Suhanggono Tukang ngamati media sosial. Lahir di desa Wonoenggal, Kabupaten Purworejo Jateng.

Lomba di Tengah Pandemi

Suhanggono 1 min read 7 views

Ketika membaca berita keterangan Mendagri beberapa waktu yang lalu, kita mendapati hal yang mengecewakan sekali. Bagaimana tidak, judulnya saja sudah menjadi kehebohan. Dibaca oleh publik sebagai penghamburan uang ratusan milyar, hanya untuk perlombaan video new normal saja. Menggelikan. Apakah ini kebutaan orang-orang istana atas ketidakberesan prakerja misalnya. Hanya sampai gelombang ketiga dilaksanakan, setelahnya terhenti total. Entah sampai kapan gelombang keempat itu dibuka lagi.

Perlombaan ini ternyata dilakukan oleh beberapa kementerian antara lain : Kemendagri, Kemenkeu, Kemenkes, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kemen PANRB, Kemendag dan BNPP. Lomba dibagi menjadi tujuh kategori berdasarkan tujuh sektor kehidupan, yakni pasar tradisional, pasar modern, hotel, restoran, tempat wisata, transportasi publik, dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).
Belum lagi masalah pada dana yang dijanjikan, perbulan kartu Prakerja saja sampai kini belum cair sepenuhnya. Padahal orang-orang yang sudah ikut sejak gelombang pertama sampai ketiga, sudah banyak menyelesaikan syarat-syaratnya. Akan tetapi dengan penuh kejanggalan, semisal kursus yang ditawarkan ternyata sekian puluh persen produk gratisan. Di mana kita bisa menemukan di internet.

Apa kaitannya dengan keputusan Pak Tito di atas, adalah pemborosan yang harusnya bisa digunakan untuk hal bermanfaat. Kita masih suka membaca keluhan mereka yang ingin tes Covid-19 tetapi harus membayar. Bukan hanya ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Yang membuat bingung itu, mengapa bisa ada yang mahal dan murah dalam perbandingannya.
Lama-lama kita capek juga negara makin lama makin lucu. Di mana kelucuan itu termasuk listrik bisa naik walau tak terpakai. Gila. Perampok gaya “putih” belum menjadi kriminalitas. Sangat heran juga, padahal banyak orang mengeluhkan hal yang sama.

Wocoen   Islam dan Semangat Pembebasan (Bagian Dua)

Belakangan dengan adanya perkembangan politik, kita menyaksikan Presiden memarahi para menterinya. Lagi-lagi persoalan anggaran yang kurang diserap. Hanya sedikit saja yang baru dikeluarkan. Anggaran negara menjadi soal yang sangat sensitif sekali. Andaikata anggaran itu keluar semua, siapa yang akan menjamin sekian ratus juta rakyat bisa menikmatinya. Sebaliknya tindakan Pak Tito ini sungguh aneh mengatasi pandemi tetapi dengan perlombaan. Namun bagaimanapun itulah kenyataannya, kita nampak sekali dibodohi.

Ada baiknya kementerian tersebut fokus saja untuk memberikan bantuannya dengan konkret. Supaya lekas digunakan oleh rakyat. Tidak lagi bermain api soal anggaran. Apalagi ditengah pandemi begini banyak masyarakat yang memerlukan pendanaan yang cepat dan tepat sasaran.

Agar perekonomian di masyarakat berjalan semestinya. Kalau tak demikian, maka akan tersendat.

Suhanggono
Suhanggono Tukang ngamati media sosial. Lahir di desa Wonoenggal, Kabupaten Purworejo Jateng.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.