Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

manusia untung rugi

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

Ijinkan saya dengan lancang membagi-bagi dan mengkategorikan manusia. ketegori pertama (kategori yang lain kapan-kapan aja :v ) adalah manusia yang dalam hidupnya berpatokan pada nilai untung rugi saja. Secara pribadi saya tidak suka dengan orang seprti ini, dan cenderung tidak cocok.

Orang seperti ini dalam mencari teman pertimbangan pertamanya adalah “apa keuntungan bagiku berteman dengan dia dan apa ruginya aku berteman dengannya”. biasanya, ketika butuh dia muncul dan ketika sudah tidak butuh dia hilang. Ketika dia baik ke orang lain pun harus ada untungnya buat dia, harus ada bunganya kalau memberi pinjaman hutang, harus ada ongkos sewanya kalau meminjami barang, harus balik menolong dia kalau berupa kerja suka rela.

Orang seperti ini ketika jadi bupati (contoh) progam kerja utamanya adalah balikin modal yang dikeluarkan ketika kampanye. Kalau jadi pedagang yang dipikir adalah bagaimana caranya bermodal sedikit-dikitnya dengan untung sebanyak-banyaknya, gak peduli dengan pedagang yang lebih kecil atau pedagang yang lain.

Ketika beribadah pun juga harus untung dan gak mau rugi, jadi milih yang ibadahnya sedikit tapi labanya banyak, saya ragu orang seperti ini mau ngeluarin duwit gede buat shodaqoh. Bahkan di antara orang-orang yang berprinsip untung dan rugi ada yang merasa sudah punya kaplingan surga, tak jarang sikapnya pun sudah kayak orang yang masuk surga sendiri.

Ketika akan membaca buku pun, bisa ditebak pertimbangannya adalah buku ini merugikan atau menguntungkan, bukan pake pertimbangan buku ini bagus atau buruk untuk dibaca. Maka jangan kaget orang seperti ini konsep hidupnya adalah aji mumpung, yah mumpung jadi lurah bisa menyisihkan sedikit dana pembangunan, yah mumpung jadi presiden bisa meng-acc bisnis-bisnisnya lumayan buat dana pensiun, yah mumpung jadi polisi bisa nilang orang lumayan bisa buat jajan.

Wocoen   Kemesraan yang Sering Disalahpahami

Bagusnya, orang seperti ini selalu jadi orang pertama yang menghujat para koruptor, tapi ya gitu, bukan gara-gara koruptor itu jahat, tapi gara-gara hasil korupsi yang dibagi-bagi ke dia. Menjatuhkan satu rezim pun bukan gara-gara rezimnya bobrok, tapi gara-gara dia sendiri pengen kursi. Bahkan ketika ketemu temenya menuntun motor di jalan karena ban bocor, dia jalan tak peduli dan sembunyi-sembunyi.

Tentu, jarang ditemui orang yang dalam hidupnya full nilai untung rugi dalam menimbang segala sesuatu, pasti ada pertimbangan baik-buruk, benar-salah, menang-kalah, dan indah-jelek juga. Juga tentu manusia juga gak bisa terlepas sepenuhnya dengan nilai untung rugi dalam hidupnya, maka yang paling penting adalah tidak menomer satukan nilai untung dan rugi dalam hidup.

Oleh karenanya berpedoman untung dan rugi itu tidak lah buruk, seperti pedagang, pengusaha, pekerja kan semua perpedoman untung dan rugi ketika mencari nafkah untuk keluarganya. Akan tetapi yang buruk adalah menjadikan untung dan rugi patokan utama dan pertama dalam hidup. Karena jika sudah patokan utamanya adalah rugi dan untung, maka rusak lah agama, politik, pendidikan, moral dan lain sebagainya.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.