Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Manusia Kalah Menang

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

manusia-menang-kalah

[dropcap]E[/dropcap]Ntah mulai kapan, banyak yang beranggapan menang sama dengan benar, sedangkan kalah sama dengan salah. Dalam perdebatan dan persidangan -yang membutuhkan nilai kebenaran- pun tercemari pikiran bahwa yang menang adalah yang benar. Tentu tidak demikian, menang hanya mengindikasikan bahwa dia tidak kalah, itu saja, titik. Tidak ada sangkut pautnya antara benar dan menang. Hanya saja di film-film dan berbagai khazanah cerita penuh moral mengatakan bahwa yang benar pasti akan menang, padahal kalau dipikir ulang pernyataan tadi kurang tepat, yang benar adalah yang menang pasti tidak kalah.

Dalam perdebatan pun menang tidak menunjukkan bahwa dia benar, hanya saja dari sana dapat diketahui seberapa cerdas dan tenangnya pikiran si pemenang, itu saja. Teman-teman yang jago dalam lomba debat saya rasa lebih memahami itu. Argumen hanya berfungsi sebagai penguat pendapat diri sendiri dan pelemah pendapat orang lain, bukan pembenar dan penyalah.

Menang kalah lahir sebab ada pertarungan atau persaingan atau perlawanan atau perlombaan. Maka apakah tepat menguji kebenaran dengan cara mencari pemenangnya? berdebat misalnya, atau adu argumen? saya rasa kalah dan menang memang tidak bisa mengukur benar dan salah.

Dalam kriteria seorang pemimpin ada dua hal yang paling penting baik dan benar. Selain berwawasan yang tinggi serta punya daya inovatif, saya rasa bertingkah laku dan selalu mempunyai keputusan yang benar dan baik adalah sosok pemimpin yang diidam-idamkan ,sayangnya pemimpin kita masih ditentukan dengan sistem menang dan kalah. Oleh karenanya para pemimpin kita adalah seorang pemenang, entah menang dengan cara yang baik atau tidak. Hal yang pasti dia memenangkan pemilu, urusan dia itu orang baik dan orang benar itu untung-untungan itupun cuma bonus saja.

Bahkan sejarah yang ditulispun adalah sejarah fersi para pemenang, adapun sejarah yang ditulis oleh orang-orang yang kalah masih sangat dicurigai dan dikritisi kebenarannya.

Maka saya rasa debat kusir yang tidak punya ujung adalah hal yang sangat tidak berguna dalam pembuktian siapa yang benar dan siapa yang salah. Debat semacam itu malah cenderung akan menyulut api permusuhan. Sekali lagi, perdebatan hanya membuktikan siapa yang pintar berargumen itu saja.

Persidangan oleh manusia pun masih memakai gaya menang dan kalah, oleh sebab itu hasilnya akan berbeda saat orang yang disidang memakai bantuan pengacara dan saat tidak pakai pengacara, berbeda pula hasilnya jika pengacara adalah pengacara kondang dan pengacara kelas kacangan.

Dalam pendidikan pun, menang dan kalah masih sangat digemari. Dengan dalih fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kenapa yang ditanamkan adalah persingan, kenapa tidak cinta yang ditanamkan? kenapa? sistem rangking, sekolah favorit, dan segala hal yang dimotifasi oleh menang dan kalah, apakah semua itu perlu dipertanyakan dan kaji ulang???

“Hidup adalah persaingan” kata siapa???? tidak, hidup bukan lah persaingan, “Hidup cuma lah mampir nyeduh secangkir kopi”

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.