Manusia Kurang Dolan

Berabad-abad silam, sunan Kalijaga sudah bertutur “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman“, jangan mudah terpukau, jangan mudah menyesal, jangan mudah terheran-heran, jangan manja. Tutur yang memang patut untuk terus dipegang dan diterapkan dalam kehidupan.

Terlebih bagi orang-orang yang memiliki kesempatan untuk berkelana ke tempat-tempat yang berbeda. Ia akan berkesempatan melihat hal-hal baru, sudah tentu bukan hanya hal-hal yang memukau saja yang dilihatnya, tapi juga hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam nilai idealnya.

Bak katak yang keluar dari tempurung, orang akan menyadari bahwa dunia ini tidak sesempit yang dia kira. Ada banyak hal baru yang perlu bertabrakan dengan apa sudah ada dalam benaknya.

Sebab itu, bila seseorang “kurang dolan“, atau kurang memahami keragaman, ia akan mudah kaget. Entah kagetnya karena kagum dengan hal yang baru dilihatnya, atau karena tidak setuju dengan hal yang baru tadi.

Bila ia kagum maka ia akan dengan mudah memandang jelek pada tempat asalnya yang tidak memiliki nilai yang seperti itu. Tapi, bila ia tidak setuju dengan hal yang baru dilihatnya, maka ia akan dengan mudah membenci dan mencela-cela tempat yang baru tersebut dan membanding-bandingkan dengan kampung halamannya.

Padahal manusia itu harus “dowo pikire“, berpikir panjang dan mendalam sebelum memberikan penilaian. Dengan begitu, ketika ia memberikan penilaian, akan ada dua nilai, yang pertama nilai positif yang ada pada barang yang dinilai. Yang kedua nilai negatif yang terkandung di dalamnya.

“Kurang dolan” atau tidak memahami keberagaman juga membuat orang memiliki semangat purifikasi. Sebab ia kagum dengan tempat baru, lalu ia memiliki keinginan kuat mengubah tempat lama jadi seperti tempat barunya. Atau, sebab tidak setuju dengan nilai yang berlaku di tempat baru, lalu ia memiliki keinginan kuat untuk mengubah tempat baru menerapkan nilai yang sama dengan tempat lama.

Ia tidak peduli bahwa di semua tempat pasti memiliki nilai positif dan negatifnya sendiri-sendiri. Tapi matanya sudah tertutup karena kekagumannya atau ketidaksetujuannya.

Padahal untuk memperbaiki kita tidak boleh “membakar” habis suatu tempat. Tapi seharusnya menjaga nilai-nilai baik yang sudah ada di tempat tersebut, lalu mengubah nilai yang tidak baik. Itupun dengan cara pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa.

Orang “kurang dolan” tidak biasa melihat keberagaman, tidak bisa melihat dengan kacamata positif, dan tidak bisa melihat nilai positif pada suatu tempat. Entah itu pada tempat barunya ataupun pada tempatnya yang lama.

Oleh sebab itulah ia gampang terpesona dan kaget. Tapi kacamata positif ini tidak melulu tertutup, dan tidak melulu terbuka juga. Itulah yang menyebabkan mencintai satu sisi saja, mencintai tempat baru dan membenci tempat lama, atau mencintai tempat lama dan membenci tempat baru.

Idealnya, kaca mata positif harus selalu terbuka, baik di tempat baru ataupun di tempat lama. Kita biasa mengenalnya dengan sebutan, pandangan objektif. Tempat baru tetap harus dilihat kurang dan lebihnya, tempat lama pun tetap harus dilihat kurang dan lebihnya.

Pun juga, jangan sampai rasa mudah kaget dan kagum membuat seseorang berpikir bahwa kebenaran hanya ada satu. Seperti melihat adanya perbedaan metode mendidik di tempat belajar yang lama dan baru.

Beda bukan berarti yang satu pasti salah, dan yang satu pasti benar. Bisa jadi dua metode yang berbeda, sama-sama bisa mengantarkan anak didiknya menuju keberhasilan dalam belajar. Ukurannya bukan sama dan beda, tapi dilihat seberapa jauh sebuah tempat belajar mampu mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan dari pembelajaran.

Dengan demikian, bukanlah hal yang dapat dibenarkan, bila seseorang menganggap bahwa hanya ada kebenaran tunggal. Harus kita akui bersama bahwa sebuah perbedaan nilai, cara, dan tradisi, yang mana semua itu tidak menentukan benar dan salah.

Ujungnya, orang yang kurang dolan atau memahami berbagai ragam perbedaan itu, ia hanya nyaman dengan tempat-tempat yang memiliki identitas yang sama. Padahal, dunia ini dipenuhi oleh berbagai macam perbedaan.

Sebab itu, bila seseorang hanya nyaman dengan tempat-tempat yang memiliki identitas yang sama, maka ia akan sering merasakan ketidaknyamanan. Karena setiap tempat memiliki keunikannya tersendiri. Keunikan juga berarti sebuah perbedaan, bahkan pembeda yang menjadikan tempat itu berbeda dari tempat lainnya.

Jadi, begitulah kira-kira untung dan ruginya jika menjadi manusia yang “kurang dolan“, atau kurang memahami keragaman. Dunia itu luas, ada banyak hal-hal yang berbeda dengan kondisi ketika ada di dalam tempurung.

About Muhamad Isbah Habibii 44 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.