Logika,Tirakat dan Barokah

Sering kita jumpai dari kalangan cendekia, saintis, bahkan jurnalis yang berkomunikasi dengan tutur teratur, rapi & intelek, bahkan berlogat khas bahasa resmi, mayoritas hal ini disebabkan terpengaruh oleh kebiasaan sehari-hari yang karenanya mereka selalu berhubungan dengan data, informasi, dan fakta. Tentu juga hal ini dikarenakan mereka adalah kalangan yang unggul dalam tingkat kecerdasan logikanya.

Aristoteles mengungkapkan logika adalah ajaran mengenai berpikir secara ilmiah yang membahas wujud pikiran itu sendiri dan hukum yang mengendalikan pikiran. Sedangkan William Alston menjabarkan logika adalah pengkajian atau studi terkait penyimpulan secara cermat upaya untuk memutuskan segala ukuran guna memilah penyimpulan mana yang sah dan mana yang tidak sah.

Jadi bila otak, rasional, dan ukuran nyata yang menjadi tolak ukur seorang yang memang karenanya unggul dari segi tersebut mendapat justice dari kalangan agamis maka sudah dipastikan bakal terjadi perdebatan panjang.

Seperti konten-konten yang viral pada akhir-akhir ini, antara kaum yang agamis dan rasionalis. Keduanya melakukan perdebatan panjang dengan mempercayai karakteristiknya masing-masing. Orang yang rasional mempunyai metode tersendiri dalam mencapai sebuah keyakinan, sedangkan kaum agamis mempunyai metode tersendiri pada hal tersebut yang biasanya dilakukan dengan tirakat atau mencari keberkahan.

Tirakat para kaum santri dan para murid thoriqin pada khususnya, sangat erat kaitannya dengan proses pencarian & pemahaman ilmu yang notabene menghilir dari para asatid mereka. Jadi demi hasil pencapaian ilmu tertinggi, bahkan sebagian mereka agar memperoleh kelebihan/kesaktian tertentu, mereka memaksimalkan usaha mereka dengan berbagai metode, seperti : Puasa,Wirid, hafdhun nafsi, dan masih banyak yg lainnya, dapat diartikan dari sekian metode tersebut dengan kata tirakat. Bahkan kaum awam pada umumnya melekatkan predikat bertapa pada orang yg melakukan tirakat

Kemudian ada Barokah, berbicara tentang agamis, sebenarnya agamis sendiri berarti seseorang yg memegang erat panji agamanya, namun kata-kata barokah seolah melekat pada salah satu agama/kelompok yg notabene dilekatkan pada kaum islam. Jadi dalam tubuh islam sendiri khususnya para pencari ilmu di pesantren (santri), mereka mempunyai suatu keyakinan tertentu “BİLA AKU DIRIDHOI MAKA AKU BISA”, Presepsi demikian hampir semua santri tertancap kalimat tersebut, sehingga mereka beranggapan dari apa yg akan dilakukannya sesuai dengan ridho gurunya, maka ia akan berhasil. Pada titik ini akan ada presepsi “aku oleh barokahe guruku”(aku mendapatkan barokah dari ridho guru)

Dari ketiga hal di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesemuanya sejatinya adalah sama, orang yang berlogika berpendapat untuk mempengaruhi seseorang dengan membuat yakin seseorang bisa dilakukan dengan mensugesti pasien atau mensugesti dirinya sendiri. Orang yang agamis dapat mempengaruhi pola pikir atau keyakinan pada dirinya sendiri dengan menggunakan metode tirakat, atau dengan mencari keberkahan.

Jadi tidak ada bedanya antara ketiganya, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan, yang membedakan adalah hanya sebuah metode yang digunakan dalam mencapai keyakinan tersebut.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.