Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Manajemen Waktu

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 3 views

Pada tulisan ini, saya akan membahas sedikit tentang manajemen waktu. Saya akan memulainya dengan sedikit mengaitkannya dengan dunia yang saat ini dekat dengan saya, yakni santri.

Manajemen waktu selama ini identik dimiliki oleh para akademisi yang non-santri, sedang santri lebih sering mendapatkan stigma sebaliknya. Konon pengelolaan waktu yang baik dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kinerja dan kariernya. Memiliki keterampilan manajemen waktu pada akhirnya dapat mengarahkan seseorang pencapaian tujuan utama dan memajukan posisi dalam karirnya.

Bagi sebagian orang, santri lebih meninggalkan kesan bahwa ia memiliki manajemen waktu yang buruk, sulit untuk menjadi disiplin, lelet, gemar terlambat. Tentu stigma-stigma ini belum tentu bisa dibenarkan keseluruhannya. Apalagi sangat tidak dibenarkan bila sampai menggeneralisir bila semua santri memang bertipikal seperti itu.

Layaknya gambaran individu yang ada di dalam masyarakat, masing-masing santri memiliki tipikal yang berbeda-beda. Ada yang giat dan ada yang pemalas, ada yang terencana dan ada yang mengalir apa adanya, ada memiliki manajemen waktu yang baik dan ada pula yang memiliki manajemen waktu yang buruk.

Lelah mental yang kebanyakan jadi alasan seseorang menjadi bermalas-malasan, dan kuatnya prinsip dan cita-cita yang menjadikan seseorang bertekad untuk memiliki hidup yang teratur, terencana dan disiplin. Para kiai sendiri sebagai role model pesantren, lahir dari pribadi yang rajin, disiplin dan memiliki manajemen waktu yang baik.

Bagi perusahaan dan pendidikan formal, pengelolaan waktu yang baik sangat amat ditekankan untuk dimiliki oleh semua anggotanya. Tidak heran lalu pelatihan-pelatihan yang mereka selenggarakan memiliki tema “time management” atau “manajemen waktu”. Setidaknya akan jadi materi yang diselipkan, kalau seandainya tidak dijadikan tema dari pelatihan.

Wocoen   Tips & Trik Sayang pada Diri Sendiri

Kesepakatan bahwa disiplin waktu bergaris lurus dengan hasil yang akan dicapai, nampaknya bukan hanya ada dalam dunia pendidikan dan perusahaan saja. Namun, dalam prinsip keagamaan pun juga turut bersepakat demikian.

Imam Ghazali menasehati dalam kitab Bidayatul Hidayah, ketika seseorang ingin membangun komitmen bertakwa. “Engkau tidak akan mampu untuk bersungguh-sungguh dan berhati-hati, kecuali dengan cara membagi-bagi waktumu, menjadwal semua wirid-wiridmu sedari pagi hingga sore hari”.

Dengan kata lain, takwa sendiri tidak akan berhasil dilakukan maksimal, tanpa adanya manajemen waktu yang baik. Bisa juga diambil kesimpulan, sufi sendiri juga perlu manajemen waktu yang baik. Tanpa adanya manajemen waktu yang baik, wirid akan terlantar dan berantakan.

Tidak heran, ada teman dulu yang suatu saat dia terkantuk-kantuk waktu kuliah pagi. Padahal biasanya tidak demikian, ia termasuk mahasiswa yang semangat dalam mengikuti perkuliahan.

Belakangan baru diketahui bahwa hal ini disebabkan kacaunya manajemen waktunya di hari itu, ada agenda “laki-laki” yang dia lakukan diluar apa yang ia rencanakan. Akibatnya, ketika memasuki perkuliahan ia kelelahan, hingga terkantuk-kantuk. Dari sini penting pula menjadwalkan onani bagi mereka yang masih berkebutuhan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.