Sosial Agama

Mari Bangun Optimisme dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Setelah merasakan #dirumahaja selama beberapa hari dan dijejali informasi yang mengabarkan kengerian-kengerian, akhirnya beberapa dari kita jenuh dan takut membaca atau mendengarkan informasi yang berkaitan dengan corona.

Kejenuhan ini tidak muncul dari rasa tidak percaya dan meremehkan pandemi yang kita alami, namun karena percaya dan menganggapnya tidak main-main.
Beberapa orang yang mentalnya kuat, akan baik-baik saja. Namun beberapa yang tidak memiliki ketahanan mental yang kuat, ia akan mengalami tekanan dan ketakutan berlebih.

Keahlian untuk rebahan yang dimiliki kaum milenial dianggap dapat memberikan imunitas terhadap mental dalam situasi yang mengharuskan kita #dirumahaja. Beraktivitas di rumah yang kadang lebih menjenuhkan, serta ditambah informasi yang seragam, semua mengabarkan kengerian corona.

Entah bagi mereka generasi sebelum milenial apakah benar-benar terganggu dengan pola hidup dan informasi yang seperti ini. Namun bagi para milenial mereka lebih terbiasa dengan pola hidup yang seperti ini, mereka sudah biasa rebahan, dan bila merasa jenuh akan seragamnya informasi yang dijejalkan di dunia internet dan media informasi, berselancar di luasnya internet untuk menerjang informasi yang berbeda pun sudah jadi keahlian mereka. Kaum milenial sudah terbiasa bergelut dan berdamai dengan kebosanan.

Memang harus kita akui dengan sepenuh kesadaran bahwa informasi itu penting, namun sekali lagi bagi yang tidak bermental kuat, kejenuhan ini, sedikit banyak, berdampak buruk pada mental. Jangan heran bila Mbak Nana (Najwa Shihab) dan tim Narasi lalu bikin konser secara daring. Biar orang tidak jenuh untuk #dirumahaja.

Tapi tidak menutup kemungkinan juga, suatu saat bagi para milenial yang bukan nolep, akan jatuh pada titik jenuh juga dengan keadaan yang seperti ini. Keadaan yang serius, yang mungkin kini bagi sebagian masyarakat awam masih dianggap remeh.

Wocoen   Media Sosial di Masa 'New Normal'

Di tengah kebosanan, penulis membuka kitab Al Mawaid al Usfuri karya Syaikh Muhammad bin Abi Bakar, pada hadist ke 22, di sana diceritakan kala Ali sedang dilanda kesusahan hati karena beberapa hal yang dialami olehnya. Lalu Rasulullah bercerita banyak hal, yang pada garis besar menganjurkan untuk bersyukur, berzikir dan menghindari marah. Nasehat ini, menurut penulis mungkin sangat sesuai dengan keadaan saat ini, di mana kita juga tengah mengalami kesusahan hati, sebab pandemi ini.

Dalam kondisi susah atau galau seperti yang sedang kita alami saat ini, bersyukur sangat perlu, karena dengan bersyukur kita akan bisa membangun optimisme dalam menghadapi masalah. Kabarkan berita baik terkait corona untuk mengimbangi berita yang terdengar menakutkan itu, sebagai bentuk syukur kita. Penuhi laman beranda sosial media tentang korban-korban yang berhasil sembuh dan ceritakan bagaimana cara agar kita semua juga akan bisa sembuh juga.

Sebagai orang yang beragama berzikir pun juga perlu kita lakukan, dengan berzikir kita juga merasa melibatkan Tuhan dalam menghadapi masalah ini. Dengan demikian kita tidak akan merasa sendiri, dan akan ada energi lebih untuk berusaha sekuat tenaga dalam menghadapi pademi ini.

Yang terahir perlu lah kita menghilangkan kemarahan dalam hati kita, dengan cara tidak memenuhi beranda medsos kita dengan hujatan-hujatan kebanyak pihak. Karena hujatan tidak akan menghasilkan apa-apa, malah-malah hanya akan membangun serta menumpuk rasa pesimistis dalam benak diri dan para sekutu kita dalam medsos.

Oleh karenanya, mari lah kita berpuasa menahan diri untuk tetap kuat #dirumahaja, menerapkan pola hidup sehat dengan cara cuci tangan sesering mungkin, jaga jarak dengan siapapun bagi mereka yang harus berjuang di luar rumah. Serta penuhi kabar-kabar yang optimis dalam beranda kita bersama.

Wocoen   Sulitnya Tarawih di Rumah Aja
Tags

Muhammad Isbah Habibi

seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close