap umat Islam dan juga termasuk salah satu dari rukun Islam. Dalam lingkungan sekitar kita, sering kali kita mendapati beragam fenomena masyarakat. Salah satunya adalah yang kerap kali ditemukan di masyarakat, biasanya kita menyebutnya dengan istilah Lamcing.

Lamcing adalah singkatan dari Salam plencing . Istilah tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti setelah salam (salat) langsung bergegas “lari” atau keluar meninggalkan tempat salat. Hal ini dapat dijumpai di berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa juga ada.

Fenomena lamcing ini juga mendapat berbagai pandangan dari masyarakat. Ada yang memaklumi, ada yang b aja, ada yang emosi, ada yang menjelek-jelekkan dan sebagainya.

Beberapa orang yang menganggap hal tersebut tidak pantas dilakukan biasanya mereka mengambil dasar dari suatu dawuh seorang sufi bahwa barang siapa yang tidak memiliki wirid berarti ia sama halnya dengan seekor kera atau monyet. Dari dasar inilah biasanya beberapa orang menganggap bahwa lamcing adalah hal yang tidak pantas dilakukan.

Ada juga yang menganggap hal tersebut biasa saja. Setiap orang pasti punya alasannya masing-masing hingga melakukan hal tersebut. Bisa jadi mereka ada kepentingan yang mendadak yang harus segera mereka lakukan sehingga mungkin saja orang tersebut melakukan wirid di rumahnya. Atau mungkin juga gara-gara kebelet buang hajat. Atau mungkin ada hal lain yang bisa menjadi alasan masing-masing dari mereka melakukan lamcing .

Ada suatu kisah seorang sahabat pada zaman Rasulullah saw., yang langsung bergegas keluar tempat salat dan tidak menunggu hingga selesai zikir bersama Rasulullah. Rasulullah yang menyaksikan hal tersebut berhari-hari setiap sehabis salat shubuh penasaran hingga akhirnya beliau menanyakan apa alasan ia langsung bergegas setelah salat shubuh. Ternyata alasannya adalah karena ada pohon kurma tetangga yang dahannya menjulang hingga depan rumahnya sehingga setiap pagi karna tertiup angin, buahnya jatuh rontok di depan rumahnya.

Wocoen   Islam Adalah Agama Cinta Kasih

Karena ia tidak mau sampai anak-anak nya memakan barang haram, maka setiap selesai salat shubuh ia bergegas pulang ke rumahnya guna menyingkirkan rontokan buah kurma tersebut dari depan rumahnya, sebelum anak-anaknya bangun dan memakannya. Kemudian esok harinya Rasulullah berbincang dengan pemilik pohon kurma itu dan bermaksud untuk membelinya dengan harga sepuluh kali lipat. Tetapi pemiliknya berkata bahwa tidak mau dibeli dengan sistem jatuh tempo, ia meminta dibeli dengan sekali bayar pada hari itu juga.

Kemudian kebetulan sahabat Abu Bakar lewat dan mengetahui Rasulullah di situ lalu menanyakan ada apa dan Rasulullah pun menjelaskan perkaranya. Setelah mengetahui perkaranya, akhirnya Abu Bakar ra., membeli pohon itu dengan harga tersebut dan dibayar waktu itu juga sepenuhnya. Setelah dibeli, Abu Bakar memberikan pohon tersebut kepada sahabat yang selalu bergegas setelah salat shubuh tadi agar ia tenang dan tidak takut anaknya memakan buah jatuh yang bukan miliknya tadi.
Nah, dari kisah tadi dapat disimpulkan bahwasannya kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lamcing. Jika penasaran lebih baik langsung ditanyakan kepada yang bersangkutan, bukan malah jadi bahan rasan-rasan .

Fenomena lamcing pada zaman nabi tadi sangat jelas. Jika dilihat dari alasan mereka melakukan tindakan tersebut. Masyarakat muslim pada zaman itu masih sangat kuat tingkat keimanan dan ketakwaannya. Ya wajar, karena pada waktu itu masyarakat muslim masih kental dengan ajaran islam yang diajarkan juga secara langsung oleh Rasulullah.

Namun, bagaimana dengan fenomena lamcing yang terjadi pada zaman sekarang ini? Yang mana jika dibandingkan dengan zaman Rasulullah pastinya sudah bergeser sangat jauh. Orang yang sudah mau berjamaah, di masjid pula itu sudah sangat “Alhamdulillah” lho. Daripada tidak sama sekali. Orang yang mau jamaah saja sudah tidak sebanyak dulu. Lha ini orang sudah mau salat berjamaah, di masjid pula, masih di anggap jelek atau tidak pantas kalau tidak berzikir atau wiridan terlebih dahulu setelah salat jamaah.

Wocoen   Benarkah Nabi Muhammad itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Oknum-oknum yang banyak melakukan hal ini adalah masyarakat pada kelas remaja. Beberapa dari remaja ini adalah termasuk orang NU yang salah satu amaliyah hariannya adalah wirid setelah salat maktubah. Lantas, apakah pemuda NU yang tidak berzikir setelah salat dianggap tidak NU lagi atau tidak boleh mengaku-ngaku bahwa dirinya NU? Tentu saja boleh. Toh, ya masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan sesuai kemampuan mereka. Yang penting kan masih mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dedi Mumtazul Umam
Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.