Manusia Boleh Berencana, Saldo yang Menentukan

Beberapa tahun yang lalu saya dan istri membeli sebidang tanah beserta bangunannya di sebuah daerah strategis dekat pusat kota. Di umur saya yang masih arek-arek’an ini, kelihatannya memang keren bisa beli rumah besar dan bisnisable.

Namun pemirsa cuma tahu kerennya saja. Belum tahu betapa cicilannya sangat merusak nafsu shopping kami —walaupun sekadar scrolling barang-barang di situs jual beli online sudah ndak nafsu, belum tahu harus menyusahkan orang tua dulu, harus ngedol (baca: jual) sawah dulu, ngedol mobil dulu, saldo tabungan yang akhirnya sampai harus kering kerontang dulu, hingga nderomos banting tulang dulu.

Secara matematis, saya merasa cukup tenang karena bisa berinvestasi dengan adanya tanah dan bangunan tersebut karena tidak perlu mengontrak rumah untuk tempat tinggal. Saya tenang —misal dari sudut pandang sebagai pelaku usaha, juga karena tidak perlu menghabiskan banyak modal kontrak tempat usaha dan bisa untuk jangka panjang.

Pada zaman yang semakin materialistis, berpikir investasi adalah hal yang lumrah. Seseorang terdorong untuk menguasai aset-aset tertentu dengan jalan dan kekuatan yang dimiliki.

Dalam konteks lain, terhadap anak saja seseorang sudah berperilaku sebagai investor. Lha piye, menyekolahkan anak-anaknya sedari kecil hingga sarjana dan berharap agar bisa menjadi orang baik serta mendapatkan pekerjaan yang layak, itu berarti juga termasuk berlaku investatif to?

Memang watak investor adalah watak dasar manusia sebagai makhluk yang lihubbil khairi lasyadiid, makhluk yang cintanya terhadap harta betul-betul berlebihan, sebelum diasupi pengetahuan tentang tasawuf, tentang ilmu ikhlas, dan qanaah atau neriman. Bersama dengan itu juga termasuk keinginan untuk menguasai, mengendalikan sesuatu, dan memanfaatkan pihak lain —terlepas secara zalim atau tidak. Bahasa singkatnya adalah kapitalisme.

Hal tersebut didasari oleh rasa takut yang sebenarnya sederhana; ketakutan akan kemiskinan dan hinaan. Ya, kita takut sekali dengan hujatan netizen. Obsesi manusia-manusia industri 4.0 —juga society 5.0 atau apapun itu istilahnya, adalah mengumpulkan cuan dan tepuk tangan sebanyak-banyaknya dari netizen.

Demi pencetus makan mi instan pakai nasi, belum pernah ada zaman yang masyarakatnya sebegitu takutnya dengan miskin dan mati daripada zaman ini, yang orang-orangnya gemar menjargonkan kegemerlapan istilah-istilah ilmiah society 5.0 di seminar-seminar yang megah. Belum pernah ada masa yang orang-orangnya seberlebih-lebihan dan nggragas ini. “Sebelas dua belas”-nya Firaun, Qarun dan Namrud.

Lha piye, berbisnis PCR di tengah musibah pandemi adalah kelakuan orang-orang yang ndelodok’e ra kathok’an. Benar-benar Qarun banget. Teganya benar-benar sudah level kelurahan.

***

The power of cicilan. Rupanya kata mutiara ini yang diam-diam juga memengaruhi cara berpikir kami, saya dan istri, dalam menjalankan usaha di tempat yang kami sebut investasi ini. Karena sudah tidak mempunyai cicilan, kami berbisnis secara slow.

Saya membuka warung kecil-kecilan. Ya, kecil-kecilan. Sehingga tidak membutuhkan modal besar. Modal kami sudah terkuras habis di awal.

Jika agamawan mengatakan bahwa manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan, maka orang-orang revolusi 4.0 juga mengatakan, “manusia boleh berencana, namun saldolah yang menentukan”. Sehingga kami memilih menjalankan usaha dengan mode hemat saja.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Secara empiris, rakyat miskin boleh berusaha untuk kaya, namun tetaplah konglomerat dan korporat yang menentukan. Mahasiswa boleh berencana, tapi dosen dan civitas akademiklah yang memutuskan. Begitulah kura-kura.

Walaupun masyarakat kecil berusaha sekuat Ultraman, mereka akan tetap miskin jika memang kemiskinan struktural ini telah terdukung melalui kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak memihak kroco-kroco.

Masyarakat boleh berencana menanam pohon. Namun walaupun Spongebob Squarepants dan Patrick Star hingga bisa bernafas di daratan, pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan pemodal dan oligarkhi tetap akan jalan terus. Setelah terjadi banjir dan tanah longsor lalu menyalahkan alam.

Pada zaman industrial, modallah yang menentukan. Semua bisa diatur melalui kekuatan saldo.

Mahasiswa semester akhir tidak perlu mengerjakan tugas akhir jika punya modal untuk membeli skripsi. Seorang sipil yang ingin jadi aparatur negara tidak perlu melalui tahapan proses yang rumit jika memiliki saldo yang pantas.

Seseorang yang prinsipil dan idealistis serta tidak mau terdikte dengan kekuatan dana, ia akan beresiko “terkoyak-koyak sepi” dalam kehidupan yang serba duniawi. Ulama dan orang-orang pesantren yang tidak mau disetir oleh kekuasaan akan terasing dari kehidupan industri —kecuali akan tetap tenar di kalangannya sendiri. Seseorang yang tidak mempunyai dana dan face yang instagramable, siap-siap jumlah followernya sama seperti jumlah umat Nabi Nuh yang selamat dari tsunami.

Menjadi sangat ideal jika pemaknaan zuhud pada masa kini adalah berlaku sederhana. Kuluu wasyrabuu wa laa tusrifuu, bahwa dalam urusan makan dan minum —atau dalam segala hal, seseorang sangat patut berperilaku tidak berlebih-lebihan. Ya, konsep zuhud pada era industrial adalah berperilaku sederhana dalam segala hal.

Saya termasuk orang yang harus menanggung beban keterasingan tersebut. Hehe.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hanif N. Isa 19 Articles
Mas-mas biasa.

1 Comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.